Cadangan Devisa Masih Kuat, BI Genjot Intervensi Saat Rupiah Melemah Ke Rp18.000

Bank Indonesia memilih memperkuat langkah di pasar ketika rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS. Otoritas moneter itu menegaskan akan terus masuk ke pasar dengan intervensi berlapis agar stabilitas tetap terjaga, sambil membiarkan mekanisme pasar bergerak sesuai fundamental.

Tekanan terhadap rupiah tidak datang dari satu sisi saja. BI melihat sentimen global masih menjadi sumber utama, terutama memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak tetap tinggi dan membuat arus modal dari negara berkembang bergeser.

Dorongan dari luar dan kebutuhan valas di dalam negeri

Di saat tekanan eksternal membesar, kebutuhan valuta asing di dalam negeri juga ikut menambah beban rupiah. BI mencatat siklus tahunan korporasi, mulai dari repatriasi dividen ke luar negeri hingga pembayaran utang luar negeri, ikut meningkatkan permintaan valas di pasar.

Kombinasi faktor itu membuat pelemahan rupiah terasa lebih berat. Meski begitu, BI menilai kondisi tersebut masih bisa dikelola selama intervensi dilakukan secara terukur dan tidak hanya mengandalkan satu instrumen.

Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bank sentral akan meningkatkan intensitas intervensi. Pendekatan yang dipakai dilakukan bertahap di beberapa pasar agar tekanan rupiah bisa diredam dari berbagai sisi.

Intervensi bertahap di beberapa pasar

Langkah pertama dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward di pasar luar negeri. Instrumen ini dipakai untuk meredam tekanan dari sisi eksternal sebelum dilanjutkan ke pasar domestik.

Setelah itu, BI bergerak lewat transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward di dalam negeri. Di saat yang sama, bank sentral juga membeli Surat Berharga Negara di pasar sekunder untuk membantu menjaga stabilitas imbal hasil agar kondisi pasar keuangan tidak terganggu lebih jauh.

BI menilai strategi berlapis penting agar tekanan terhadap rupiah tidak berkembang lebih dalam. Pada saat yang sama, struktur suku bunga pada instrumen moneter yang dinilai pro-market tetap dijaga supaya aset domestik masih menarik bagi investor global.

Pelemahan dinilai masih dalam batas yang bisa diterima

Meski pergerakan rupiah terlihat tajam, BI menilai koreksi yang terjadi masih berada dalam batas kewajaran. Destry menyebut sejumlah mata uang Asia lain juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS yang sedang kuat.

Secara year-to-date, rupiah tercatat melemah 7,44 persen. BI tetap menilai daya tahan eksternal Indonesia masih relatif solid karena cadangan devisa berada di level USD 146,2 miliar pada akhir April 2026.

Cadangan devisa yang terjaga memberi ruang bagi otoritas moneter untuk merespons gejolak pasar. Kondisi itu menjadi penopang penting ketika sentimen global masih sulit diprediksi.

LCT jadi jalur tambahan untuk kurangi tekanan dolar

Selain intervensi langsung, BI dan pemerintah terus mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction atau LCT. Skema ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan bilateral.

Indonesia kini telah menjalin kerja sama LCT dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. BI mencatat nilai transaksi perdagangan melalui LCT pada April 2026 mencapai sekitar USD 22,7 miliar.

Capaian itu hampir menyamai total transaksi sepanjang tahun lalu yang berada di angka USD 25,7 miliar. Perkembangan tersebut menunjukkan diversifikasi transaksi valuta asing mulai memberi hasil, dan BI masih mempertahankan perluasan LCT sebagai salah satu cara untuk menyeimbangkan kebutuhan valas di tengah tekanan rupiah.

Source: www.suara.com

Berita Terkait