5 Kalimat Sederhana agar Anak Berani Minta Bantuan dan Tidak Menyimpan Masalah

Anak yang takut bertanya atau menyembunyikan masalah di internet dapat kehilangan kesempatan mendapat bantuan pada waktu yang tepat. Karena itu, orangtua perlu membangun suasana yang tenang agar anak nyaman berbicara, termasuk saat menghadapi hal yang belum dipahami.

Kepercayaan diri tidak hanya terbentuk melalui pujian atas prestasi. Anak juga perlu belajar mengenali kebutuhan, menyampaikan emosi, mencoba mencari solusi, serta memahami bahwa dirinya tetap berharga.

KalimatManfaat Utama
Aku tidak paham atau aku butuh bantuanMelatih keberanian bertanya
Aku bisa mencari jalan keluarnyaMendorong anak menghadapi tantangan
Aku sedang merasa…Membantu anak mengungkapkan emosi
Pak, Bu, aku boleh lihat ini?Membiasakan pendampingan digital
Aku berartiMenegaskan nilai diri di luar pencapaian

Lima kalimat berikut dapat dikenalkan berulang dalam interaksi sehari-hari. Orangtua tidak perlu mengambil alih seluruh persoalan anak, melainkan hadir sebagai pendamping saat anak belajar menentukan langkah.

1. “Pak, Bu, aku boleh lihat ini?”

Kebiasaan meminta pendampingan menjadi penting ketika anak menggunakan perangkat digital. Anak dapat menjumpai pesan phishing, tautan spam, akun mencurigakan, permintaan mengikuti akun, atau percakapan dari orang asing.

Direktur Eksekutif Health-e-Habits, Jim Festante, menyebut anak kadang memilih menghapus bukti karena malu atau takut perangkatnya disita. Respons yang tidak menghakimi dapat membuat anak lebih berani melapor sebelum masalah berkembang.

2. “Aku sedang merasa…”

Anak perlu mengetahui bahwa marah, sedih, dan kecewa adalah emosi yang boleh dirasakan serta diungkapkan. Kemampuan memberi nama pada perasaan membantu anak memahami keadaan dirinya dengan lebih baik.

Direktur Mental Health and Wellness Mingo Health Solutions, Lakiesha K. Oliver, menekankan bahwa kemampuan mengekspresikan perasaan merupakan fondasi utama kesehatan mental dan kesejahteraan. Saat emosi yang tidak menyenangkan diutarakan, anak dapat belajar mengelolanya tanpa memendamnya sendiri.

3. “Aku tidak paham” atau “aku butuh bantuan”

Mengakui belum memahami instruksi bukan tanda kelemahan. Kalimat ini justru menunjukkan kesadaran diri dan keberanian untuk melanjutkan proses belajar.

Psikiater anak dan remaja dari Psychiatry Connection, Nevada, Sid Khurana, menilai anak perlu yakin bahwa belum memahami sesuatu adalah hal yang wajar. Orangtua dapat memberi contoh dengan membiasakan kalimat, “Ibu, bisa tolong jelaskan sekali lagi?”

4. “Aku bisa mencari jalan keluarnya”

Orangtua sering ingin segera menyelesaikan persoalan yang dihadapi anak. Namun, anak juga membutuhkan kesempatan untuk mencoba memikirkan langkahnya sendiri saat menghadapi tantangan.

Pendiri platform pengasuhan Moms on Call, Jennifer Walker, menyarankan agar anak dibiasakan percaya bahwa mereka mampu menghadapi persoalannya. Dukungan sederhana seperti “Kamu pasti bisa, Nak” dapat berkembang menjadi suara batin positif ketika anak berada dalam situasi sulit.

5. “Aku berarti”

Nilai diri anak tidak seharusnya hanya diukur dari hasil belajar atau pencapaian tertentu. Anak perlu memahami bahwa kehadirannya dapat berarti bagi orang lain, termasuk melalui bantuan kecil yang ia lakukan.

Orangtua dapat mengajak anak membicarakan momen ketika ia merasa bermanfaat atau telah membantu seseorang. Latihan tersebut menumbuhkan rasa berharga secara perlahan dan memberi dasar yang lebih kuat bagi kepercayaan dirinya.

Lifestyle.kompas.com mencatat kalimat-kalimat ini dapat dilatih dalam situasi yang dekat dengan keseharian anak. Respons orangtua yang sabar akan membantu anak berani berbicara, mencoba, dan mencari pertolongan saat membutuhkannya.

Berita Terkait