Olahraga rutin tidak selalu langsung membuat perut buncit mengecil, terutama bila menu setelah latihan dipenuhi gula. Dokter Danielle Kelvas mengingatkan manfaat aktivitas fisik dapat berkurang saat seseorang memilih muffin, pancake, jus, atau kopi manis setelah berolahraga.
Perhatian terhadap sarapan menjadi penting karena latihan hanya satu bagian dari upaya mengatur berat badan. Pilihan makanan setelah bergerak dapat menentukan apakah tubuh mendapat asupan yang mendukung tujuan tersebut atau justru sebaliknya.
Sarapan Setelah Latihan Perlu Diatur
Kelvas menyarankan sumber protein tanpa lemak sebagai pilihan utama setelah berolahraga. Telur termasuk opsi yang disebutkan, kecuali bagi orang yang sedang berupaya menurunkan kadar kolesterol.
Bagi yang ingin tetap mengonsumsi karbohidrat, steel-cut oats dinilai lebih baik daripada oatmeal instan dengan gula tambahan. Yoghurt tanpa pemanis yang dipadukan dengan sedikit madu atau buah juga dapat dipertimbangkan.
Kelvas turut menyebut bakon atau sosis tanpa nitrat sebagai pilihan yang lebih baik daripada memulai hari dengan makanan tinggi gula. Namun, makanan tersebut tetap memiliki kandungan lemak lebih tinggi sehingga kualitas menu secara keseluruhan perlu diperhatikan.
| Fokus | Pilihan yang Disebutkan | Tujuan |
|---|---|---|
| Protein setelah latihan | Telur atau protein tanpa lemak | Mendukung menu setelah berolahraga |
| Karbohidrat pagi | Steel-cut oats | Alternatif oatmeal instan bergula |
| Pilihan pelengkap | Yoghurt tanpa pemanis, madu, atau buah | Menghindari tambahan gula berlebih |
Waktu Latihan yang Mendapat Perhatian
Dalam penjelasannya yang dikutip Kompas.com, Kelvas menilai pukul 07.00 hingga 09.00 sebagai rentang yang dapat dipilih untuk mendukung penurunan berat badan. Waktu tersebut dikaitkan dengan penurunan berat badan yang lebih besar dibandingkan olahraga pada waktu lain.
Olahraga pagi juga disebut dapat membantu memulai metabolisme sejak awal hari. Efek ini berpotensi mendukung penurunan indeks massa tubuh atau BMI, meski hasilnya tidak akan sama pada setiap orang.
Kelvas menegaskan bahwa jam latihan bukan faktor yang boleh mengalahkan konsistensi. “Olahraga kapan pun tetap lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali,” ujarnya.
Angka Timbangan Bukan Satu-Satunya Ukuran
Dokter Farrell mengingatkan bahwa perubahan berat badan tidak selalu menggambarkan kondisi tubuh secara utuh. Massa otot yang menurun perlahan dapat membuat tubuh membakar lebih sedikit kalori setiap hari, meski pola makan tidak berubah.
Nafsu makan yang berubah sepanjang hari juga dapat membuat asupan kalori meningkat tanpa disadari. Kebutuhan protein yang belum terpenuhi menjadi faktor lain yang dapat terlewat bila seseorang hanya terpaku pada angka timbangan.
Karena itu, Farrell menilai komposisi tubuh dan pola makan harian dapat memberi gambaran yang lebih akurat. Upaya mengurangi lemak perut perlu melihat aktivitas fisik, asupan makanan, serta perubahan tubuh secara bersamaan.
Kebiasaan Tambahan yang Dijalankan Kelvas
Kelvas membagikan kebiasaannya menjalani intermittent fasting dengan puasa sekitar 16 jam dari malam hingga pagi. Ia juga mengonsumsi minuman probiotik saat perut kosong dan membatasi kopi hingga maksimal dua cangkir sehari.
Menurut Kelvas, sejumlah penelitian menunjukkan minuman probiotik lebih baik diminum saat perut kosong untuk membantu menjaga kesehatan usus selama proses penurunan berat badan. Meski demikian, pola makan dan olahraga yang dapat dijalankan secara konsisten tetap menjadi dasar dalam mengurangi lemak perut.







