5 Kebiasaan yang Diam-diam Membuat Hidup Terasa Selalu Penuh Drama

Author: Redaksi Android62

Hidup yang terasa penuh drama sering kali tidak lahir dari satu masalah besar, melainkan dari kebiasaan yang terus dipelihara. Dalam banyak kasus, tekanan emosional justru bertahan karena seseorang tanpa sadar terus mencari atau menciptakan ketegangan dalam keseharian.

Salah satu pemicunya adalah rasa nyaman yang muncul dari konflik emosional. Saat pertengkaran dan perbaikan hubungan datang bergantian, kontras emosi itu bisa terasa lebih hidup daripada hubungan yang stabil dan tenang.

Konflik yang terasa akrab

Bagi sebagian orang, drama memberi sensasi intens yang sulit dilepas. Rasa lega setelah konflik mereda sering kali terasa lebih kuat daripada kenyamanan yang muncul dari hubungan yang konsisten.

Pola ini membuat emosi naik-turun terasa seperti sesuatu yang wajar. Akibatnya, ketenangan justru bisa terasa asing, padahal hubungan yang stabil seharusnya memberi ruang yang lebih sehat bagi pikiran dan perasaan.

Masa kecil yang kacau ikut membentuk pola

Akar kebiasaan itu sering kali terbentuk sejak kecil. Tumbuh di lingkungan yang tidak stabil dapat membuat kekacauan terasa normal, sehingga ketenangan justru memunculkan rasa tidak nyaman.

Dr. Scott Lyons, psikolog klinis dan penulis Addicted to Drama, menggambarkan pengalaman masa kecil yang penuh ketidakpastian. Dr. Bessel van der Kolk, penulis The Body Keeps the Score, menjelaskan bahwa orang yang dibesarkan dalam rumah tangga kacau cenderung sangat waspada dan terus memantau ancaman di sekitar mereka.

National Institute of Mental Health mencatat bahwa individu dengan latar belakang seperti itu memiliki kemungkinan dua kali lebih besar terlibat dalam perilaku berisiko tinggi. Risiko tersebut mencakup hubungan dan pilihan karier yang tidak stabil.

Jadwal padat yang justru menambah kekacauan

Drama juga sering dipelihara oleh cara mengatur waktu yang berlebihan. Kalender yang terlalu penuh dapat menciptakan krisis-krisis kecil yang terlihat produktif, tetapi sebenarnya menguras energi.

Psikolog organisasi Dr. Adam Grant menilai orang yang menjadwalkan hidup terlalu padat kerap sedang menciptakan masalah sendiri. Dampaknya memang bisa memberi kepuasan sesaat, namun meninggalkan kelelahan di kemudian hari.

Studi tahun 2023 dalam Journal of Occupational Health Psychology menunjukkan bahwa kelangkaan waktu berkorelasi kuat dengan burnout. Kondisi ini membuat banyak orang makin sulit keluar dari pola hidup yang serba kacau karena kesibukan dianggap sebagai ukuran nilai diri.

Lingkungan yang ikut mempertahankan stres

Tempat tinggal dan lingkungan kerja juga dapat memperkuat suasana batin yang tidak stabil. Dr. Lyons menyadari bahwa kehidupan di kota yang padat dan sibuk justru memperburuk stres yang ia rasakan, dan hal serupa dialami banyak orang lain.

Psikolog lingkungan menilai suasana perkotaan yang penuh rangsangan, kebisingan, dan hubungan sosial yang renggang dapat meningkatkan kecemasan. Penelitian tahun 2023 dalam Journal of Environmental Health bahkan menunjukkan paparan alam dapat menurunkan hormon stres hingga 20 persen.

Namun, tidak semua orang memilih menjauh dari kekacauan yang sudah terasa akrab. Sebagian justru tetap berada di lingkungan yang mencerminkan kondisi batin mereka sendiri, sehingga pola dramatis itu terus berulang.

Ketidakpuasan kerja yang sulit dilepas

Di sisi lain, pekerjaan juga sering menjadi sumber drama yang tidak kalah besar. Laporan Society for Human Resource Management pada 2023 menyebut 55 persen karyawan merasa tidak benar-benar terlibat dalam pekerjaannya, tetapi tetap bertahan di posisi yang tidak memberi kepuasan.

Dr. Lyons menilai situasi itu kerap dipengaruhi rasa takut menghadapi ketidakpuasan yang lebih dalam, terutama setelah pandemi. Laporan Workplace Insight 2023 dari LinkedIn juga mencatat kenaikan 25 persen fenomena quiet quitting, ketika pekerja tetap bekerja tetapi mulai melepaskan keterlibatan emosional dari pekerjaannya.

Kombinasi relasi yang tidak stabil, masa lalu yang kacau, jadwal yang terlalu padat, lingkungan yang penuh stres, dan pekerjaan yang tidak memuaskan membuat drama mudah bertahan. Dalam kondisi seperti itu, ketegangan menjadi kebiasaan yang terus diulang tanpa disadari.

Source: www.beautynesia.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru