Saat perut sedang bermasalah, makanan bertekstur lunak dan rendah lemak dapat membantu mengurangi beban kerja saluran cerna. Cara memasak juga berperan karena bahan yang dikukus, direbus, dipanggang, atau dihaluskan umumnya lebih mudah diterima tubuh.
Pilihan sementara tidak harus selalu hambar, tetapi tekstur, porsi, serta respons tubuh tetap perlu menjadi pertimbangan. Makanan padat, keras, tinggi lemak, atau kaya serat dapat terasa lebih berat bagi sebagian orang ketika pencernaan sensitif.
| Kelompok Makanan | Contoh | Penyajian |
|---|---|---|
| Buah lunak | Pisang, pepaya, melon | Dikupas atau dihaluskan |
| Sayuran matang | Wortel, bayam, labu, kentang | Dikukus, direbus, atau dipanggang |
| Sup dan kaldu | Sup wortel, labu, zukini | Dimasak hingga lunak |
| Protein lunak | Telur, ayam tanpa lemak, ikan, tahu | Empuk dan rendah lemak |
| Biji-bijian olahan | Nasi, pasta putih, roti putih | Dikonsumsi dalam porsi wajar |
1. Buah Bertekstur Lunak
Buah lunak yang dikupas dapat menjadi pilihan ketika pencernaan membutuhkan asupan yang tidak terlalu membebani. Kulit dan biji buah sering mengandung lebih banyak serat, sehingga mengupasnya dapat mengurangi bagian yang lebih sulit diproses tubuh.
Pisang, alpukat, semangka, pepaya, melon cantaloupe, dan melon honeydew memiliki tekstur yang relatif lembut. Kiwi, melon, pepaya, dan semangka juga termasuk pilihan rendah FODMAP yang disebut lebih mudah dicerna.
Plum dapat direbus agar teksturnya lebih lunak, sedangkan persik kalengan sebaiknya dipilih yang dikemas dalam air. Pilihan ini tetap perlu disesuaikan dengan toleransi masing-masing orang.
2. Sayuran yang Dimasak Matang
Sayuran mentah berdaun serta kacang-kacangan dapat memicu gas atau kembung pada sebagian orang. Memasaknya hingga matang membantu melunakkan tekstur sayuran dan dapat membuatnya lebih nyaman dikonsumsi.
Wortel, bayam, kentang tanpa kulit, labu tanpa biji, buncis, dan kembang kol dapat diolah sebagai pilihan sayuran matang. Metode mengukus dapat digunakan sebagai alternatif perebusan bagi orang yang memperhatikan perubahan nutrisi akibat memasak.
3. Sup Sayuran dan Kaldu
Sup dari wortel, labu, atau zukini memberi asupan cairan dengan tekstur yang lebih lembut. Sayuran yang dimasak lama dalam sup menjadi lebih lunak dibandingkan saat disajikan dalam bentuk mentah atau renyah.
Kaldu tulang juga disebut mudah dicerna dan dikaitkan dengan peningkatan kadar kolagen serta pengurangan peradangan dalam tubuh. Sup dan kaldu dapat dipilih saat tubuh sulit menerima makanan dengan tekstur padat.
4. Protein Bertekstur Lunak
Protein tetap diperlukan ketika fungsi pencernaan terganggu, tetapi jenis yang tinggi lemak atau alot dapat terasa lebih berat. Telur rebus, telur ceplok air, dada ayam tanpa lemak, ikan, tahu lembut, dan selai kacang halus dapat menjadi pilihan.
Pakar gizi Sarah Williamson menekankan kebutuhan protein selama gangguan pencernaan. “Saat fungsi pencernaan terganggu, kita butuh lebih banyak protein dalam pola makan untuk memastikan terjaganya massa otot yang sehat dan proses pemulihan tubuh,” ujarnya seperti dikutip Women&Home.
5. Produk Biji-bijian Olahan
Nasi, pasta putih, sereal nonbiji-bijian utuh, roti putih, dan roti panggang termasuk kelompok makanan rendah serat. Penghalusan biji menghilangkan dedak, yaitu lapisan luar yang mengandung serat serta nutrisi lain.
Roti panggang disebut lebih mudah dicerna daripada roti biasa karena proses pemanggangan memecah sebagian karbohidrat. Namun, karbohidrat olahan tetap perlu dibatasi dalam porsi wajar, terutama bagi orang yang perlu mengatur berat badan atau kadar gula darah.
Kelima kelompok makanan tersebut dapat membantu menyesuaikan asupan saat sakit atau setelah operasi. Kondisi setiap orang berbeda, sehingga pilihan tekstur dan jumlah makanan sebaiknya mengikuti respons tubuh.
