5 Tanda Kamu Sering Masking Saat Bersosialisasi, Capeknya Bisa Sampai Begini

Kelelahan setelah bersosialisasi tidak selalu muncul karena aktivitas fisik. Pada sebagian orang, rasa letih itu justru lahir dari kebiasaan terus memantau ucapan, ekspresi, dan perilaku agar terlihat sesuai di mata orang lain.

Kondisi tersebut dikenal sebagai masking, yaitu upaya menyesuaikan perilaku, emosi, atau cara berkomunikasi untuk memenuhi harapan sosial atau menghindari penilaian negatif. Sekilas, pola ini tampak seperti kemampuan beradaptasi, tetapi kebiasaan itu dapat menguras energi karena seseorang terus bekerja keras menjadi versi yang dianggap aman.

1. Sangat lelah setelah berinteraksi

Tanda yang paling mudah dikenali adalah rasa lelah yang muncul setelah berada di tengah banyak orang. Hal ini terjadi karena seseorang terus mengatur diri sepanjang percakapan, bukan sekadar ikut mengalir dalam interaksi.

Dori Ellowitch, LMSW, psikoterapis di Manhattan Therapy, menjelaskan bahwa masking yang awalnya dipakai untuk mengelola kecemasan justru bisa memperburuk kondisi itu. Tubuh dan pikiran berada dalam keadaan siaga terus-menerus, sehingga energi cepat terkuras.

2. Pendapat dan perasaan sering ditahan

Orang yang sering masking kerap memilih kata-kata yang aman agar terdengar menyenangkan. Akibatnya, pendapat yang sebenarnya sering tidak pernah keluar secara utuh.

Ellowitch menilai kebiasaan mengatakan hal yang diyakini akan disetujui orang lain, meski tidak sesuai perasaan, bisa menjadi tanda masking. Dorongan untuk diterima membuat seseorang terbiasa menyembunyikan respons yang jujur.

3. Percakapan terasa perlu disiapkan dulu

Bagi sebagian orang, obrolan sosial mengalir secara alami. Namun pada orang yang sering masking, interaksi justru terasa seperti sesuatu yang harus dilatih terlebih dahulu.

Deborah Bloom, PsyD, LMFT, menjelaskan bahwa masking dapat terlihat dari kebiasaan berlatih percakapan dan membuat skrip sebelum bertemu orang lain. Ia juga menyebut seseorang bisa sengaja memakai bahasa tubuh tertentu, seperti mengangguk atau menunjukkan ekspresi tertarik, walau fokusnya sudah hilang.

4. Terbiasa meniru orang lain agar tampak sesuai

Menyesuaikan diri di lingkungan sosial memang wajar. Namun, tanda masking muncul ketika penyesuaian itu berubah menjadi usaha besar untuk menyembunyikan diri sendiri.

Bloom menyebut kebiasaan meniru bahasa tubuh, nada suara, atau cara bicara orang lain sering muncul agar seseorang terlihat cocok dengan lingkungan. Situasi ini biasanya disertai rasa takut dinilai atau dianggap berbeda, sehingga perhatian terus tertuju pada kemungkinan orang lain menyadari adanya upaya tersebut.

5. Ingin tampil sebagai versi paling ideal

Dorongan untuk selalu terlihat paling baik sering muncul di situasi baru, seperti tempat kerja atau acara networking. Pada momen seperti ini, seseorang belum memahami aturan sosial yang berlaku dan cenderung lebih waspada terhadap penilaian orang lain.

Matt Grammer, LPCC-S, konselor kesehatan mental berlisensi, menjelaskan bahwa orang biasanya berusaha menghindari penilaian negatif, penolakan, atau rasa dipermalukan ketika berada dalam lingkungan baru. Kondisi serupa juga kerap muncul saat wawancara kerja atau ketika bertemu orang dengan posisi lebih tinggi.

Masking pada dasarnya sering muncul sebagai cara untuk merasa lebih aman dalam interaksi sosial. Namun, jika dorongan menyembunyikan bagian tertentu dari diri sendiri terus berulang demi diterima orang lain, pola itu layak mendapat perhatian lebih serius.

Jika berlangsung lama, kebiasaan tersebut juga dapat menurunkan rasa percaya diri dan memunculkan rasa kesepian karena orang lain tidak benar-benar melihat diri yang sebenarnya.

Menyesuaikan diri tetap wajar dalam batas tertentu. Yang perlu diwaspadai adalah saat penyesuaian berubah menjadi upaya terus-menerus untuk tidak terlihat seperti diri sendiri.

Source: www.idntimes.com
Berita Terkait