Uji Rudal Balistik China di Pasifik Memicu Kekhawatiran Baru Soal Bayang-Bayang Nuklir

Uji coba rudal balistik China dari kapal selam bertenaga nuklir memicu perhatian serius dari Amerika Serikat. Washington menilai peluncuran itu sangat mengkhawatirkan karena memperlihatkan percepatan kemampuan nuklir Beijing yang berjalan cepat dan tidak transparan.

Dalam respons resminya, Departemen Luar Negeri AS mendesak China menahan laju proliferasi senjata nuklir dan membuka ruang pembahasan pengendalian senjata yang lebih bermakna. Amerika juga menegaskan bahwa negara-negara besar seharusnya memiliki mekanisme pemberitahuan yang jelas sebelum peluncuran rudal maupun wahana antariksa.

Jangkauan rudal dan dampaknya bagi kalkulasi strategis

Global Times mengutip pandangan sejumlah pakar yang meyakini rudal yang diuji adalah JL-3. Rudal itu disebut memiliki jangkauan lebih dari 10.000 kilometer dan berpotensi menjangkau sebagian wilayah daratan Amerika Serikat jika diluncurkan dari perairan pesisir China.

Lyle Morris, mantan pejabat pertahanan AS yang kini menjadi peneliti senior di Center for China Analysis, Asia Society Policy Institute, menilai peluncuran tersebut menunjukkan China tengah membangun kemampuan penangkalan nuklir berbasis laut yang lebih tahan bertahan dan memiliki jangkauan lebih jauh. Menurutnya, perkembangan semacam ini menjadi sinyal penting dalam perubahan keseimbangan strategis di kawasan.

Versi Beijing menyebut latihan tahunan

Di sisi lain, militer dan media pemerintah China menyatakan peluncuran itu merupakan bagian dari latihan militer tahunan angkatan laut. Beijing juga menegaskan uji coba tersebut tidak ditujukan kepada negara tertentu dan dilakukan sesuai hukum internasional.

China mengatakan rudal itu jatuh di wilayah perairan yang sudah ditentukan. Media resmi partai, Global Times, bahkan menilai semakin kuatnya kekuatan nuklir strategis China akan semakin menjamin perdamaian kawasan.

Reaksi kawasan dan pesan politik yang mengiringi

Pernyataan AS menambah daftar negara yang menyampaikan keprihatinan atas uji coba tersebut. Australia, Jepang, dan sejumlah negara lain sebelumnya juga sudah mengkritik langkah China.

Isu ini muncul ketika hubungan Washington dan Beijing sedang diupayakan agar lebih stabil di tengah persaingan geopolitik yang masih berlangsung. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping disebut sama-sama berusaha menjaga jalur komunikasi, termasuk dengan rencana pertemuan di Gedung Putih pada 24 September mendatang.

Washington tidak menjelaskan apakah pihaknya menerima pemberitahuan sebelum peluncuran rudal dilakukan. Namun, tekanan diplomatik yang muncul menunjukkan bahwa uji coba China dipandang bukan sekadar latihan militer, melainkan sinyal strategis yang memperbesar perhatian dunia terhadap arah pengembangan kekuatan nuklir Beijing.

Source: www.viva.co.id
Berita Terkait