Jumlah suspek penyakit tangan kaki dan mulut atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) di Sumatra Selatan sudah mencapai 523 kasus hingga pekan ke-23 tahun 2026. Temuan itu tersebar di 16 kabupaten dan kota, dengan Kota Palembang mencatat jumlah tertinggi.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Selatan menyebut Palembang menampung 102 kasus suspek, hampir 20 persen dari total provinsi. Setelah itu, Kabupaten PALI mencatat 75 kasus, Kabupaten Musi Banyuasin 61 kasus, serta Kota Prabumulih 58 kasus.
Sebaran kasus di berbagai daerah
Di kelompok angka berikutnya, Kabupaten Lahat dan Muara Enim sama-sama mencatat 54 kasus. Kota Lubuk Linggau menyusul dengan 49 kasus, kemudian Kabupaten OKU 19 kasus dan Musi Rawas 17 kasus.
Sejumlah wilayah lain juga melaporkan suspek HFMD meski dengan jumlah lebih kecil. Pagar Alam tercatat 9 kasus, Banyuasin 8 kasus, OKU Selatan 7 kasus, Empat Lawang 3 kasus, OKU Timur 3 kasus, Muratara 3 kasus, dan OKI 1 kasus.
| Daerah | Jumlah Suspek |
|---|---|
| Kota Palembang | 102 |
| Kabupaten PALI | 75 |
| Kabupaten Musi Banyuasin | 61 |
| Kota Prabumulih | 58 |
| Kabupaten Lahat | 54 |
| Kabupaten Muara Enim | 54 |
| Kota Lubuk Linggau | 49 |
| Kabupaten OKU | 19 |
| Kabupaten Musi Rawas | 17 |
| Kota Pagar Alam | 9 |
| Kabupaten Banyuasin | 8 |
| Kabupaten OKU Selatan | 7 |
| Kabupaten Empat Lawang | 3 |
| Kabupaten OKU Timur | 3 |
| Kabupaten Muratara | 3 |
| Kabupaten OKI | 1 |
Risiko penularan pada anak usia sekolah
HFMD, yang lebih dikenal sebagai Flu Singapura, mudah menular dan terutama banyak menyerang anak usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel Ira Primadesa menjelaskan penyakit ini dipicu oleh virus Coxsackie A16 dan Enterovirus 71.
Ira menyebut penularan HFMD cenderung meningkat pada masa peralihan musim dan puncak musim kemarau. Saat cuaca panas, anak-anak juga lebih sering berada di dalam ruangan, termasuk ruang ber-AC, sehingga risiko penyebaran dapat ikut naik.
Menurut Dinkes Sumsel, iklim panas dan lembap yang mendukung perkembangan enterovirus, tingginya interaksi anak di sekolah, penggunaan fasilitas bermain bersama, serta kebiasaan higiene yang belum optimal membuat wilayah ini rawan penularan.
Gejala yang perlu dipantau orang tua
HFMD biasanya diawali demam ringan, turunnya nafsu makan, dan nyeri tenggorokan. Dalam beberapa hari berikutnya, sariawan di rongga mulut bisa muncul dan membuat anak sulit makan atau minum.
Pada tahap selanjutnya, bintil berisi cairan dapat timbul di telapak tangan, telapak kaki, lutut, atau bokong. Kondisi ini perlu dipantau karena berpotensi mengganggu aktivitas anak dan memicu dehidrasi jika asupan cairan berkurang.
Perawatan di rumah dan tanda bahaya
Sebagian besar kasus HFMD dapat pulih dengan perawatan suportif di rumah. Dinkes Sumsel menyarankan parasetamol untuk menurunkan demam, obat oles topikal untuk meredakan sariawan, serta pemberian air yang cukup agar anak tetap terhidrasi.
Orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya. Gejala yang harus diwaspadai antara lain kejang, sesak napas, penurunan kesadaran, atau tangan dan kaki yang terasa dingin karena dapat mengarah pada komplikasi serius, termasuk radang otak.
Source: lifestyle.bisnis.com






