Studi yang dimuat dalam Scientific Reports dan meneliti lebih dari 9.200 anjing ras menemukan bahwa anjing kecil memiliki kemungkinan agresi lebih tinggi dibandingkan anjing berukuran sedang dan besar. Temuan itu menunjukkan bahwa kesan “galak” pada anjing mungil tidak hanya soal penampilan, tetapi berkaitan dengan sejumlah faktor perilaku yang saling terkait.
Kerentanan fisik menjadi salah satu pemicunya. Karena tubuhnya lebih kecil, anjing kecil cenderung lebih mudah merasa terancam dan mengambil sikap defensif saat berada dalam situasi yang dianggap tidak aman.
Rasa takut, kecemasan, dan respons defensif
Rasa takut punya hubungan kuat dengan agresi pada anjing. Studi yang sama menyebut anjing yang ketakutan memiliki peluang lima kali lebih tinggi untuk berperilaku agresif dibandingkan anjing yang tidak takut.
Pada anjing kecil, kondisi seperti kecemasan perpisahan, kegembiraan berlebihan, dan hiperaktivitas saat pemilik kembali juga lebih sering ditemukan. Kombinasi ini membuat reaksi mereka tampak lebih tajam dalam interaksi sehari-hari.
Pelatihan yang tidak konsisten ikut membentuk perilaku
Selain faktor emosi, cara pemilik membesarkan anjing juga berpengaruh besar. Pada banyak kasus, pemilik anjing kecil tidak melatih hewan peliharaannya secara konsisten, padahal anjing kecil maupun besar sama-sama membutuhkan aturan yang jelas.
Ketidakkonsistenan itu bisa muncul dalam bentuk perintah yang berubah-ubah, aturan yang tidak ditegakkan, atau respons yang berbeda-beda terhadap perilaku buruk. Akibatnya, anjing lebih sulit belajar patuh, sementara pemilik anjing kecil disebut cenderung lebih tidak konsisten dibandingkan pemilik anjing besar.
Aktivitas bersama yang lebih sedikit
Waktu bermain dan pelatihan juga menentukan pembentukan perilaku. Aktivitas formal seperti pelatihan kepatuhan dan latihan ketangkasan, maupun aktivitas informal seperti bermain tangkap bola atau joging, membantu anjing lebih terarah dalam keseharian.
Masalahnya, pemilik anjing kecil umumnya menghabiskan lebih sedikit waktu untuk aktivitas seperti itu. Dampaknya, anjing kecil lebih sulit mengendalikan perilaku dan cenderung kurang patuh saat berinteraksi dengan manusia maupun lingkungan sekitar.
| Faktor | Dampak yang Muncul | Contoh yang Disebutkan |
|---|---|---|
| Rasa takut | Lebih defensif dan lebih mudah agresif | Peluang agresi 5 kali lebih tinggi |
| Pelatihan tidak konsisten | Lebih sulit belajar patuh | Aturan berubah-ubah dan respons yang tidak tegas |
| Aktivitas lebih sedikit | Perilaku kurang terarah | Lebih sedikit pelatihan kepatuhan dan permainan aktif |
| Stimulasi energi kurang | Perilaku berlebihan dan gonggongan terus-menerus | Lebih sering digendong daripada berjalan |
Energi yang tidak tersalurkan dengan baik
Banyak orang mengira anjing kecil otomatis punya energi lebih rendah daripada anjing besar, padahal anggapan itu tidak selalu benar. Sebagian anjing kecil justru sangat energik dan membutuhkan permainan terstruktur, jalan-jalan jauh, serta perhatian yang cukup.
Jika stimulasi dan latihan tidak memadai, energi tersebut dapat berubah menjadi perilaku berlebihan, termasuk gonggongan yang terus-menerus. Kebiasaan banyak pemilik yang lebih sering menggendong anjing kecil juga ikut mengurangi kesempatan mereka untuk aktif bergerak.
Pengalaman sosial, hukuman, dan pengaruh genetik
Riwayat interaksi turut membentuk perilaku anjing kecil dari waktu ke waktu. Dari generasi ke generasi, anjing kecil kerap tidak menerima pelatihan yang memadai, sementara manusia disebut tidak banyak memperbaiki perilaku buruk itu selama proses domestikasi.
Di sisi lain, sebuah studi pemetaan genom pada ratusan ras anjing menemukan hubungan antara agresi dan gen yang terkait dengan faktor pertumbuhan, yang juga berperan dalam ukuran tubuh mini pada anjing kecil. Penggunaan hukuman pun dapat meningkatkan rasa cemas pada anjing dan memicu gonggongan yang lebih sering.
Yang menentukan bukan ukuran semata
Gabungan kerentanan, pola pelatihan, kurangnya aktivitas, stimulasi yang tidak cukup, pengalaman sosial, dan pengaruh genetik membuat sebagian anjing kecil tampak lebih galak. Dengan pelatihan yang tepat dan pemahaman terhadap kebutuhan emosional mereka, anjing kecil tetap bisa tumbuh menjadi hewan peliharaan yang ramah dan penuh kasih sayang.
Source: www.idntimes.com






