NASA menargetkan kehadiran manusia secara permanen di Bulan mulai 2032 dengan skema operasi bergilir yang menyerupai Stasiun Luar Angkasa Internasional. Tahap akhir ini akan didukung modul hunian semi permanen, reaktor nuklir sebagai sumber energi utama, rover dengan sistem pendukung kehidupan, serta pengiriman awak dan logistik secara rutin.
Untuk sampai ke titik itu, badan antariksa Amerika Serikat tersebut membagi pembangunan pangkalan Bulan ke dalam tiga fase besar. NASA menilai pendekatan bertahap ini diperlukan karena misi ke kutub selatan Bulan jauh lebih rumit dibanding pendaratan Bulan sebelumnya.
Fase Bertahap Menuju Pangkalan Bulan
Fase pertama berjalan hingga 2029 dan berfokus pada misi robotik untuk membuktikan bahwa teknologi dasar dapat bekerja di lingkungan Bulan. NASA menargetkan 25 peluncuran roket dan 21 pendaratan di Bulan pada tahap ini.
Fase kedua dijadwalkan dimulai pada 2029. Pada periode ini, NASA akan mulai merakit infrastruktur semi permanen dan menjalankan operasi logistik awal, termasuk sistem tenaga tambahan berbasis surya dan nuklir, jaringan komunikasi yang lebih luas, rover generasi baru, kemungkinan penggunaan drone, serta pengiriman kargo hingga 60 ton ke permukaan Bulan.
NASA memperkirakan fase kedua memerlukan 27 peluncuran roket dan 24 pendaratan di Bulan. Setelah itu, fase ketiga dijadwalkan dimulai pada 2032 sebagai tahap saat manusia ditargetkan hadir secara permanen di Bulan.
| Fase | Fokus Utama | Target Peluncuran | Target Pendaratan |
|---|---|---|---|
| Fase 1 hingga 2029 | Misi robotik dan pengujian teknologi | 25 | 21 |
| Fase 2 mulai 2029 | Infrastruktur semi permanen dan logistik awal | 27 | 24 |
| Fase 3 mulai 2032 | Kehadiran manusia permanen | 29 | 28 |
Robot, Pendarat, dan Drone Jadi Fondasi Awal
Pada tahap awal, NASA menempatkan misi robotik sebagai prioritas untuk mengumpulkan data ilmiah lebih rinci tentang kutub selatan Bulan sekaligus menyiapkan teknologi pendukung bagi infrastruktur permanen. Untuk itu, NASA akan mengirim robot, kendaraan otonom, drone, dan perangkat pendarat guna memetakan wilayah serta mengenali potensi bahaya.
Carlos García-Galán, manajer program pangkalan Bulan NASA, menjelaskan bahwa tahap awal memiliki tiga tujuan utama. Tujuan itu mencakup memastikan misi ke Bulan bisa dilakukan secara konsisten, mengumpulkan data ilmiah lebih rinci, dan menyiapkan teknologi pendukung bagi pembangunan jangka panjang.
NASA menilai pengetahuan tentang Bulan masih belum cukup untuk mendukung kehidupan manusia dalam jangka panjang. Karena itu, data dari perangkat robotik akan menjadi dasar sebelum astronaut diturunkan ke permukaan.
Kontrak Hampir US$ 600 Juta untuk Pendarat Kargo
NASA juga mengumumkan kontrak baru senilai hampir US$ 600 juta atau Rp 9,72 triliun kepada tiga perusahaan antariksa swasta. Astrobotic, Firefly Aerospace, dan Intuitive Machines akan mengembangkan pendarat Bulan yang dapat membawa muatan ilmiah ke permukaan.
Kolaborasi ini menunjukkan peran sektor swasta yang makin besar dalam strategi eksplorasi Bulan NASA. Badan antariksa itu menempatkan mitra komersial sebagai bagian penting dari upaya membangun kemampuan logistik dan teknologi untuk misi jangka panjang.
NASA juga menyoroti pendarat kargo yang dikembangkan Blue Origin. Menurut García-Galán, wahana tersebut hampir selesai setelah lolos pengujian lingkungan, meski pengirimannya ke Bulan masih bergantung pada roket angkut berat New Glenn.
Proyek itu sempat terganggu setelah lokasi peluncuran di Florida rusak akibat ledakan roket New Glenn saat uji coba mesin statis pada Mei lalu. NASA masih memantau proses perbaikan fasilitas itu sambil menyiapkan opsi lain jika jadwal misi terganggu.
Artemis III dan Kandidat Rover Promise
Sebelum masuk ke fase yang lebih besar, NASA masih menyiapkan misi Artemis III sebagai langkah lanjutan dalam program eksplorasi Bulan. Misi itu dijadwalkan berlangsung tahun depan dan akan melibatkan empat astronaut yang menguji satu atau dua pendarat Bulan dari SpaceX dan Blue Origin di orbit rendah Bumi.
Misi tersebut belum akan menurunkan astronaut ke permukaan Bulan, tetapi akan berlangsung lebih lama dibanding Artemis II. Fokusnya adalah menguji sistem penting pada wahana Orion, termasuk pendukung kehidupan, tenaga, propulsi, dan komponen vital lainnya.
NASA juga membuka kemungkinan mengirim robot penjelajah Promise ke Bulan. Promise adalah singkatan dari Polar Rover for Observation, Mapping, and In-Situ Exploration, dan saat ini berada di Jet Propulsion Laboratory NASA sebagai wahana teknik untuk menguji sistem serta memecahkan persoalan teknis.
Robot ini disebut memiliki kemampuan eksplorasi dan penelitian yang sekelas dengan rover Perseverance dan Curiosity di Mars. Jared Isaacman mengatakan NASA sedang mempertimbangkan serius penggunaan Promise di Bulan karena kemampuan ilmiahnya dinilai sangat berguna.
Isaacman menegaskan NASA tidak ingin terburu-buru menuju operasi permanen di Bulan. Ia menyebut perjalanan ke kutub selatan Bulan jauh lebih menantang karena suhu ekstrem, periode gelap yang panjang, debu Bulan yang abrasif, dan medan yang terjal.
Administrator NASA itu mengatakan strategi yang dipakai mengikuti pola bertahap seperti era Apollo. Pendekatan tersebut menempatkan pengulangan misi dan pengujian teknologi sebagai fondasi sebelum melangkah ke pembangunan yang lebih besar.
NASA sebelumnya menganggarkan sekitar US$ 20 miliar untuk pembangunan pangkalan Bulan. Sejumlah pakar menilai nilai itu bisa bertambah seiring perkembangan proyek, sementara Isaacman menilai langkah yang ditempuh NASA merupakan kelanjutan logis dari eksplorasi luar angkasa.
Source: www.beritasatu.com






