Di kelas Rp 1 jutaan, pilihan HP kini tidak lagi seramai beberapa waktu lalu. Banyak model harus berkompromi pada RAM, penyimpanan, hingga fitur, tetapi beberapa di antaranya masih cukup masuk akal untuk kebutuhan harian.
Kondisi itu membuat pembeli perlu lebih cermat. Untuk pemakaian ringan, komunikasi, navigasi, sampai kebutuhan kerja lapangan seperti driver ojek online, ada sejumlah model yang masih layak dipertimbangkan karena menawarkan kombinasi harga dan fungsi yang relevan.
Perubahan paling terasa di segmen murah
Pasar HP murah ikut tertekan oleh krisis memori global. Permintaan chip memori untuk infrastruktur AI disebut membuat pasokan ke smartphone konsumen makin ketat, sehingga spesifikasi di kelas bawah ikut menyusut.
Gejalanya terlihat jelas pada banyak perangkat yang kini hanya membawa RAM 3-4 GB dan storage 64 GB. Beberapa juga kembali memakai layar HD+, menghilangkan sensor gyro, atau tetap mengandalkan penyimpanan eMMC agar harga tetap terjangkau.
Dalam situasi seperti ini, kelas Rp 1 jutaan masih bisa dipakai untuk kebutuhan dasar. Namun untuk pengguna yang membuka banyak aplikasi, sering memakai navigasi seharian, atau membutuhkan perangkat kerja yang lebih stabil, kelas Rp 2-3 jutaan tetap lebih aman jika anggaran memungkinkan.
Ringkasan 7 model yang masih layak dilirik
| Model | Harga | Keunggulan Utama | Kompromi |
|---|---|---|---|
| Itel A200 | Rp 1,5 juta-Rp 1,6 juta | Layar 120 Hz, IP rating, audio jack, infrared blaster | Belum NFC, eMMC 5.1, charging 10 watt, kamera 13 MP |
| Itel City 200 | Rp 1,7 jutaan | NFC, IP65, baterai 5.200 mAh, infrared blaster, audio jack | Tanpa light sensor, tanpa gyro |
| Tecno Spark Go 3 | Rp 1.849.000-Rp 1.949.000 | Layar 120 Hz adaptif, IP rating, audio jack | Varian 4/64 GB dan 4/128 GB, detail kekurangan tidak dirinci |
| Samsung Galaxy A07 | Rp 1,8 jutaan | Helio G99, UFS 2.2, update sampai 6 tahun, kamera 50 MP, charging 25 watt | Belum NFC, opsi memori terbatas |
| Redmi A7 Pro / Poco C81 Pro | Rp 1,8 juta-Rp 1,9 juta | Layar 6,9 inci 120 Hz, baterai 6.000 mAh, UFS, janji update Android 4 kali | Tanpa NFC, belum IP rating |
| vivo Y19s Pro | Rp 1,6 juta-Rp 1.999.000 | Fast charging 44 watt, Dual Speaker, IP64, audio jack | UniSOC T612, eMMC, tanpa NFC |
| Motorola G06 Power | Rp 1,9 jutaan, promo; Rp 2.099.000; Rp 2,5 jutaan | Baterai 7.000 mAh, NFC, speaker stereo, UI bersih dari iklan, IP64, kamera 50 MP | eMMC, charging 18 watt |
Model yang paling kuat untuk performa
Jika fokus utama adalah tenaga mesin, Samsung Galaxy A07 tampak paling menonjol di daftar ini. Chipset Helio G99, penyimpanan UFS 2.2, dan dukungan pembaruan perangkat lunak hingga 6 tahun membuatnya unggul untuk pemakaian jangka lebih panjang.
Tambahan kamera 50 MP, mikrofon ganda, dan pengisian daya 25 watt yang sudah tersedia di paket penjualan ikut menguatkan posisinya. Di harga Rp 1,8 jutaan, kombinasi itu terasa paling lengkap meski belum memiliki NFC dan pilihan memorinya terbatas.
Untuk baterai besar dan pemakaian santai
Motorola G06 Power menawarkan baterai 7.000 mAh yang menjadi daya tarik utama, terutama saat perangkat dipakai untuk navigasi ringan atau kebutuhan harian yang panjang. UI yang bersih dari iklan, speaker stereo, NFC, IP64, dan kamera utama 50 MP menambah nilai jualnya.
Kekurangannya terletak pada penyimpanan eMMC dan pengisian 18 watt yang terasa lambat untuk kapasitas baterai sebesar itu. Di luar promo, harga varian 4 GB/128 GB dipatok Rp 2.099.000 dan versi 8 GB/128 GB mencapai Rp 2,5 jutaan.
Opsi praktis untuk fitur harian
vivo Y19s Pro cocok untuk pengguna yang memprioritaskan fast charging 44 watt, Dual Speaker, IP64, dan audio jack. Varian 4 GB/64 GB dijual Rp 1,6 juta, sedangkan versi 6 GB/128 GB dibanderol Rp 1.999.000.
Itel City 200 juga menarik karena membawa NFC, sertifikasi IP65, baterai 5.200 mAh, infrared blaster, dan audio jack. Sisi yang perlu dicatat, perangkat ini tidak punya light sensor sehingga auto brightness tidak tersedia, dan sensor gyro juga absen.
Itel A200 menawarkan layar 120 Hz, IP rating, audio jack, dan infrared blaster di kisaran Rp 1,5 juta sampai Rp 1,6 juta. Namun, ponsel ini masih mengandalkan eMMC 5.1, belum mendukung NFC, dan hanya membawa pengisian 10 watt.
Tecno Spark Go 3 hadir di harga Rp 1.849.000 untuk varian 4 GB/64 GB dan Rp 1.949.000 untuk 4 GB/128 GB. Perangkat ini mengandalkan layar 120 Hz adaptif, IP rating, dan audio jack, sehingga tetap menarik untuk pengguna yang menginginkan layar mulus dengan kebutuhan dasar yang relatif lengkap.
Redmi A7 Pro atau Poco C81 Pro melengkapi daftar ini dengan layar 6,9 inci 120 Hz dan baterai 6.000 mAh. Keduanya memakai UniSOC T7250, penyimpanan UFS, serta janji pembaruan versi Android sampai 4 kali, meski untuk pasar Indonesia belum membawa NFC dan belum memiliki IP rating.
Di harga Rp 1 jutaan, pembeli pada akhirnya tetap perlu menyesuaikan pilihan dengan prioritas masing-masing. Untuk performa, Samsung Galaxy A07 paling kuat; untuk baterai besar, Motorola G06 Power paling menonjol; sementara untuk fitur praktis seperti NFC dan fast charging, Itel City 200 serta vivo Y19s Pro tetap punya nilai jual yang jelas.
