8 Ciri Vishing yang Bisa Menguras Rekening, Jangan Abaikan Panggilan Ini

Vishing atau penipuan lewat panggilan suara menjadi salah satu modus yang paling berbahaya karena pelaku bisa memanfaatkan percakapan telepon untuk meminta data pribadi dan akses penting. Begitu informasi itu didapat, penipu dapat mengambil alih ponsel atau akun aplikasi korban, lalu melanjutkannya untuk menguras rekening atau menyalahgunakan identitas.

Modus ini juga kerap berlanjut ke tindakan lain yang tidak kalah berbahaya. Pelaku sering meminta korban mengklik tautan atau mengunduh file yang ternyata berisi malware, sehingga perangkat ikut terancam selain akun keuangan.

Mengaku dari lembaga besar

Salah satu ciri yang paling sering muncul adalah penelepon mengaku berasal dari pemerintah atau perusahaan besar yang dikenal luas. Identitas palsu itu dipakai untuk membangun kesan berwenang dan membuat korban merasa harus mengikuti permintaan yang diberikan.

Nada percakapan biasanya dibuat menekan agar korban panik. Saat rasa takut muncul, korban cenderung lengah dan lebih mudah memberikan informasi yang diminta tanpa sempat memeriksa kebenarannya.

Memancing dengan hadiah atau kesepakatan

Penipu juga kerap membuka percakapan dengan tawaran hadiah, kesepakatan, atau keuntungan lain yang terdengar meyakinkan. Pola seperti ini patut dicurigai, terutama jika korban tidak pernah mengikuti undian, lotere, atau program serupa.

Tawaran tersebut sering menjadi pintu masuk untuk mengarahkan pembicaraan ke permintaan data atau akses perangkat. Begitu rasa penasaran muncul, korban biasanya lebih mudah diarahkan ke tahap berikutnya.

Tidak mengetahui identitas lawan bicara

Telepon resmi umumnya menyebut nama orang yang dihubungi sejak awal. Jika penelepon hanya memakai sapaan umum tanpa mengetahui siapa lawan bicara, itu menjadi tanda yang perlu diwaspadai.

Hal yang sama berlaku bila penelepon meminta informasi yang seharusnya sudah mereka ketahui. Perusahaan asuransi semestinya mengetahui nomor klaim, sementara sekolah semestinya mengetahui nama anak yang sedang dihubungi melalui orang tua.

Mengancam utang atau hukuman

Tekanan lain yang sering dipakai adalah tuduhan utang yang belum dibayar. Penipu lalu menambah ancaman dengan denda atau hukuman penjara bila korban tidak mengikuti kemauan mereka.

Cara seperti ini dirancang agar korban bereaksi cepat tanpa berpikir panjang. Langkah yang paling aman adalah menutup telepon lalu menghubungi perusahaan resmi yang disebut untuk memeriksa kebenarannya.

Meminta data sensitif dan akses perangkat

Permintaan nomor KTP, kartu kredit, atau data pribadi lain harus langsung dianggap berbahaya. Informasi semacam itu bisa dipakai untuk mengambil alih akun atau membuka jalan ke kejahatan yang lebih luas.

Penipu juga sering mengaku perangkat korban terinfeksi malware atau virus. Mereka kemudian mendorong korban memasang perangkat lunak akses jarak jauh seperti AnyDesk atau TeamViewer, padahal aplikasi semacam itu bisa memberi kendali ke tangan yang salah.

Ada jeda saat panggilan dijawab

Ciri lain yang patut dicermati adalah jeda sesaat ketika panggilan baru diangkat. Jeda ini bisa muncul karena penipu memakai teknologi panggilan otomatis sebelum percakapan dialihkan ke orang yang berbicara.

Tanda kecil seperti itu tidak selalu berarti penipuan, tetapi layak menjadi alarm awal. Jika jeda itu muncul bersama permintaan data, ancaman, atau tawaran yang tidak masuk akal, risiko vishing menjadi jauh lebih besar.

Karena itu, setiap panggilan dari nomor tidak dikenal perlu dicurigai sejak awal. Para penipu sering memakai strategi yang terdengar meyakinkan, mendesak, dan dirancang untuk membuat korban tidak sempat berpikir jernih.

Source: www.cnbcindonesia.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer