Hilirisasi kakao di Manokwari Selatan menunjukkan dampak yang langsung terasa bagi warga setempat. Di pabrik Cokelat Mansel, sekitar 189 pekerja terlibat dalam produksi, dan 90 persen di antaranya merupakan orang asli Papua.
Data itu memperlihatkan bahwa pengolahan kakao di Papua Barat tidak hanya bergerak di tingkat produksi, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat lokal. Kehadiran industri ini membuat rantai nilai kakao tidak berhenti pada bahan mentah, melainkan berlanjut hingga produk siap saji.
Peninjauan dari kebun hingga pabrik
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung proses hilirisasi kakao di Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Dalam kunjungan ke Distrik Ransiki, ia juga menanam bibit kakao bersama jajaran daerah dan kelompok tani PT Ebier Suth.
Gibran hadir bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk dan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan. Setelah peninjauan kebun, rombongan melanjutkan agenda ke pabrik Cokelat Mansel untuk melihat alur produksi dari biji mentah hingga menjadi produk siap saji.
Perkebunan 2.000 hektare jadi basis pengembangan
Perkebunan kakao yang dikelola bersama di wilayah itu mencakup area 2.000 hektare. Lahan tersebut menjadi salah satu basis pengembangan komoditas unggulan daerah yang diharapkan memperkuat ekonomi lokal.
Pabrik yang dikunjungi Gibran juga disebut memberdayakan masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal. Selain mayoritas pekerjanya adalah orang asli Papua, produk Cokelat Mansel telah dipasarkan ke luar Papua dan bahkan menembus pasar luar negeri.
Kakao Papua Barat yang masuk jalur pasar lebih luas
Kakao dari Manokwari Selatan dikenal sebagai produk unggulan asli tanpa bahan campuran. Karakter itu memberi nilai tambah bagi industri cokelat lokal yang berbasis pada hasil kebun masyarakat.
Perkembangan tersebut menempatkan Papua Barat dalam posisi yang mulai memperkuat identitas komoditasnya sendiri. Hilirisasi menjadi kunci agar hasil kebun tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi.
Kopi Arabika Kwau ikut diperkenalkan
Di waktu yang sama, Papua Barat juga mendorong promosi komoditas lain seperti Kopi Arabika Kwau dari Distrik Mokwam. Produk kopi pegunungan itu tampil dalam ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional XIV di Manokwari sebagai bagian dari pengenalan hasil bumi daerah.
Lahan budidaya Kopi Arabika Kwau kini telah mencapai 70 hektare. Dari jumlah itu, 15 hektare sudah mulai berproduksi dan menjadi sumber panen yang masih terbatas.
Pemilik Kebun Kopi Arabika Kwau, Semuel Mandacan, mengatakan tanaman kopi yang dikembangkan rata-rata baru berusia sekitar lima tahun. Karena itu, produksi belum maksimal dan kapasitas panen saat ini masih berada di kisaran 150 kilogram per periode panen.
Meski begitu, kopi ini mencatat skor cupping 80,2 berdasarkan hasil pengujian standar. Nilai tersebut menempatkannya dalam kategori specialty coffee dan membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Semuel menyebut karakter rasa kopi menjadi daya tarik utama karena memadukan asam dan manis secara seimbang. Ia juga mengatakan pihak pengelola telah menyiapkan sekitar 50 hingga 150 bungkus produk kemasan siap jual selama Pesparawi untuk dijadikan buah tangan para tamu daerah.
Agenda kerja di empat provinsi
Kunjungan Gibran ke Papua Barat menjadi bagian dari rangkaian kerja yang diatur berlangsung pada 18-21 Juni 2026 melintasi empat provinsi. Setelah membuka Pesparawi XIV di Manokwari, Wapres dijadwalkan bertolak ke Kabupaten Asmat, Papua Selatan, pada Minggu, 21 Juni 2026.
Di Asmat, Gibran dijadwalkan meninjau sejumlah fasilitas publik sebagai bagian dari agenda lapangan. Rangkaian itu menunjukkan bahwa peninjauan hilirisasi kakao di Manokwari Selatan berada dalam konteks kunjungan yang juga memuat agenda pembangunan dan pelayanan publik di wilayah timur Indonesia.
