Bukti bahwa UMKM Jawa Tengah punya daya saing kini terlihat dari capaian sejumlah pelaku usaha yang sudah menembus pasar luar negeri. Naruna Ceramic dari Kota Salatiga, misalnya, telah mengekspor produknya ke 18 negara, sementara Roro Kenes Semarang dikenal lewat tas anyaman kulit berkualitas tinggi yang diminati wisatawan mancanegara.
Capaian itu menjadi penegasan bahwa produk lokal dari Jawa Tengah tidak hanya bertahan di pasar domestik. Di saat yang sama, peluang untuk naik kelas semakin terbuka ketika pembinaan, kurasi, dan akses pasar berjalan beriringan.
Dorongan dari ajang pameran UMKM
Optimisme tersebut mengemuka saat Nawal Arafah Yasin menghadiri pameran UMKM Grande 2026 di Atrium Paragon Mal Semarang. Kegiatan yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah itu mengusung tema “Tumbuh, Tangguh dan Mendunia”.
Sebanyak 90 UMKM ikut ambil bagian dalam pameran yang berlangsung hingga 11 Mei 2026. Ajang ini tidak hanya menampilkan produk unggulan, tetapi juga membuka ruang business matching dan parade busana atau fashion show.
Format tersebut memberi kesempatan lebih luas bagi pelaku usaha untuk bertemu calon mitra dan memperluas pasar. Bagi UMKM, ruang semacam ini penting karena promosi produk tidak lagi berhenti pada etalase pameran.
Penguatan dari hulu hingga hilir
Sebagai Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal menegaskan komitmen untuk memperkuat UMKM bersama Bank Indonesia dari hulu sampai hilir. Pendekatan ini diarahkan agar ekosistem usaha kecil dan menengah di Jawa Tengah tumbuh lebih berkelanjutan.
Penguatan dimulai melalui program inkubasi dan pelatihan berkelanjutan. Tahap ini dipakai untuk menjaga kualitas produk UMKM sebelum masuk ke proses pengembangan berikutnya.
Setelah pembinaan awal, kurasi dilakukan bersama Bank Indonesia. Dari sana, pelaku UMKM kemudian mendapat akses permodalan untuk memperbesar kapasitas usaha mereka.
Menurut Nawal, rangkaian dukungan seperti itu penting agar UMKM tidak berhenti pada tahap produksi saja. Dengan ekosistem yang lebih rapi, produk lokal memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di pasar yang lebih luas.
Wastra jadi perhatian khusus
Di sisi lain, Bank Indonesia Jawa Tengah juga terus mendorong pengembangan UMKM lewat berbagai program pembinaan. Deputi Kantor Perwakilan BI Jateng Andi Reina Sari menyebut kerja sama dengan Dekranasda difokuskan pada sektor wastra.
Jawa Tengah memiliki daya tarik kuat di bidang batik dan tenun. Karena itu, kedua produk tersebut sedang diangkat agar semakin dikenal dan memberi nilai tambah bagi UMKM daerah.
Dorongan terhadap wastra menjadi bagian dari strategi memperkuat identitas produk lokal. Upaya ini juga diharapkan membuka jalan bagi lebih banyak pelaku usaha Jawa Tengah untuk masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar global.
Contoh yang sudah lebih dulu menembus pasar
Optimisme terhadap UMKM Jawa Tengah tidak lepas dari contoh nyata yang sudah muncul. Naruna Ceramic dan Roro Kenes menunjukkan bahwa produk daerah mampu menarik minat pasar yang lebih jauh ketika kualitasnya terjaga.
Capaian seperti ekspor ke berbagai negara memperlihatkan bahwa UMKM Jawa Tengah punya daya saing. Dengan pembinaan yang tepat, potensi itu bisa terus berkembang dan memberi ruang lebih besar bagi pelaku usaha lokal untuk tumbuh tangguh.
Source: radioidola.com






