Sedikitnya 900 pekerja pabrik plastik di Jawa Tengah sudah merasakan dampak kebijakan efisiensi yang mulai dijalankan perusahaan. Kondisi ini menjadi penanda awal bahwa tekanan di industri tidak lagi sebatas kekhawatiran di atas kertas, melainkan sudah menyentuh buruh di lapangan.
Aliansi Buruh Jawa Tengah atau ABJAT mencatat, pekerja di PT Innan, PT Poliplas, dan PT Palliser kini menjalani sistem kerja bergilir. Sekitar 600 pekerja di PT Palliser dan 300 pekerja di PT Inan terdampak kebijakan merumahkan karyawan secara bergantian, meski upah masih dibayar penuh.
Tekanan biaya memukul lebih dari satu sektor
KSPI menilai situasi ini bukan kasus tunggal. Presiden KSPI Said Iqbal menyebut ada lima sektor industri utama yang mulai berada dalam bayang-bayang badai pemutusan hubungan kerja, dengan tiga bulan ke depan sebagai masa yang paling rawan.
Menurut Said Iqbal, tekanan itu muncul bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi, dan tersendatnya pasokan bahan baku impor. Industri yang bergantung pada aktivitas impor dan ekspor disebut paling cepat merasakan lonjakan biaya produksi.
TPT jadi sektor yang paling rentan
Sektor tekstil dan produk tekstil atau TPT berada di barisan paling depan dalam daftar risiko itu. Said Iqbal menilai tekanan di sektor ini tidak hanya menyentuh kain dan benang, tetapi juga produk turunan seperti polyester yang sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan baku internasional.
Dia menyebut tekanan biaya di TPT sudah mulai terasa langsung dari anggota KSPI di perusahaan. Karena itu, peringatan yang muncul bukan sekadar dugaan, melainkan sinyal yang sudah dirasakan buruh di lapangan.
Plastik, elektronik, otomotif, hingga semen ikut tertekan
Selain TPT, industri plastik juga menghadapi beban berat akibat lonjakan harga bahan baku. Harga polimer dan petrokimia disebut naik tajam dalam denominasi dolar AS, sementara harga plastik bahkan melonjak hingga 50 persen.
Kenaikan itu berdampak pada dua sisi sekaligus, yakni menekan daya beli masyarakat dan membuat permintaan terhadap produk plastik industri ikut turun. Dari situ, pelaku usaha berpotensi mengambil langkah efisiensi yang kemudian menyentuh tenaga kerja.
Tekanan dari industri plastik itu juga merembet ke elektronik dan otomotif. Kedua sektor tersebut memakai banyak komponen berbahan plastik, mulai dari frame elektronik hingga bagian interior dan spakbor kendaraan, sehingga kenaikan biaya bahan baku ikut menambah beban produksi.
Sektor semen pun masuk dalam sorotan karena menghadapi kondisi oversupply saat permintaan domestik melemah. Said Iqbal menjelaskan, keadaan itu diperburuk oleh bertambahnya pabrik baru yang mulai beroperasi di tengah konsumsi semen yang menurun akibat perlambatan ekonomi.
Pemerintah diminta bergerak lebih cepat
Di tengah situasi yang belum stabil, ABJAT meminta pemerintah segera membentuk Satgas PHK. Langkah itu dinilai penting agar potensi pemutusan kerja bisa diidentifikasi sejak awal sebelum meluas menjadi gelombang kehilangan pekerjaan yang lebih besar.
Koordinator Lapangan ABJAT, Lukmanul Hakim, menilai buruh kerap menjadi pihak yang paling dirugikan saat ketidakpastian global menekan industri. Meski upah para pekerja di pabrik plastik yang terdampak masih dibayar penuh, ketidakpastian soal kelanjutan kerja tetap membayangi.
Said Iqbal berharap ketegangan geopolitik global bisa mereda agar harga material pendukung industri kembali stabil. Namun, ia menegaskan bahwa sejumlah perusahaan sudah menyampaikan kepada serikat pekerja bahwa tiga bulan ke depan tetap menjadi periode berisiko tinggi bagi operasional mereka.
Di lapangan, efisiensi disebut sudah mulai dijalankan sebelum PHK benar-benar terjadi. Bagi buruh, kondisi itu menjadi alarm awal bahwa tekanan biaya dan melemahnya permintaan bisa berubah menjadi gelombang kehilangan pekerjaan jika tidak ada langkah pencegahan yang cepat.
