Campus League membuka Musim 1 dengan membawa target yang lebih besar daripada sekadar menggelar pertandingan antarperguruan tinggi. Ajang ini diposisikan sebagai ruang pembinaan mahasiswa atlet agar punya bekal karakter, disiplin, dan kesiapan karier setelah lulus.
Di tengah peluncuran resminya di Jakarta pada Senin (20/4), penyelenggara menegaskan bahwa kompetisi kampus harus memberi nilai jangka panjang. Karena itu, Campus League dirancang sebagai wadah yang menghubungkan prestasi olahraga, kesiapan akademik, dan masa depan peserta.
Olahraga kampus untuk membentuk karakter
CEO Campus League, Ryan Gozali, menekankan bahwa mahasiswa atlet tidak cukup hanya dibaca dari hasil akhir di lapangan. Menurut dia, kompetisi perlu membantu mereka mengasah soft skills yang akan berguna setelah masa kuliah selesai.
Ryan menyebut disiplin, manajemen waktu, dan resiliensi sebagai kemampuan yang penting dimiliki atlet kampus. Ia juga menegaskan bahwa pengalaman bertanding bisa menjadi modal saat para mahasiswa masuk ke dunia profesional.
Pernyataannya menggarisbawahi arah utama Campus League, yakni menjadikan olahraga kampus sebagai jembatan antara prestasi dan kesiapan kerja. Dengan pendekatan itu, kompetisi tidak berhenti pada perebutan gelar juara semata.
Mayoritas atlet kampus tidak menuju jalur profesional
Ryan juga menyoroti realitas yang dihadapi banyak mahasiswa atlet setelah lulus. Ia menyebut statistik yang memperlihatkan bahwa 99 persen atlet mahasiswa tidak akan berkarier sebagai atlet profesional.
Fakta itu, menurut dia, justru menjadi alasan mengapa kompetisi kampus perlu membekali peserta dengan kemampuan lain. Meski tidak masuk jalur profesional, para mahasiswa tetap memiliki peluang besar untuk sukses di sektor berbeda.
Pandangan tersebut menjadi dasar mengapa Campus League ingin hadir sebagai ekosistem olahraga yang berkelanjutan. Ajang ini ditujukan agar pengalaman di lapangan tetap relevan dengan perjalanan hidup peserta setelah menyelesaikan studi.
Dukungan dari sektor korporasi dan teknologi
Dukungan terhadap penyelenggaraan Campus League datang dari mitra korporasi yang melihat nilai pembinaan pada ajang ini. Direktur PT Bayan Resources Tbk, Merlin, menilai kompetisi yang terstruktur dapat membantu membentuk generasi muda yang disiplin dan berkarakter.
Merlin juga menegaskan pentingnya sportivitas dalam proses pembinaan atlet mahasiswa. Menurut dia, ajang seperti Campus League bukan hanya melahirkan peserta yang kompetitif, tetapi juga generasi yang siap bersaing di ruang yang lebih luas.
Dari sisi teknologi, Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, melihat bahwa kehidupan atlet mahasiswa menuntut dukungan perangkat yang mendukung mobilitas. Ia menilai kebutuhan mereka bukan hanya soal latihan dan pertandingan, tetapi juga perangkat yang bisa membantu aktivitas akademik di tengah jadwal yang padat.
Tekno menambahkan bahwa banyak atlet kampus pada akhirnya akan menempuh karier di luar olahraga. Karena itu, perangkat yang ringan, tahan lama, dan bertenaga dianggap penting untuk mendukung masa transisi mereka.
Jangkauan lomba dibuat lebih luas
Musim 1 Campus League tidak hanya berjalan di Jakarta. Penyelenggaraan juga diperluas ke Samarinda, Bandung, Semarang, dan Surabaya agar partisipasi perguruan tinggi dari berbagai daerah bisa lebih terbuka.
Ada tiga cabang olahraga yang masuk agenda musim ini, yaitu basket, badminton, dan futsal. Basket digelar pada April-Juni, sedangkan futsal menjadi penutup pada Desember 2026 sehingga rangkaian kompetisi berjalan terus sepanjang musim.
Puncak penyelenggaraan akan ditandai lewat UniGames di Universitas Pelita Harapan. Format ini disiapkan sebagai bagian dari semangat multievent nasional dan menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Campus League.
Atmosfer persaingan sudah terasa di fase awal
Di fase regional Surabaya yang berlangsung di GOR Basket Unesa, tercatat 24 tim dari berbagai perguruan tinggi ikut bersaing. Peserta datang dari sejumlah daerah, termasuk Jayapura dan Makassar, yang menunjukkan daya tarik kompetisi ini melampaui wilayah Jawa.
Sektor putri langsung memperlihatkan ketatnya persaingan sejak awal. Pemain Unesa, Aisya Nayla Bihesti Zewar, menyebut timnya harus lebih waspada karena berada di grup yang diisi lawan-lawan kuat.
Sementara itu, tim Ubaya memasang target tinggi pada partisipasinya. Ofisial tim basket Ubaya, Adhika Putra Wicaksono, mengatakan bahwa timnya ingin tampil optimal di Regional Surabaya untuk merebut posisi pertama.
Regulasi kompetisi dan peluang menuju level lebih tinggi
Head of Competition Campus League, Dave Leopold, menjelaskan bahwa ada pembaruan regulasi yang membuka kesempatan bagi pemain profesional dan pemain asing untuk ikut mendaftar. Kebijakan ini dibuat agar mahasiswa yang sudah bermain di level klub tetap bisa membela almamaternya.
Dave menyebut pemain profesional di usia mahasiswa kerap tidak mendapat menit bermain yang banyak di klub. Karena itu, setiap tim diperbolehkan memakai satu pemain pro sesuai arahan Perbasi, terutama jika pemain tersebut juga menerima beasiswa jalur prestasi dari kampus.
Seluruh pertandingan dijalankan dengan standar resmi FIBA dan berada di bawah pengawasan langsung Perbasi. Juara dan runner-up dari regional Surabaya akan melaju ke The National di Jakarta untuk memperebutkan tiket menuju Asian University Basketball League 2027.







