Aaron Lukas Ambil Alih Intelijen AS, Tulsi Gabbard Pergi Saat Konflik Iran Memanas

Author: Redaksi Android62

Tulsi Gabbard meninggalkan jabatan Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat setelah hubungannya dengan Donald Trump disebut memanas terutama karena perbedaan pandangan soal Iran. Di saat yang sama, ia juga menghadapi tekanan pribadi besar karena kondisi kesehatan suaminya, Abraham Williams, yang didiagnosis kanker tulang langka.

Keputusan itu menutup masa tugas Gabbard di posisi puncak intelijen AS yang sejak awal sudah berada dalam sorotan politik. Di tengah kabar pengunduran dirinya, Trump langsung menunjuk Aaron Lukas sebagai direktur sementara untuk menjaga kendali atas lembaga penting tersebut.

Gabbard menyampaikan niat mundur itu langsung kepada Trump dalam pertemuan di Ruang Oval. Dalam surat pengunduran diri yang diunggah di platform X, ia juga menyampaikan terima kasih kepada Trump atas kepercayaan yang diberikan selama memimpin Kantor Direktur Intelijen Nasional selama satu setengah tahun terakhir.

Alasan keluarga menjadi penjelasan utama yang ia bawa ke publik. Gabbard mengatakan ia tidak mungkin membiarkan suaminya menghadapi perjuangan melawan penyakit itu seorang diri, sementara dirinya tetap menjalankan tugas negara yang menuntut perhatian penuh.

Fox News Digital sebelumnya melaporkan pengunduran dirinya akan efektif mulai 30 Juni 2026. Juru bicara Gedung Putih Davis Ingle juga menyebut keputusan itu berkaitan dengan kondisi kesehatan suaminya.

Namun, di balik penjelasan resmi itu, muncul pandangan lain dari internal pemerintahan. Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan Gabbard sebenarnya didorong keluar dari jabatannya, sementara Gedung Putih tidak memberi tanggapan resmi atas klaim itu.

Ketegangan soal Iran

Salah satu faktor yang ikut mewarnai kepergian Gabbard adalah perbedaan pandangan dengan Trump mengenai Iran. Pada Maret, Trump menyebut Gabbard memiliki pendekatan yang lebih lunak terhadap ambisi nuklir Teheran.

Ketegangan itu berlanjut ketika Trump pada Juni mengatakan Gabbard keliru saat menilai tidak ada bukti Iran sedang membangun senjata nuklir. Sejumlah sumber internal juga menyebut Gabbard tidak dilibatkan dalam beberapa pembahasan penting terkait kebijakan luar negeri.

Ia dilaporkan absen dalam musyawarah antara Trump dan para penasihat keamanan nasional mengenai operasi militer AS yang menggulingkan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, perang Iran, dan Kuba. Kondisi itu membuat posisinya di lingkaran dalam pemerintahan terlihat tidak selalu solid.

Trump bergerak cepat menunjuk pengganti sementara

Tak lama setelah pengunduran diri Gabbard mencuat, Trump mengumumkan lewat Truth Social bahwa Aaron Lukas akan mengisi jabatan direktur sementara. Lukas saat ini menjabat Wakil Direktur Utama Intelijen Nasional dan pernah menjadi perwira serta analis CIA.

Trump juga memuji kinerja Gabbard selama memimpin lembaga tersebut. Ia menyebut keputusan Gabbard untuk mendampingi suaminya sebagai langkah yang tepat di tengah perjuangan keluarga menghadapi penyakit serius.

Latar belakang yang sejak awal memicu sorotan

Saat pertama kali ditunjuk memimpin kantor itu, Gabbard sudah dianggap tidak memiliki pengalaman intelijen yang mendalam. Sebelum masuk ke pemerintahan Trump, ia dikenal sebagai mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat sebelum kemudian beralih mendukung Trump pada Pemilu Presiden 2024 dan bergabung dengan Partai Republik.

Kantor Direktur Intelijen Nasional sendiri dibentuk setelah serangan Al Qaeda pada 11 September 2001 untuk mengawasi 18 badan intelijen AS. Gabbard membawa latar belakang militer yang kuat, termasuk tugas di Irak pada 2004 hingga 2005 saat masih menjadi anggota Garda Nasional Hawaii, lalu menjadi perwira di Cadangan Angkatan Darat AS hingga berpangkat letnan kolonel.

Selama karier politiknya, Gabbard juga kerap menuai kontroversi bipartisan. Ia pernah dikritik karena pernyataan yang dinilai sejalan dengan narasi Rusia terkait invasi Ukraina pada 2022 dan karena pertemuannya dengan mantan Presiden Suriah Bashar Assad di Damaskus pada 2017.

Langkah internal yang ikut memicu gesekan

Di dalam pemerintahan, Gabbard juga dikaitkan dengan sejumlah kebijakan yang memunculkan ketegangan. Salah satunya adalah pembentukan Kelompok Inisiatif Direktur yang berupaya mendeklasifikasi dokumen terkait kematian mantan Presiden John F Kennedy, menyelidiki keamanan mesin pemilu, dan menelusuri asal-usul Covid-19.

Ia juga mencabut izin keamanan 37 pejabat AS aktif dan mantan pejabat AS pada Agustus lalu setelah mereka dituduh mengungkap identitas petugas intelijen yang bertugas secara rahasia di luar negeri. Gabbard bahkan menyetujui pencabutan izin keamanan sejumlah mantan pejabat intelijen, termasuk mantan Direktur CIA John Brennan.

Partai Demokrat kemudian menuding Gabbard menggunakan posisinya untuk mendukung agenda politik Trump. Mereka juga mengaitkannya dengan upaya membuktikan klaim yang telah dibantah mengenai dugaan kecurangan pada Pemilu Presiden AS 2020.

Source: www.beritasatu.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru