Permintaan Listrik Asia Tenggara Melejit, AC Rumah Tangga Jadi Pemicu Terbesarnya

Lonjakan kebutuhan listrik di Asia Tenggara kini banyak ditentukan oleh pendingin ruangan di rumah tangga. Dalam satu dekade terakhir, kepemilikan AC rumah tangga melonjak cepat seiring suhu global yang meningkat, gelombang panas yang lebih sering, dan pendapatan masyarakat yang ikut naik.

Laporan Southeast Asia Energy Outlook 2026 dari International Energy Agency menyebut jumlah AC rumah tangga di kawasan ini sudah naik dua kali lipat sejak 2015. Proyeksinya, jumlah itu masih bisa kembali meningkat hingga tiga kali lipat pada 2035 karena kebutuhan pendinginan makin penting di wilayah yang ekonominya tumbuh cepat.

Rumah tangga menjadi pusat tekanan listrik

Data IEA menunjukkan kenaikan permintaan listrik di Asia Tenggara tidak terutama berasal dari industri atau transportasi. Konsumsi listrik justru terkonsentrasi di sektor bangunan, dengan rumah tangga sebagai penyumbang terbesar.

Pertumbuhan pendapatan dan populasi membuat pembelian peralatan elektronik rumah tangga berlangsung lebih cepat. Sejak 2015, jumlah lemari pendingin dan freezer naik 40 persen menjadi hampir 120 juta unit, sementara kepemilikan mesin cuci meningkat 50 persen menjadi 90 juta unit.

Akibatnya, total konsumsi listrik dari peralatan rumah tangga kini mencapai sekitar 200 TWh per tahun. Angka itu hampir 60 persen lebih tinggi dibandingkan level pada 2015, dan AC menjadi perangkat dengan pertumbuhan paling signifikan di antara seluruh peralatan tersebut.

Sektor bangunan secara keseluruhan memakai energi sebesar 4,5 exajoule pada 2024. Urbanisasi dan perluasan akses ketenagalistrikan turut mengubah pola konsumsi masyarakat, membuat penggunaan listrik makin dominan di kehidupan sehari-hari.

Akses listrik di kawasan ini juga naik dari 86 persen pada 2015 menjadi 97 persen saat ini. Perluasan itu membuat semakin banyak rumah tangga dapat menggunakan peralatan listrik, termasuk pendingin ruangan, lebih luas dan lebih sering.

Listrik tumbuh lebih cepat daripada kebutuhan energi total

IEA menilai listrik kini memegang peran krusial dalam masa depan energi Asia Tenggara. Laju pertumbuhan permintaan listrik di kawasan ini disebut dua kali lebih cepat dibandingkan kebutuhan energi total.

Dalam sepuluh tahun ke depan, pertumbuhan permintaan listrik diperkirakan setara dengan seluruh produksi listrik Jepang saat ini. Selain rumah tangga, pertumbuhan pusat data di sejumlah negara Asia Tenggara juga menuntut investasi besar pada pembangkit dan jaringan transmisi.

Tekanan pada sistem energi tidak berhenti di rumah dan pusat data. Penjualan kendaraan listrik di Asia Tenggara meningkat dua kali lipat pada 2025 menjadi sekitar setengah juta unit, sehingga menambah beban baru pada jaringan kelistrikan.

Bauran energi masih berat ke fosil

Di tengah pertumbuhan kebutuhan itu, energi terbarukan memang terus berkembang. Kapasitasnya di Asia Tenggara telah mencapai 120 gigawatt pada 2024 dan diproyeksikan naik tiga kali lipat pada 2035.

Namun, lebih dari 70 persen tambahan kebutuhan energi sejak 2015 masih dipenuhi oleh komoditas fosil. Batu bara tetap menjadi sumber utama dalam pemenuhan tambahan kebutuhan tersebut, dengan pertumbuhan rata-rata 8 persen per tahun.

Data itu memperlihatkan bahwa lonjakan permintaan belum diimbangi perubahan bauran energi yang cukup cepat. Akibatnya, tekanan terhadap sistem kelistrikan tetap besar meski kapasitas energi bersih terus bertambah.

Jaringan listrik harus naik berlipat

IEA memperkirakan jaringan transmisi dan distribusi listrik di Asia Tenggara perlu ditingkatkan lebih dari dua kali lipat untuk mengimbangi lonjakan permintaan hingga 2050. Kebutuhan ini muncul karena sistem energi harus mampu menghadapi variabilitas pasokan sekaligus beban listrik yang terus naik.

Investasi pada jaringan listrik dan penyimpanan energi juga diperkirakan harus melonjak tajam. Dari sekitar 13 miliar dolar AS saat ini, kebutuhannya diproyeksikan naik menjadi sekitar 50 miliar dolar AS pada pertengahan abad ini.

Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa AC rumah tangga kini bukan sekadar perangkat penyejuk udara. Di Asia Tenggara, pendingin ruangan ikut membentuk arah baru permintaan listrik, kebutuhan infrastruktur, dan tantangan transisi energi di kawasan yang terus tumbuh cepat.

Berita Terkait