Adu Penalti Hancurkan Mimpi Arsenal, Declan Rice Tegaskan Tim Tetap Satu Dalam Menang dan Kalah

Declan Rice memilih merespons kekalahan Arsenal dengan nada tenang dan tegas. Setelah final Liga Champions berakhir pahit di Puskas Arena, ia menolak membiarkan satu kegagalan mengaburkan kebersamaan tim yang sudah dibangun sepanjang musim.

Gelandang Arsenal itu menegaskan bahwa hasil di titik putih tidak mengubah semangat ruang ganti. Menurutnya, kemenangan dan kekalahan tetap menjadi tanggung jawab bersama, bukan beban satu pemain saja.

Adu penalti yang mematahkan harapan

Arsenal harus menerima kenyataan kalah 3-4 dari Paris Saint-Germain lewat adu penalti setelah laga berjalan ketat hingga babak tambahan. Final di Budapest itu sempat memberi harapan besar ketika Kai Havertz membawa Arsenal unggul lebih dulu.

PSG kemudian menyamakan kedudukan melalui penalti Ousmane Dembele. Setelah itu, kedua tim bertahan imbang sampai pertandingan harus ditentukan dari titik putih.

Pukulan terakhir datang saat Gabriel Magalhaes, yang menjadi penendang terakhir Arsenal, gagal menuntaskan tugasnya. Tendangannya melambung di atas mistar dan memastikan PSG meraih gelar Liga Champions kedua mereka.

Rice menolak mencari kambing hitam

Sesudah pertandingan, Rice berbicara kepada TNT Sport dan menyoroti tipisnya jarak antara sukses dan gagal dalam adu penalti. Ia menyebut situasi semacam itu sebagai momen yang sering terasa seperti lotere, bahkan bagi tim-tim terbaik sekalipun.

“Ini seperti lotere. Beberapa tim terbaik sepanjang sejarah juga pernah kalah lewat adu penalti di final, dan kali ini kami yang merasakannya. Kami menang dan kalah bersama,” kata Rice.

Ucapan itu menunjukkan bahwa ia ingin menjaga suasana tetap kompak di tengah rasa kecewa yang besar. Ia tidak menyinggung kesalahan individu sebagai sumber utama kekalahan.

Dukungan untuk Eze dan Gabriel

Rice juga memberi pembelaan kepada Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes, dua pemain yang gagal menuntaskan penalti untuk Arsenal. Ia menilai keduanya tetap punya peran penting selama musim berjalan, termasuk saat membantu tim menjuarai Liga Inggris pekan lalu.

“Kami mencintai mereka dan kami selalu mendukung mereka. Hal seperti ini memang terjadi dalam sepak bola,” ujarnya.

Baginya, kontribusi keduanya tidak bisa dihapus hanya karena hasil adu penalti yang tidak berpihak. Sikap tersebut memperlihatkan upaya Arsenal menjaga kepercayaan internal setelah laga besar berakhir dengan rasa sakit.

Musim yang tetap dipandang istimewa

Meski gagal menggabungkan gelar Liga Inggris dan Liga Champions, Rice meminta perjalanan Arsenal dilihat secara menyeluruh. Ia menilai musim ini tetap luar biasa karena tim berhasil kembali menjadi juara Liga Inggris setelah penantian 22 tahun sejak era The Invincibles 2004.

“Musim yang luar biasa! Saya sangat kecewa, tetapi saya juga mencoba melihat semuanya secara lebih utuh, mengingat dari mana kami memulai perjalanan ini pada Juli lalu dan di mana posisi kami sekarang. Kami akan kembali,” ucap mantan kapten West Ham United itu.

Pernyataan Rice memberi gambaran bahwa Arsenal masih berada di jalur yang menjanjikan. Kekalahan di Budapest memang menyakitkan, tetapi perjalanan mereka sepanjang musim menunjukkan tim ini kembali menjadi kekuatan besar yang patut diperhitungkan di Eropa.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait