Satya Nadella mengingatkan perusahaan bahwa AI bukan sekadar alat kerja yang lebih murah dan cepat. Jika dipakai tanpa kendali, model AI justru bisa menyedot pengetahuan internal yang paling berharga dari sebuah organisasi.
Peringatan itu muncul setelah CEO Microsoft tersebut mengunggah penjelasan panjang di X pada Minggu (12/7/2026) malam, yang kemudian ditonton lebih dari 5,7 juta kali. Nadella menyoroti risiko yang ia sebut sebagai reverse information paradox atau paradoks informasi terbalik.
Pengetahuan Perusahaan Bisa Menjadi Bahan Bakar AI
Dalam penjelasannya, Nadella mengacu pada gagasan ekonom peraih Nobel Kenneth Arrow tentang paradoks perdagangan informasi. Menurut teori itu, penjual sulit membuktikan nilai informasi tanpa membuka isinya terlebih dahulu, tetapi setelah dibuka, pembeli langsung memilikinya.
Masalahnya, menurut Nadella, situasi di era AI justru berbalik. Perusahaan yang membeli sistem AI kerap harus menyerahkan konteks, dokumen, dan alur kerja internal agar hasil yang dihasilkan model itu benar-benar berguna.
“Anda pada dasarnya membayar kecerdasan dua kali, sekali dengan uang, dan sekali lagi dengan sesuatu yang lebih berharga, yakni pengetahuan hak milik yang harus Anda ungkapkan agar kecerdasan itu berguna. Semakin baik kinerja model yang Anda inginkan, semakin banyak pengetahuan yang harus Anda berikan,” ujar Nadella, dikutip dari TechCrunch, Selasa (14/7/2026).
Dengan kata lain, semakin banyak data kerja yang dimasukkan, semakin besar pula risiko pengetahuan organisasi ikut terserap ke dalam sistem AI yang dipakai.
Jejak Penggunaan Juga Menjadi Aset Pembelajaran
Nadella menilai ancaman itu tidak berhenti pada dokumen yang diunggah ke model. Ia menyebut ada AI exhaust, yakni jejak penggunaan yang tercipta dari prompt, alat yang dipanggil AI agent, hingga koreksi yang diberikan saat model salah menjawab.
“Model belajar dari exhaust, yaitu prompt yang ditulis orang, alat yang digunakan agen, dan terutama koreksi yang dilakukan ketika model salah. Setiap koreksi disaring menjadi pengetahuan institusional,” kata Nadella.
Artinya, setiap interaksi yang dilakukan karyawan bukan hanya membantu model memberi jawaban lebih baik, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran bagi penyedia layanan AI. Di titik ini, hubungan perusahaan pengguna dan vendor AI menjadi timpang karena penyedia model terus mempelajari bisnis pelanggan, sementara pelanggan tidak sepenuhnya tahu apa yang dipelajari pihak penyedia.
Microsoft Soroti Standar Ganda di Industri AI
Nadella juga mengkritik aturan distilasi model AI yang menurutnya tidak konsisten. Ia mengakui para pengembang model membutuhkan perlindungan hukum seperti prinsip fair use agar bisa melatih model dari data publik di internet.
Namun setelah model selesai dibuat, banyak penyedia AI justru membatasi distilasi, yaitu teknik mempelajari keluaran model untuk melatih model lain yang lebih efisien atau lebih murah. Nadella melihat ada standar ganda ketika pembelajaran dari data publik dibenarkan, tetapi pembelajaran dari keluaran model dibatasi.
Pada Februari lalu, Anthropic bahkan menuduh sebuah model open source asal China mengirim jutaan permintaan ke Claude untuk mempelajari perilaku model tersebut. Perusahaan itu juga mendesak Pemerintah Amerika Serikat memperketat kontrol ekspor teknologi AI.
Dalam unggahannya, Nadella juga menyinggung kebijakan penyedia AI yang tetap memberi hak kepada diri mereka sendiri untuk mempelajari data penggunaan dan interaksi pelanggan. Ia menilai jika aliran pembelajaran hanya satu arah, maka nilai akhirnya akan terkonsentrasi pada perusahaan pemilik infrastruktur AI.
Ia turut mengutip CEO Palantir Alex Karp yang menyebut pelanggan sebenarnya menginginkan kepemilikan atas alat produksi, bukan sekadar menjadi pengguna teknologi.
Kerangka 5C untuk Menahan Risiko Kebocoran Data
Untuk mengurangi risiko tersebut, Nadella menawarkan 5C Framework agar perusahaan tetap memegang kendali atas proses pembelajaran AI. Prinsip pertama adalah control, yakni membangun sistem evaluasi sendiri dan memiliki kepemilikan penuh atas memori AI, jejak penggunaan, serta umpan balik pengguna.
Prinsip kedua adalah capability, yaitu melakukan pelatihan dan penyempurnaan model di dalam lingkungan cloud milik perusahaan sendiri. Prinsip ketiga adalah choice, yaitu membangun lapisan orkestrasi agar perusahaan bisa berpindah dari satu model AI ke model lainnya tanpa kehilangan kemampuan yang sudah dibangun.
Prinsip keempat adalah cost, karena lapisan orkestrasi memungkinkan perusahaan memilih model paling efisien untuk tiap pekerjaan sehingga biaya operasional lebih terkendali. Prinsip kelima adalah compound, yaitu membuat siklus pembelajaran AI terus berkembang tanpa menyerahkan pengetahuan internal kepada pihak lain.
“Dalam mengonsumsi kecerdasan, Anda juga menciptakan kecerdasan. Dan apa yang Anda ciptakan seharusnya menjadi milik Anda,” tutup Nadella.
Minat ke Model Open Source Ikut Naik
Meski Nadella tidak menyebut open source sebagai jawaban langsung, banyak perusahaan mulai menjalankan model AI di infrastruktur sendiri atau secara on-premises. Tujuannya sederhana, agar data tetap berada di lingkungan internal perusahaan.
Idit Levine, pendiri sekaligus CEO Solo.io, mengatakan banyak pelanggannya awalnya mencoba model AI proprietary sebelum menyadari risiko dan biayanya. Setelah itu, mereka mulai melirik model open source yang bisa dijalankan secara lokal.
“Bisakah saya mengambil model open source dan menjalankannya secara on-prem? Model itu mampu melakukan hampir 90% dari apa yang dilakukan model besar dengan biaya yang jauh lebih murah. Mereka memahaminya, dan mereka dapat mengendalikannya,” kata Levine.
Solo.io merupakan perusahaan perangkat lunak jaringan dan keamanan yang membantu organisasi mengelola sistem AI. Teknologinya dipilih sebagai fondasi project agentgateway milik Linux Foundation, dan pelanggannya mencakup T-Mobile, ADP, serta SAP.
Tren serupa juga terlihat di Vercel dan OpenRouter, dua perusahaan yang menyediakan layanan pengalihan model AI. Keduanya melaporkan lonjakan penggunaan model open source, dan menurut data Vercel, model open source menyumbang sekitar 29% dari seluruh lalu lintas AI yang melewati gateway mereka pada bulan lalu.
Pernyataan Nadella mendapat perhatian besar karena Microsoft merupakan salah satu investor terbesar di OpenAI dan juga memiliki hubungan bisnis dengan Anthropic. Di tengah adopsi AI yang makin cepat, pesan itu menegaskan satu hal penting, perusahaan perlu memastikan pengetahuan yang lahir dari penggunaan AI tetap menjadi milik organisasi itu sendiri.
Source: www.beritasatu.com





