Eks komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Hossein Kanani Moghaddam kembali melontarkan pernyataan keras yang memicu sorotan atas hubungan Iran dan Amerika Serikat. Ia menyebut Iran memiliki kemampuan untuk menargetkan Presiden AS Donald Trump bahkan saat berada di Gedung Putih.
Moghaddam mengatakan klaim itu bukan sekadar ancaman lisan. Menurut dia, jika pasukan memang ditugaskan untuk membunuh Trump, Iran sudah siap menjalankannya.
Pembicaraan dengan Amerika dinilai bukan untuk damai
Di tengah pernyataan tersebut, Moghaddam juga menyinggung jalur negosiasi antara Teheran dan Washington. Ia menegaskan bahwa pembicaraan yang berlangsung bukan ditujukan untuk mencapai perdamaian, melainkan untuk menurunkan ketegangan.
“Kami tak bernegosiasi dengan Amerika untuk perdamaian. Kami bernegosiasi untuk mengurangi ketegangan,” kata Moghaddam. Ia menambahkan bahwa pembicaraan dengan pemerintahan AS juga dimaksudkan untuk memperkuat tuntutan Iran dan menjelaskan posisi mereka.
Dalam pandangannya, Iran tidak berbicara dengan Trump maupun pemerintahannya untuk berdamai. Fokus utama perundingan, kata dia, adalah memulihkan hak-hak Iran dan mengklarifikasi tuduhan yang dilayangkan Amerika Serikat.
Pernyataan keras soal balasan dan kesepakatan yang disebut ada
Moghaddam juga menegaskan bahwa pembalasan dan tindakan balasan tetap menjadi pilihan utama. Ia menyebut Iran tidak bernegosiasi untuk perdamaian dengan “Trump dan para pembantunya yang kriminal.”
Di bagian lain, ia menyinggung adanya MoU antara AS dan Iran yang berisi penghentian pertempuran hingga pencairan aset Iran yang dibekukan AS. Kesepakatan itu juga disebut mewajibkan kedua negara melakukan negosiasi dalam kurun waktu 60 hari untuk benar-benar mengakhiri perang.
Namun, menurut narasi yang disampaikannya, upaya negosiasi itu berlangsung bersamaan dengan serangan besar-besaran AS terhadap Iran. Serangan tersebut dipandang sebagai alat tawar Washington agar Teheran bersedia memenuhi permintaan mereka.
Tensi yang belum menunjukkan tanda mereda
Pernyataan Moghaddam, yang dikutip Middle East Monitor dan dilaporkan CNN Indonesia pada Senin, 13 Juli, menambah ketegangan yang sudah lama mengiringi hubungan kedua negara. Ucapan itu kembali menempatkan jalur diplomasi dan ancaman dalam satu ruang yang sama.
Di tengah kondisi tersebut, hubungan Iran dan Amerika Serikat tetap berada di bawah tekanan besar. Belum ada tanda yang menunjukkan tensi itu akan segera mereda.
Source: www.cnnindonesia.com






