AI dan Redanya Geopolitik Angkat IHSG, Pasar Masih Waspadai Arah Selanjutnya

Author: Redaksi Android62

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis pada perdagangan Senin pagi dan kembali mendekati area psikologis 5.900. Pada awal sesi, IHSG naik 10,36 poin atau 0,17% ke posisi 5.934.

Penguatan serupa juga terlihat pada indeks LQ45 yang bergerak ke 589,28, naik 0,03 poin atau 0,01%. Pergerakan yang terbatas itu menunjukkan pasar masih menakar dorongan eksternal dan kondisi domestik secara bersamaan.

Dukungan dari sektor AI masih dominan

Sentimen teknologi menjadi salah satu penggerak utama pasar, terutama dari euforia sektor AI. Saham SK Hynix dilaporkan melonjak 13% di atas harga IPO saat debut di bursa Nasdaq, Amerika Serikat.

Investor juga mulai melakukan positioning menjelang musim laporan keuangan kuartal II-2026. Ekspektasi terhadap emiten S&P 500 ikut memperkuat optimisme, dengan proyeksi laba kuartal II-2026 tumbuh 24% secara tahunan dan didorong terutama oleh sektor AI.

Indeks Posisi Perubahan
IHSG 5.934 +0,17% (+10,36 poin)
LQ45 589,28 +0,01% (+0,03 poin)

Redanya ketegangan Timur Tengah memberi napas tambahan

Selain sentimen teknologi, pasar juga mendapat dukungan dari meredanya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kesediaan melanjutkan pembicaraan dengan Iran membantu menenangkan investor.

Efeknya langsung terlihat pada harga minyak dunia yang ikut mereda. Kondisi ini menurunkan sebagian kekhawatiran inflasi global dan memberi ruang bagi bursa Asia, termasuk Indonesia, untuk dibuka lebih positif.

Ruang teknikal masih terbuka, tapi level kunci harus bertahan

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai peluang technical rebound IHSG masih terbuka. Dalam kajian tertulis yang dikutip mediaindonesia.com, ia menyebut IHSG perlu bertahan di atas area 5.900-5.882 agar penguatan tetap terjaga.

Jika area tersebut mampu dipertahankan, target berikutnya berada di rentang 5.948-6.000. Bagi pelaku pasar, rentang ini menjadi penting karena menentukan apakah penguatan awal dapat berlanjut atau kembali tertahan oleh kehati-hatian investor.

Fiskal domestik tetap menjadi perhatian

Di dalam negeri, pasar juga mencermati realisasi restitusi pajak semester I-2026 yang mencapai Rp171,2 triliun. Angka itu turun 31,5% secara tahunan, dengan penurunan terbesar berasal dari restitusi PPh Badan sebesar 40% dan PPN Dalam Negeri sebesar 29,7%.

Liza menilai perlambatan tersebut mengindikasikan strategi pemerintah menjaga arus kas. Namun, ia juga mengingatkan bahwa penundaan pencairan yang berkepanjangan berpotensi menekan likuiditas dunia usaha.

Pemerintah turut menaikkan outlook pembiayaan APBN 2026 menjadi Rp734,3 triliun. Hingga semester I-2026, realisasinya sudah mencapai Rp452 triliun atau 65,6% dari pagu awal, dengan strategi front loading untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar di awal tahun.

Ruang fiskal masih ditopang Saldo Anggaran Lebih sebesar Rp255 triliun, sehingga pemerintah memiliki keleluasaan untuk mengurangi intensitas penerbitan utang di semester II-2026. Investor kini menunggu data inflasi AS bulan Juni 2026 serta kesaksian Gubernur The Fed Kevin Warsh untuk membaca arah suku bunga global berikutnya.

Source: mediaindonesia.com

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru