Amor Fati Tidak Datang Seketika, Sherina Munaf Ungkap Proses Panjang Menerima Takdir

Author: Redaksi Android62

Sherina Munaf menegaskan bahwa amor fati, atau mencintai takdir, bukan sikap yang lahir dalam sekejap. Saat membicarakan perannya di film Filosofi Teras, ia menyebut penerimaan atas kenyataan hidup sebagai proses panjang yang menuntut disiplin hati.

Pandangan itu sejalan dengan tema besar Filosofi Teras, adaptasi buku karya Henry Manampiring yang mengusung gagasan stoisisme. Dalam momen peluncuran materi promosi film tersebut di Jakarta Pusat, Sherina memberi isyarat bahwa pengalaman hidup baru benar-benar dipahami setelah melewati banyak ujian.

Penerimaan yang Harus Dijalani Pelan-pelan

Dalam keterangannya di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (12/7/2026), Sherina mengatakan bahwa dirinya tidak langsung menerima takdir begitu saja. Ia menilai proses itu harus dijalani perlahan dan tidak bisa dipaksakan menjadi sikap instan.

“Oke amor fati ya, mencintai takdir. Jadi apakah aku langsung menerima takdir? Nggak langsung saya terima ya teman-teman,” kata Sherina Munaf.

Ia juga menyebut penerimaan terhadap takdir sebagai sebuah ujian yang perlu dilalui dengan kesiapan mental dan emosional. Menurut Sherina, sikap tersebut baru terbentuk setelah ada latihan batin yang konsisten dan berulang.

Obrolan Lama, Pemahaman yang Makin Dalam

Sherina menilai proses itu membutuhkan waktu dan kedisiplinan. Karena itu, ia merasa penting berdiskusi dengan orang-orang yang juga pernah menghadapi kesulitan hidup atau hardships.

Salah satu nama yang dekat dengannya adalah Henry Manampiring. Sherina mengatakan keduanya sudah lama berteman, bahkan sebelum Henry menulis Filosofi Teras, dan kerap berbagi obrolan soal hardships, terutama saat masa COVID.

Tokoh Peran Keterangan
Sherina Munaf Pemeran film Filosofi Teras Menekankan amor fati sebagai proses menerima takdir, bukan sikap seketika
Henry Manampiring Penulis buku Filosofi Teras Sudah lama berteman dengan Sherina dan sering berdiskusi soal hardships
Affandi Abdul Sutradara film Filosofi Teras Menegaskan kisah film dapat dirasakan lintas kalangan, bukan hanya masyarakat kota

Hot.detik.com mencatat, percakapan semacam itu ikut memperkuat pemahaman Sherina terhadap stoisisme yang dituangkan Henry dalam buku tersebut. Bagi Sherina, hidup memberi banyak pelajaran, lalu pemahaman itu kembali ditegaskan melalui filosofi yang diangkat dalam film.

Fokus Film Ada pada Rasa, Bukan Sekadar Lokasi

Di kesempatan yang sama, sutradara Affandi Abdul menjelaskan bahwa latar Jakarta dan sekitarnya bukan inti utama cerita. Menurutnya, yang ingin ditangkap adalah pengalaman emosional keluarga Nea, Siska, Guni, dan teman-temannya karena hal itu bisa dirasakan banyak orang.

Sherina sendiri tidak membuka detail lebih jauh soal pengalaman pribadi yang berkaitan dengan perannya dalam film itu. Namun, ia memberi isyarat bahwa tema amor fati di dalam film punya kedekatan dengan sesuatu yang pernah ia lalui.

“Ketika ada di film ini, aku nggak bisa spill soal itu ya, belum boleh. Tapi tentu saja itu sesuatu yang pernah aku lalui. Aku nggak akan masuk ke detailnya. Buat aku itu memang sebuah proses, dan it’s okay,” ujarnya.

Peluncuran materi promosi tersebut juga bertepatan dengan perayaan cetakan ke-100 buku Filosofi Teras. Henry Manampiring mengaku tak menyangka buku yang pertama kali terbit pada 2018 itu bisa mencapai pencapaian tersebut.

Dalam acara yang sama, teaser poster dan teaser trailer adaptasi film Filosofi Teras turut diperkenalkan kepada publik. Film ini dibintangi Sherina Munaf, Zee Asadel, Dinda Kanyadewi, Kiki Narendra, Putri Ayudya, hingga Lydia Kandou.

Source: hot.detik.com
Berita Terbaru