Paus Leo menempatkan kecerdasan buatan dalam pusat pembahasan moral yang jauh lebih luas daripada sekadar urusan inovasi. Dalam ensiklik pertamanya, Magnifca Humanitas, ia mengaitkan AI dengan kerusakan lingkungan, penindasan tenaga kerja, dan ancaman terhadap martabat manusia.
Sikap itu menunjukkan bahwa AI tidak dipandang sebagai alat netral. Bagi Leo, teknologi ini ikut berada dalam pola panjang eksploitasi yang perlu dijawab dengan kerangka keadilan sosial.
AI, lingkungan, dan biaya tersembunyi
Di dalam dokumen itu, Leo menyoroti tekanan AI terhadap sumber daya bersama seperti tanah dan air. Ia juga mengangkat persoalan limbah, polusi dari pengembangan teknologi, serta dampak penambangan mineral tanah jarang.
Sorotan itu memperlihatkan adanya biaya ekologis yang sering tersembunyi di balik percepatan industri teknologi. Leo menilai laju pengejaran AI tidak diimbangi komitmen lingkungan yang memadai, sehingga dorongan profit masih kerap mengalahkan tanggung jawab atas ciptaan.
Nada tersebut sejalan dengan garis besar yang pernah ditegaskan Paus Fransiskus melalui Laudato Si. Ensiklik pada 2015 itu sudah mengkritik budaya ekstraksi, eksploitasi manusia, dan keyakinan buta pada teknologi serta keuangan yang merusak ciptaan.
Martabat manusia di tengah dorongan teknologi
Leo juga menegaskan bahwa krisis ekologis tidak bisa dipisahkan dari martabat manusia. Ia memandang manusia sebagai makhluk yang hidup dalam jaringan relasi dengan sesama makhluk hidup dan seluruh ciptaan.
Dari cara pandang itu, AI tidak hanya dibaca sebagai alat, tetapi juga sebagai kekuatan yang membentuk cara manusia diperlakukan. Leo menyebut potensi AI untuk menindas, memunculkan kolonialisme baru, dan mengubah manusia menjadi sekadar data.
Ia turut menyoroti dampak AI terhadap pekerjaan dan kreativitas. Dalam kerangka itu, teknologi tidak dianggap netral karena dapat memperkuat struktur yang sudah timpang di pasar dan kapitalisme.
Warisan perbudakan dan pengakuan moral
Leo bahkan menghubungkan AI dengan warisan perbudakan. Ia menyampaikan permintaan maaf atas peran historis Gereja dalam melegalkan perdagangan budak.
Dalam konteks yang sama, ia menegaskan bahwa Paus Leo XIII menjadi paus pertama yang mengecam perbudakan pada 1888. Penekanan ini menempatkan pembahasan AI dalam lintasan sejarah panjang soal penindasan dan pembelaan martabat manusia.
Reparasi, komunitas, dan hak untuk tinggal
Bagi Leo, inti pesan ensiklik itu tidak berhenti pada pengakuan atas kerusakan. Ia menegaskan bahwa keadilan di Gereja menuntut pengakuan atas kerugian, reparasi yang layak, dan langkah pencegahan agar luka serupa tidak terulang.
Kerangka yang sama dipakai untuk membahas reparasi iklim. Komunitas ditempatkan sebagai pusat pengelolaan sumber daya, penentuan masa depan mereka, dan upaya membangun solusi iklim.
Pendekatan itu menuntut kedaulatan komunitas, tata kelola kolektif, dan pembebasan. Dalam pandangan yang sama, reparasi iklim juga harus memperhatikan perpindahan manusia, termasuk hak untuk tetap tinggal dan hak untuk bermigrasi.
Leo menyatakan bahwa hak-hak tersebut sudah lama didukung Gereja. Ia menegaskan bahwa kemanusiaan tumbuh bukan meski dibatasi, melainkan sering justru melalui keterbatasan itu.
Bagi banyak pengamat, posisi Leo membuatnya tampak melangkah lebih jauh dari sekadar pemimpin rohani. Dengan menantang AI, ia memperluas warisan moral Vatikan ke pertanyaan besar tentang keadilan, kerja, migrasi, dan masa depan planet.
