AI Disiapkan Jadi Senjata Baru UPI, dari Onboarding Hingga Buru Penipuan

Author: Redaksi Android62

AI mulai disiapkan sebagai lapisan penting berikutnya dalam pertumbuhan UPI di India, bukan hanya untuk menambah pengguna, tetapi juga untuk memperkuat keamanan transaksi. Di saat jaringan pembayaran itu sudah memproses lebih dari 750 juta transaksi per hari, NPCI melihat fase baru yang menuntut sistem yang lebih cerdas dan lebih aman.

CEO National Payments Corporation of India, Dilip Asbe, menyebut AI akan dipakai secara efektif untuk fase berikutnya dari UPI. Menurut dia, teknologi itu diperlukan untuk menjangkau pengguna baru sekaligus membantu mengembangkan layanan di atas ekosistem pembayaran digital yang sudah sangat besar.

Fokus pada kemudahan masuk ke UPI

Bagi NPCI, tantangan yang paling mendesak bukan lagi sekadar memperbesar volume transaksi. Lembaga itu ingin membuat proses masuk ke UPI lebih sederhana, terutama melalui solusi suara dan dukungan multibahasa.

Asbe menilai asisten suara bisa menjadi jalan yang lebih mudah bagi pengguna baru untuk bergabung dengan platform UPI. Ia juga menekankan bahwa pemanfaatan AI untuk layanan berbasis suara dan multibahasa dapat menurunkan hambatan awal saat pengguna mulai memakai pembayaran digital.

Fokus penerapan AI Tujuan utama Konteks di UPI
Onboarding pengguna baru Membuat proses masuk lebih mudah Diprioritaskan lewat suara dan multibahasa
Deteksi penipuan Melindungi pengguna dan jaringan Menangani fraud dan mule account
Layanan keuangan baru Mengolah jejak digital untuk kredit Menyasar pengguna dan merchant

Langkah ke arah itu sebenarnya sudah dimulai ketika NPCI meluncurkan sistem interaktif berbasis asisten suara pada 2023. Namun, Asbe mengakui tingkat adopsinya belum benar-benar lepas landas.

Dari pembayaran ke layanan keuangan yang lebih luas

UPI sendiri diluncurkan di India pada April 2016 dan sejak itu tumbuh menjadi infrastruktur pembayaran digital yang sangat penting. Kini, dorongan AI tidak berhenti pada sisi akuisisi pengguna, tetapi juga diarahkan untuk memperluas layanan keuangan di atas jejak digital yang sudah terbentuk.

Asbe mengatakan sistem otomatis berbasis AI berpotensi digunakan untuk menyediakan kredit bagi pengguna dan merchant yang memiliki digital footprint. Dengan kata lain, AI dapat masuk ke proses penilaian kelayakan pinjaman di masa mendatang.

Arah tersebut penting karena selama ini UPI lebih identik dengan pembayaran instan daripada layanan kredit. Jika jejak digital dipakai untuk menilai kelayakan, ekosistem pembayaran bisa berubah menjadi pintu masuk bagi layanan keuangan yang lebih luas.

AI juga disiapkan untuk menahan risiko penipuan

Ekspansi seperti itu tetap membawa risiko, terutama dalam transaksi online yang rentan penipuan. Karena itu, NPCI menyebut AI sebagai alat penting untuk memperkuat perlindungan dalam jaringan pembayaran yang terus membesar.

Asbe menegaskan AI perlu digunakan secara efektif untuk melindungi pengguna, mendeteksi fraud, dan menemukan mule account. Fokus ini menunjukkan bahwa NPCI tidak hanya melihat AI sebagai alat pertumbuhan, tetapi juga sebagai sistem kontrol risiko.

Di luar UPI, Asbe juga menilai ekosistem keuangan India punya peluang besar mengembangkan model AI sendiri. Menurut dia, bank, perusahaan fintech, dan pelaku sektor lain dapat membangun small language models yang lebih tajam, spesifik, dan sedapat mungkin deterministik.

Pandangan itu bertumpu pada besarnya data yang dimiliki ekosistem keuangan India. Dengan basis data yang luas, model bahasa yang lebih kecil dan terfokus dinilai dapat lebih relevan untuk kebutuhan operasional dibanding model yang terlalu umum.

Komentar Asbe muncul ketika Reserve Bank of India sudah mengeluarkan draf pedoman yang mewajibkan mekanisme mirip kill switch untuk seluruh alat AI yang digunakan bank dan lembaga keuangan. Ini memperlihatkan bahwa dorongan inovasi AI berjalan seiring dengan pengamanan yang lebih ketat.

Peta persaingan aplikasi masih timpang

Di sisi pasar aplikasi, UPI masih sangat terkonsentrasi. PhonePe dan Google Pay saat ini menguasai pangsa gabungan lebih dari 80 persen, sehingga kompetisi di lapisan aplikasi tetap jauh dari seimbang.

NPCI berencana memberlakukan batas pangsa pasar aplikasi hingga 30 persen pada akhir tahun ini. Kebijakan itu berpotensi mengubah peta persaingan di ekosistem UPI yang selama ini didominasi dua pemain besar.

Adapun aplikasi BHIM UPI milik NPCI baru memiliki sekitar 1 persen pangsa pasar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan UPI sebagai infrastruktur tidak otomatis diikuti pemerataan kekuatan di tingkat aplikasi.

Karena itu, AI untuk onboarding, dukungan suara, dan layanan multibahasa bisa menjadi kunci membuka basis pengguna baru yang lebih luas. Jika strategi itu berhasil, fase berikutnya UPI bukan hanya tentang jumlah transaksi yang terus naik, tetapi juga tentang siapa saja yang bisa masuk dan memanfaatkannya dengan lebih mudah.

Source: www.indiatoday.in
Berita Terbaru