AI Jadi Pelatih Bahasa Karyawan, Produktivitas Naik dan Rasa Canggung Mulai Turun

Author: Redaksi Android62

Pelatihan bahasa berbasis AI mulai dipakai perusahaan sebagai jalan pintas untuk mengatasi hambatan komunikasi di tempat kerja. Dari simulasi presentasi sampai latihan negosiasi, teknologi ini memberi ruang latihan yang lebih personal tanpa membuat karyawan merasa dihakimi.

Langkah itu muncul di tengah kebutuhan bisnis yang makin menuntut kelancaran komunikasi lintas negara. Di Indonesia, persoalan bahasa Inggris masih menjadi salah satu titik lemah yang membuat kolaborasi internal maupun eksternal sering tersendat.

Perusahaan mulai mencari cara yang lebih praktis

Pemanfaatan AI generatif dalam pelatihan karyawan kini dipandang sebagai pendekatan yang lebih kontekstual dibanding kelas konvensional. Melalui platform berbasis AI, materi belajar bisa disesuaikan dengan kebutuhan kerja masing-masing karyawan sehingga latihan terasa lebih relevan dan terukur.

Country Director ELSA Business Indonesia, Yasser Muhammad Syaiful, menilai kesiapan organisasi di era AI tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Ia menegaskan bahwa talenta juga harus siap beradaptasi, berkomunikasi, dan memanfaatkan teknologi secara efektif.

“Di era AI, kesiapan organisasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan talenta untuk beradaptasi, berkomunikasi, dan memanfaatkannya secara efektif.”

“Karena itu, investasi pada pengembangan keterampilan menjadi kunci untuk membangun organisasi yang lebih siap menghadapi perubahan serta meningkatkan Global Workforce Readiness,” ujar Yasser.

Tantangan bahasa masih belum ringan

Masalah yang ingin diselesaikan ini bukan sekadar soal kosakata. Laporan EF English Proficiency Index 2025 menunjukkan kemahiran bahasa Inggris pekerja Indonesia masih berada pada kategori rendah.

Kondisi itu ikut memengaruhi dunia usaha, terutama saat perusahaan harus berinteraksi dengan klien internasional atau menjaga kelancaran kolaborasi internal. Di sisi lain, sejumlah data menunjukkan tantangan tersebut cukup luas di banyak organisasi.

Sumber Temuan Dampak
EF English Proficiency Index 2025 Kemahiran bahasa Inggris pekerja Indonesia masih rendah Menjadi hambatan komunikasi di dunia kerja
IDC 2025 78 persen perusahaan kesulitan berinteraksi dengan klien internasional Komunikasi bisnis lintas negara terhambat
IDC 2025 74 persen responden mengaku hambatan komunikasi menurunkan efektivitas kolaborasi internal Pengambilan keputusan ikut melambat

Adopsi AI melonjak, kesiapan organisasi belum mengejar

Di saat kemampuan bahasa masih tertinggal, penggunaan AI generatif di kalangan pekerja justru sudah sangat luas. Work Trend Index 2024 dari Microsoft dan LinkedIn mencatat 92 persen pekerja di Indonesia telah memakai teknologi itu dalam aktivitas sehari-hari.

Namun, kesiapan organisasi untuk memanfaatkannya secara optimal belum merata. Cisco AI Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 23 persen organisasi di Indonesia yang benar-benar siap menggunakan AI secara optimal.

Situasi ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi tidak otomatis diikuti kesiapan sumber daya manusia. Di banyak kasus, yang menjadi kendala utama bukan lagi sekadar kemampuan teknis, melainkan rasa kurang percaya diri saat harus berbicara dalam situasi profesional.

PLN menjadi salah satu contoh penerapan

Implementasi platform pelatihan bahasa berbasis AI sudah dipakai oleh lebih dari 1.300 organisasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu contoh datang dari PT PLN (Persero) yang memanfaatkan platform itu untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris lebih dari 1.500 karyawan.

Program tersebut ditujukan untuk mendukung kolaborasi internasional di sektor transisi energi. Hasilnya, pelatihan itu disebut mampu meningkatkan produktivitas hingga 145 persen, sementara 84 persen peserta mengalami peningkatan kemampuan bahasa secara signifikan.

Bagi perusahaan, pola seperti ini membuat pelatihan tidak lagi bergantung pada kelas konvensional semata. AI memberi kesempatan latihan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kerja yang terus berubah, sekaligus membantu karyawan berlatih dengan lebih percaya diri.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru