AI Makin Kuasai Kerja Terstruktur, Reed Hastings Justru Menyorot Kembali Humaniora

Author: Redaksi Android62

Reed Hastings menilai AI akan membuat banyak pekerjaan yang selama ini identik dengan STEM justru makin mudah diambil alih mesin. Ia menyebut tugas seperti coding, pengolahan data, dan pekerjaan yang mengikuti pola jelas sebagai area yang sangat cocok untuk kecerdasan buatan.

Pandangan itu ia sampaikan dalam podcast Possible ketika mendorong siswa agar tidak terpaku pada satu jalur pendidikan saja. Hastings juga mengatakan bahwa jika harus membesarkan anak kecil hari ini, ia akan memberi perhatian lebih besar pada kemampuan emosional ketimbang hanya mengejar kemampuan pemrograman.

STEM tidak otomatis jadi jalur paling aman

Hastings melihat perkembangan AI bergerak sangat cepat di bidang yang menuntut logika, struktur, dan analisis. Dari sudut pandangnya, software engineering termasuk salah satu bidang yang berpotensi paling terdampak karena banyak tugasnya dapat dipetakan dengan jelas.

Ia juga menyoroti bidang medis berbasis data sebagai area yang tidak luput dari tekanan serupa. Menurut Hastings, pekerjaan yang melibatkan pengolahan informasi besar dan pola yang rapi akan semakin cocok dikerjakan mesin karena AI bisa memproses data lebih cepat dan mengenali pola dalam skala yang sulit ditandingi manusia.

Ia bahkan menyebut bahwa pekerjaan yang berkaitan dengan biologi dan analisis sejenis akan makin tertekan. “Hal-hal yang Anda lakukan dengan latar belakang biologi akan dilakukan jauh lebih baik dan lebih cepat oleh AI,” kata Hastings.

Humaniora justru mendapat ruang baru

Di sisi lain, Hastings melihat arah yang berbeda untuk humaniora. Ia menyebut sejarah, literatur, pemahaman tentang otak, dan cara manusia berinteraksi sebagai bidang yang kembali relevan di tengah kemajuan AI.

Bagi Hastings, tidak semua nilai bisa digantikan algoritma. Ia menilai seni, hiburan, dan olahraga tetap bertumpu pada pengalaman manusia yang sulit ditiru mesin, sehingga daya tariknya tidak semata lahir dari efisiensi atau hasil akhir.

Ia memberi contoh sederhana dengan menyebut penonton tidak akan tertarik menyaksikan pertandingan basket yang dimainkan robot. Contoh itu dipakai Hastings untuk menunjukkan bahwa unsur manusia tetap menjadi inti dari banyak bentuk hiburan.

Kemampuan emosional makin bernilai

Hastings menekankan bahwa kemampuan membaca orang lain, berempati, dan bekerja sama akan menjadi keunggulan penting di masa depan. Ia memandang keterampilan seperti itu lebih sulit digantikan komputer dibanding tugas teknis yang bisa dipetakan dengan jelas.

Karena itu, ia mengatakan akan “menggandakan keterampilan emosional” jika memiliki anak berusia tiga tahun saat ini. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan masa depan, menurut Hastings, tidak cukup hanya mengejar kecakapan teknis.

Ia menilai memahami situasi sosial dan membangun relasi akan menjadi bekal yang relevan saat mesin mengambil alih lebih banyak pekerjaan analitis. Di tengah AI yang makin canggih, manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk terhubung dengan manusia lain.

Pandangan serupa datang dari Anthropic

Gagasan Hastings juga sejalan dengan sejumlah tokoh teknologi lain yang memandang latar belakang nonteknis tetap punya nilai besar. Jack Clark, salah satu pendiri Anthropic, menyebut gelar sastra Inggris yang dimilikinya justru sangat relevan dalam dunia AI.

Clark menilai pelajaran sejarah dan cara manusia membangun narasi tentang masa depan memberi bekal penting saat berhadapan dengan teknologi yang kompleks. Ia juga mengatakan tidak akan memilih “rote programming” jika harus menentukan jurusan hari ini.

Daniela Amodei, sesama cofounder Anthropic, menyampaikan pandangan yang mirip. Ia mengatakan tidak menyesal mempelajari sastra Inggris dan menilai bahwa dalam dunia yang makin cerdas oleh AI, hal-hal yang membuat manusia tetap manusia akan semakin penting.

Pandangan para eksekutif ini memperlihatkan bahwa perkembangan AI tidak hanya mengangkat nilai bidang teknis, tetapi juga membuka kembali perhatian pada humaniora. Saat pekerjaan terstruktur makin mudah diotomatisasi, kemampuan memahami emosi, budaya, dan relasi sosial justru terlihat semakin dibutuhkan.

Berita Terbaru