AI Menggeser Ambisi Karier Perempuan Muda Indonesia, Jabatan Tak Lagi Jadi Ukuran Utama

Author: Redaksi Android62

Penggunaan AI di Indonesia tumbuh cepat, tetapi keterlibatan perempuan dalam bidang ini belum merata. Laporan PwC mencatat 69 persen pekerja di Indonesia sudah menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir, namun hanya 16 persen yang memakainya setiap hari.

Kesenjangan itu menjadi penting karena perempuan muda Indonesia kini menghadapi pasar kerja yang makin kompleks. Di tengah tekanan biaya hidup, tuntutan keluarga, dan perubahan cara kerja, banyak dari mereka tidak lagi memandang jabatan sebagai tujuan utama.

Karier yang lebih fleksibel semakin dicari

Temuan dalam Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027 menunjukkan bahwa kesuksesan tidak lagi semata diukur dari posisi atau pangkat. Fleksibilitas justru semakin menonjol sebagai nilai yang dicari, terutama ketika keputusan karier perempuan sangat dipengaruhi kondisi hidup dan prioritas yang berubah-ubah.

Bagi banyak perempuan muda, pekerjaan dipilih dengan pertimbangan yang lebih cair. Mereka tidak selalu mengejar posisi tinggi jika konsekuensinya adalah waktu untuk diri sendiri, keluarga, atau kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak.

Situasi ini membuat perusahaan perlu menata ulang cara mempertahankan talenta perempuan. Organisasi yang tidak mampu menyediakan fleksibilitas berisiko kehilangan pekerja perempuan terbaiknya.

Ada pula pilihan yang sangat personal. Sebagian perempuan memilih resign bukan karena gaji kecil, melainkan karena merasa waktunya habis untuk pekerjaan dan tidak lagi tersisa untuk diri sendiri.

Dalam kasus lain, ada yang rela melepas karier demi mendampingi anak secara penuh waktu. Pilihan-pilihan tersebut menunjukkan bahwa keputusan kerja perempuan muda sering berada di persimpangan antara aspirasi profesional dan tanggung jawab domestik.

Pendidikan masih dianggap jalan aman

Di tengah perubahan arah karier itu, pendidikan tetap dilihat sebagai investasi penting. Bagi banyak keluarga kelas menengah, biaya sekolah dan kuliah harus sebanding dengan peluang penghasilan di masa depan.

Beasiswa pun menjadi faktor yang semakin krusial. Data BPS menunjukkan mayoritas pelajar berasal dari kelompok aspiring middle class yang masih berada di garis rentan miskin, sehingga kondisi finansial menjadi pertimbangan utama.

Data Susenas pada Maret 2024 juga mencatat stagnansi atau penurunan jumlah siswa di sekolah negeri. Pada saat yang sama, jumlah siswa di sekolah swasta justru tumbuh konsisten.

Pola itu mengisyaratkan semakin banyak keluarga memilih sekolah swasta karena pertimbangan keamanan dan kualitas lingkungan belajar. Bagi perempuan muda yang sedang menyiapkan masa depan kerja, pendidikan tetap menjadi modal awal yang tidak bisa dipisahkan dari kalkulasi ekonomi keluarga.

Kesenjangan AI berisiko melebar

Meski penggunaan AI meluas, hanya sedikit perempuan yang menunjukkan minat belajar tinggi di bidang ini. Kesenjangan tersebut bukan hanya soal motivasi, tetapi juga akses yang terbatas dan representasi perempuan yang masih rendah.

Ada juga soal biaya yang mahal serta perbedaan tingkat keterlibatan. Dari 69 persen pekerja yang menggunakan AI, hanya 16 persen yang memakainya setiap hari, sehingga pemanfaatannya belum benar-benar merata di banyak lapisan pekerja.

Dalam konteks ini, banyak perempuan juga masih tertinggal dalam kesejahteraan ekonomi, sehingga sulit mencapai level pemanfaatan AI yang intensif. Jika perempuan tidak lebih proaktif masuk ke ruang AI, kesenjangan di bidang ini berisiko makin lebar.

Di saat yang sama, perempuan semakin sering menjadi pusat pengambilan keputusan ekonomi dalam keluarga. Namun model karier mereka cenderung fleksibel dan tidak linear, sehingga mereka membutuhkan jalur belajar dan kerja yang lebih adaptif agar tetap relevan di pasar kerja.

Tekanan untuk bertahan hidup, menjaga keluarga, dan menyesuaikan diri dengan teknologi baru membuat generasi perempuan muda Indonesia harus mengambil keputusan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar memilih pekerjaan.

Source: www.idntimes.com
Berita Terbaru