Bjarne Stroustrup kembali menempatkan kualitas kode AI di bawah sorotan tajam. Pencipta C++ itu menilai hasil tulisan mesin sering kali tidak layak langsung dipakai dan justru menambah pekerjaan bagi insinyur yang harus memeriksanya.
Kritik itu muncul saat penggunaan AI untuk menulis kode makin meluas di banyak perusahaan. Praktik yang sering disebut sebagai “vibe coding” ini mendorong alat seperti Claude Code dari Anthropic dan Codex dari OpenAI masuk ke alur kerja harian tim perangkat lunak.
Kode yang terlihat cepat, tetapi tetap menyisakan beban
Bagi Stroustrup, persoalannya bukan hanya apakah AI bisa menghasilkan kode dalam hitungan detik. Ia menyoroti bahwa setelah kode dibuat, pekerjaan manusia belum selesai karena output tersebut tetap harus divalidasi oleh insinyur berpengalaman sebelum masuk ke penggunaan nyata.
Ia menilai kode buatan AI cenderung membawa lebih banyak bug, lebih banyak celah keamanan, dan ukuran kode yang membengkak. Dampaknya, penggunaan memori ikut lebih besar dan proses pemeriksaan menjadi lebih rumit.
Stroustrup juga melihat masalah lain yang membuat alur kerja semakin berat. Hasil AI bisa berubah setiap kali prompt diubah, sehingga tim teknis harus terus mengecek ulang apa yang sebenarnya dihasilkan.
Dalam pandangannya, kondisi itu menggeser peran para senior dari pembuat keputusan teknis menjadi pemeriksa yang terus menerus. Alih-alih mengurangi beban, AI justru bisa membuat pekerjaan mereka terasa seperti tugas pengawasan yang melelahkan.
Mengapa para senior disebut mulai menjauh
Stroustrup mengatakan bahwa beberapa pengembang senior yang selama ini dibutuhkan untuk memvalidasi hasil kerja AI mulai memilih mundur. Mereka tidak ingin terus berada dalam alur kerja yang dianggap tidak stabil dan menguras tenaga.
Ia membandingkan situasi ini dengan perubahan kode oleh manusia. Saat programmer manusia melakukan perubahan, dampaknya biasanya lebih terbatas dan lebih mudah ditelusuri.
Sebaliknya, ketika AI yang menulis atau mengubah kode, lokasi perubahan tidak selalu jelas. Tim akhirnya perlu bekerja lebih keras untuk memahami bagian mana yang bergeser dan efek samping apa yang ikut muncul.
Respons terhadap pandangan itu juga muncul di media sosial. Seorang pengguna X bahkan mengaku meninggalkan dunia coding karena merasa Stroustrup tepat, terutama ketika backend tetap membutuhkan sentuhan manual.
Pengguna tersebut juga menilai otak seorang senior engineer akan menolak terus-menerus memvalidasi output AI. Ia menyebut tugas itu bahkan lebih buruk daripada membimbing programmer junior di dalam tim.
Manusia masih dianggap penting di area tertentu
Meski keras mengkritik tren AI coding, Stroustrup tetap percaya manusia belum tergantikan di bidang yang paling ia kuasai, yaitu desain bahasa pemrograman. Ia menilai kode di area itu masih akan ditulis manusia melalui pendekatan abstraksi, bukan diserahkan sepenuhnya kepada mesin.
Pandangan itu sejalan dengan pengalaman Ryan Peterman, yang menyebut contoh upaya AI menghasilkan kode di domain tersebut sejauh ini belum berhasil. Dari sudut pandang ini, AI belum menunjukkan kemampuan yang meyakinkan untuk mengambil alih kerja yang membutuhkan perancangan mendasar.
Stroustrup sendiri sudah berkecimpung selama puluhan tahun dalam desain bahasa pemrograman. Karena itu, komentarnya mengenai keterbatasan kode AI mendapat perhatian besar dari industri perangkat lunak.
Di saat industri justru makin agresif memakai AI
Sikap skeptis Stroustrup datang di tengah arus besar yang justru mendorong penggunaan AI dalam pengembangan perangkat lunak. Di banyak perusahaan, dorongan itu tidak hanya berasal dari antusiasme teknisi, tetapi juga dari kebijakan internal.
Anthropic sebelumnya menyatakan Claude menulis hampir 90 persen kode perusahaan itu. Pada saat yang sama, Meta dan Amazon disebut mendorong karyawan memakai lebih banyak AI untuk menulis kode sambil memangkas ribuan pekerjaan.
Narasi optimistis juga terus menguat dari para pendukung AI coding. Ryan Dahl, pencipta NodeJS, sebelumnya bahkan menyatakan bahwa era manusia menulis kode telah berakhir.
Google juga baru-baru ini mengklaim platform coding Antigravity 2.0 miliknya mampu menciptakan sistem operasi baru dalam 12 jam dengan menggunakan 93 sub-agent terpisah. Klaim seperti ini ikut memperkuat keyakinan bahwa otomasi coding akan terus meluas.
Namun komentar Stroustrup memperlihatkan jarak antara demo yang mengesankan dan realitas kerja di lingkungan teknis yang menuntut ketelitian tinggi. Di bidang yang sensitif terhadap performa, keamanan, dan struktur sistem, verifikasi manusia tetap menjadi penentu utama.
Source: www.indiatoday.in






