AI Mulai Jadi Mesin Uang Operator, Fokus Pendapatan Global Naik ke 38%

Author: Redaksi Android62

Perusahaan telekomunikasi global semakin melihat AI sebagai mesin pendapatan, bukan hanya perangkat untuk menghemat biaya. Laporan GSMA yang dipaparkan pada MWC Shanghai 2026 mencatat porsi proyek AI berorientasi pendapatan naik dari 16% pada kuartal II/2025 menjadi 38% pada kuartal I/2026.

Pergeseran ini terjadi ketika layanan konektivitas menghadapi persaingan ketat dan semakin dipandang sebagai komoditas. Operator perlu mencari nilai tambah melalui layanan digital, keamanan, data, serta ekosistem berbasis AI Telekomunikasi.

Arah Pemanfaatan AI Berubah

Wilayah/Periode Fokus Pendapatan Fokus Efisiensi
Global, Kuartal II/2025 16% 84%
Global, Kuartal I/2026 38% 62%
Asia Pasifik dan Cina 45% 55%

Data GSMA memperlihatkan efisiensi operasional masih mendominasi tujuan pemanfaatan AI, tetapi jaraknya dengan orientasi pendapatan mulai menyempit. Di Asia Pasifik dan Cina, 45% perusahaan telekomunikasi sudah memakai AI untuk mendorong pemasukan baru.

Bagi operator Indonesia, perubahan tersebut menuntut lebih dari sekadar penerapan teknologi baru. Tantangan utamanya adalah membentuk Monetisasi AI menjadi layanan yang benar-benar bernilai bagi pelanggan ritel maupun korporasi.

Bisnis Menjadi Ruang Monetisasi Terbesar

Segmen B2B selama ini menjadi area utama penggunaan AI untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat proses, dan mengoptimalkan wawasan berbasis data. Teknologi tersebut juga dipakai untuk mendukung transformasi digital yang terukur di lingkungan perusahaan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia, Marwan O. Baasir, menyebut pemanfaatan AI masih dominan di kalangan bisnis. Namun, kebutuhan perusahaan terhadap layanan terintegrasi membuka peluang pendapatan baru bagi operator melalui Solusi AI B2B.

XLSMART mengembangkan ekosistem ESTA yang meliputi ESTA Prime, ESTA eco, ESTA connect 5G, dan ESTA vision. Ekosistem itu menggabungkan AI, platform data, cloud, keamanan siber, dan Industrial IoT dalam satu platform terpadu.

Model seperti ini memberi ruang bagi operator untuk tidak hanya menjual jaringan. Nilai komersialnya bergantung pada kemampuan mengemas teknologi menjadi layanan yang dapat digunakan perusahaan secara berkelanjutan.

Pelanggan Ritel Juga Dibidik

Di pasar B2C, AI digunakan untuk mempercepat penanganan keluhan dan menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih relevan. Operator juga mengandalkannya untuk mempertahankan pelanggan lama melalui penawaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Andrijanto Muljono dari XLSMART mengatakan pengalaman yang sederhana dan personalisasi akan menjadi penentu nilai AI di segmen ini. “Sementara itu untuk B2C, pengalaman pengguna yang sederhana dan personalisasi akan menjadi kunci agar AI benar-benar menciptakan nilai,” katanya kepada Bisnis pada Kamis (2/7/2026).

Telkom Indonesia juga mengarahkan AI untuk membuat layanan digital lebih personal, mudah, dan relevan dalam kegiatan sehari-hari. Perusahaan melihat pertumbuhan dapat muncul ketika konektivitas, data, layanan digital, keamanan, dan ekosistem disatukan dalam satu pengalaman.

VP Corporate Communication Telkom Indonesia Andri Herawan Sasoko menekankan bahwa manfaat teknologi harus terasa langsung bagi pengguna. “Pada prinsipnya, teknologi harus terasa membantu: lebih cepat, lebih mudah, lebih aman, dan memberi manfaat nyata bagi semua orang, setiap rumah, dan kegiatan usaha,” ujarnya.

SuperApp Memerlukan Model yang Tepat

SuperApp berbasis AI dipandang sebagai ceruk baru, tetapi penerapannya harus mempertimbangkan kebutuhan pasar, interoperabilitas, serta nilai tambah yang jelas. Riset Grand View Research memperkirakan pasar SuperApp bernilai US$121,1 miliar pada 2025 dan dapat mencapai US$968,77 miliar pada 2033.

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia, Sarwoto Atmosutarno, menilai pengembangan SuperApps AI penting bagi eksistensi operator dalam tiga hingga empat tahun mendatang. Keberhasilan strategi ini pada akhirnya ditentukan oleh model bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan, bukan hanya penghematan biaya.

Berita Terbaru