Keberangkatan Aila Afifah menuju Tanah Suci menjadi perhatian karena ia tercatat sebagai calon jemaah haji termuda dari Indonesia pada musim haji mendatang. Siswi kelas VI SD berusia 13 tahun asal Pontianak Selatan itu dijadwalkan berangkat pada awal Mei bersama ayah dan bibinya.
Nama Aila mencuat bukan semata karena usianya yang masih belia, melainkan juga karena niat ibadah yang ia bawa. Ia menunaikan haji untuk menggantikan ibundanya yang telah wafat, sebuah alasan yang disampaikannya secara singkat saat mengikuti manasik haji terintegrasi di Aula Masjid Raya Mujahidin.
Niat yang dibawa untuk ibunda
Dalam suasana manasik, Aila mengungkapkan harapannya dengan kalimat yang sederhana namun sarat makna. “Senang bisa doakan ibu di sana,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari HIMPUH.
Ucapan itu menggambarkan bahwa perjalanan haji bagi Aila memiliki nilai emosional yang kuat. Di balik statusnya sebagai jemaah termuda, ada ikhtiar keluarga untuk menghadiahkan doa bagi seorang ibu yang telah tiada.
Profil jemaah haji Pontianak
Aila menjadi bagian dari 1.508 calon jemaah haji asal Pontianak yang akan diberangkatkan pada Mei. Dari jumlah tersebut, 843 merupakan jemaah perempuan, sedangkan 665 lainnya laki-laki.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menilai jumlah keberangkatan itu layak diapresiasi. “Ini luar biasa. Tahun ini mencapai 1.508 jemaah, bahkan perempuan lebih banyak dari laki-laki,” kata Edi.
Di antara seluruh jemaah dalam rombongan yang sama, terdapat rentang usia yang sangat jauh. Jemaah tertua berusia 83 tahun, sementara Aila menjadi yang termuda dengan usia 13 tahun.
Keterangan singkat data keberangkatan
- Total calon jemaah haji Pontianak: 1.508 orang
- Jemaah perempuan: 843 orang
- Jemaah laki-laki: 665 orang
- Jemaah tertua: 83 tahun
- Jemaah termuda: Aila Afifah, 13 tahun
- Jadwal keberangkatan: awal Mei
- Pendamping Aila: ayah dan bibi
Persiapan ibadah menjadi perhatian
Edi juga mengingatkan bahwa ibadah haji menuntut kesiapan fisik dan mental yang memadai. Ia menegaskan bahwa rangkaian ibadah berlangsung panjang, dengan puncaknya saat wukuf di Arafah, sehingga para jemaah perlu menjaga kondisi tubuh sejak awal.
“Ini proses panjang, puncaknya nanti saat wukuf di Arafah. Harus optimis, jaga kesehatan, dan mental yang kuat,” ujarnya.
Pesan itu relevan bagi seluruh jemaah, termasuk Aila yang masih sangat muda. Pendampingan keluarga, ketertiban, dan kesiapan mengikuti seluruh rangkaian ibadah menjadi bagian penting agar keberangkatan tersebut berjalan lancar.
Kisah Aila memperlihatkan bahwa ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan antrean panjang dan jadwal keberangkatan, tetapi juga dengan doa keluarga yang dibawa ke Tanah Suci. Dalam rombongan jemaah Pontianak yang beragam usia, Aila menjadi wajah paling muda dari sebuah perjalanan spiritual yang sarat makna bagi keluarga dan daerahnya.
Source: www.medcom.id