Air Bersih Kian Menipis di Jabar dan Jateng, Kekeringan Meluas ke Sejumlah Desa

Kekeringan di Jawa Barat dan Jawa Tengah mulai menekan kebutuhan dasar warga. Di sejumlah desa, ketersediaan air bersih menipis dan bantuan tangki air mulai digelontorkan untuk mencegah krisis yang lebih luas.

Di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, BNPB mencatat 376 kepala keluarga atau 1.179 jiwa terdampak di Desa Kedungjambal, Kecamatan Tawangsari, Desa Kunden, Kecamatan Bulu, serta Desa Weru, Kecamatan Weru. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo telah menetapkan status darurat bencana sejak 1 Mei hingga 30 November 2026.

Hingga kini, BPBD setempat menyalurkan sembilan tangki air bersih atau sekitar 45.000 liter untuk memenuhi kebutuhan warga. BNPB menyebut pemantauan kekeringan juga terus dilakukan di sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.

Situasi di Ciamis

Di Jawa Barat, dampak kekeringan terlihat di Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Sebanyak 123 kepala keluarga atau 310 jiwa terdampak akibat berkurangnya ketersediaan air bersih.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan Pemerintah Kabupaten Ciamis telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak 1 Juli hingga 30 September 2026. BPBD Kabupaten Ciamis juga telah mendistribusikan satu tangki air bersih atau sekitar 5.000 liter kepada warga.

Dampak Musim Kemarau Kian Meluas

BNPB menilai kondisi ini menunjukkan musim kemarau mulai memberi dampak nyata di dua provinsi tersebut. Dampaknya tidak hanya terasa pada warga di desa-desa terdampak, tetapi juga pada upaya pemerintah daerah menjaga pasokan air bersih agar tetap tersedia.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kerentanan terhadap kekeringan masih tinggi di wilayah yang bergantung pada sumber air setempat. Pemantauan dan distribusi air bersih disebut masih menjadi langkah utama untuk meredam dampak kemarau yang terus meluas.

Source: news.okezone.com
Berita Terkait