Air Liur dan Tutup Botol Bisa Bawa Kuman, Pembersihan Rutin Tak Boleh Ditunda

Banyak botol minum terlihat bersih hanya karena sudah dibilas, padahal bagian dalamnya bisa menyimpan kuman yang terus berkembang. Dalam kondisi tertentu, botol seperti ini bahkan dapat menjadi tempat tumbuh bakteri berbahaya hanya dalam tiga hingga empat hari jika tidak dicuci dengan benar.

Risiko itu makin besar karena botol dipakai berulang setiap hari dan sering tetap lembap di bagian dalam. Saat masih ada sisa air liur, minuman manis, atau aroma tertentu, mikroorganisme lebih mudah bertahan dan berkembang di dalam wadah minum.

Bukan sekadar terlihat bersih

Profesor Chuck Gerba dari Universitas Arizona, Amerika Serikat, menilai air liur menjadi sumber utama kontaminasi pada botol air. Dalam penelitiannya terhadap botol milik mahasiswa, jumlah bakteri disebut meningkat tajam hanya dalam tiga hingga empat hari penggunaan tanpa pembersihan menyeluruh.

Gerba juga menyoroti kebiasaan menyentuh tutup atau nosel botol. Sentuhan itu bisa memindahkan bakteri berbahaya seperti Salmonella, E. coli, dan Norovirus ke dalam wadah minum.

Kuman bisa menempel walau tidak terlihat

Ahli gastroenterologi Supriya Rao menjelaskan bahwa bakteri dapat membentuk biofilm, yaitu lapisan tipis yang sulit terlihat. Lapisan ini membantu mikroorganisme bertahan sehingga botol tampak bersih dari luar, padahal kuman masih menempel di bagian dalam.

Rao menegaskan bahwa setiap kali seseorang minum, bakteri dari mulut bisa masuk kembali ke botol dan berkembang di lingkungan yang lembap. Karena itu, membilas saja tidak cukup untuk menurunkan risiko kontaminasi pada botol minum.

Cuci dengan sabun, jangan tunggu terlalu lama

Rao merekomendasikan botol air dicuci dengan sabun setiap hari. Untuk botol yang dipakai menyimpan minuman manis atau beraroma, pembersihan sebaiknya dilakukan segera setelah digunakan karena gula dapat mempercepat pertumbuhan bakteri.

Ahli mikrobiologi dari Universitas Ottawa, Kanada, Jason Tetro, menambahkan bahwa botol tidak sebaiknya hanya dibiarkan lama dengan bilasan air. Jika tidak memungkinkan dicuci setiap hari, botol sebaiknya tidak dibiarkan lebih dari tiga hari hanya dengan bilasan air.

Setelah itu, botol perlu dibersihkan secara menyeluruh dengan sabun atau bahan pembersih lain. Tetro juga menyarankan pembersihan mendalam memakai sikat khusus dan sabun setidaknya setiap lima hingga tujuh hari.

Bau tidak sedap bisa menjadi tanda awal

Salah satu tanda yang mudah dikenali adalah bau tidak sedap dari botol. Menurut Tetro, aroma tersebut kerap menjadi sinyal adanya penumpukan bakteri di dalam wadah minum.

Botol juga bisa dibersihkan memakai mesin pencuci piring dengan suhu tinggi untuk membantu membunuh mikroorganisme. Membilas dengan air panas sekitar 70 derajat celsius setiap hari juga dapat membantu mengurangi jumlah bakteri, meski efeknya hanya sementara.

Jangan berbagi botol minum

Para ahli juga mengingatkan agar botol minum tidak dipakai bersama orang lain. Kebiasaan ini dapat memicu kontaminasi silang dan membuka peluang penularan bakteri, termasuk streptokokus grup A hingga penyebab meningitis.

Karena itu, perawatan botol minum perlu dilakukan dengan lebih serius daripada sekadar membilasnya sebentar. Pencucian rutin dengan sabun, pembersihan menyeluruh, dan kebiasaan tidak berbagi botol menjadi langkah penting untuk menekan paparan kuman dari wadah minum yang dipakai setiap hari.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait