Kanker yang Sama Tak Selalu Butuh Obat Sama, Terapi Presisi Buka Harapan Baru

Diagnosis dengan nama kanker yang sama tidak selalu berarti pasien memerlukan pengobatan yang identik. Terapi presisi membuka peluang penanganan yang lebih terarah karena dokter dapat menyesuaikan obat berdasarkan karakter biologis tumor.

Pendekatan ini dinilai penting bagi pasien kanker perempuan, terutama pada kanker payudara, serviks, dan ovarium. Tujuannya bukan hanya mengejar hasil pengobatan yang lebih optimal, tetapi juga mengurangi dampak terapi terhadap sel sehat.

Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre Singapura, Dr. See Hui Ti, mengatakan pemahaman terhadap kanker kini telah berubah. Kanker tidak lagi dipandang sebagai satu penyakit seragam pada semua pasien dengan diagnosis yang sama.

“Saat ini kami memahami bahwa kanker bukanlah satu penyakit yang sama pada setiap pasien. Dua orang yang sama-sama didiagnosis kanker payudara dapat memiliki karakteristik biologis yang berbeda sehingga pendekatan terapinya pun harus disesuaikan dengan profil masing-masing pasien,” kata Dr. See di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Profil tumor menjadi dasar pilihan obat

Penentuan terapi presisi bertumpu pada pemeriksaan histopatologi dan analisis molekuler. Kedua pemeriksaan tersebut membantu dokter mengenali sifat tumor secara lebih rinci sebelum menetapkan strategi pengobatan.

Pada kanker payudara, pemeriksaan dapat mengidentifikasi subtipe hormone receptor-positive, HER2-positive, dan triple-negative breast cancer. Setiap subtipe memiliki respons berbeda terhadap pengobatan sehingga penanganannya tidak dapat disamaratakan.

Hasil pemeriksaan dapat menjadi pertimbangan untuk memilih terapi hormonal, terapi target, terapi anti-HER2, imunoterapi, atau kombinasi beberapa metode. Keputusan akhir tetap disesuaikan dengan profil tumor dan kondisi klinis setiap pasien.

Dr. See menilai perkembangan tersebut menjadi tonggak penting dibandingkan pendekatan penanganan kanker satu hingga dua dekade lalu. Strategi yang lebih spesifik memungkinkan pasien memperoleh terapi yang lebih sesuai dengan karakter penyakitnya.

Beban kanker perempuan masih besar

Perkembangan terapi terjadi ketika beban kanker perempuan di tingkat global dan nasional masih tinggi. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan terdapat sekitar 2,4 juta kasus baru kanker payudara di dunia sepanjang 2024.

Pada periode yang sama, kasus baru kanker serviks secara global diperkirakan mencapai 604 ribu. Di Indonesia, Global Cancer Observatory atau GLOBOCAN mencatat 408.661 kasus kanker baru pada 2022 dengan 242.988 kematian akibat kanker.

Cakupan DataIndikatorJumlah
Global 2024Kasus baru kanker payudara2,4 juta
Global 2024Kasus baru kanker serviks604 ribu
Indonesia 2022Seluruh kasus kanker baru408.661
Indonesia 2022Kematian akibat kanker242.988

Di kalangan perempuan Indonesia, kanker payudara menjadi jenis yang paling banyak didiagnosis dengan 66.271 kasus baru. Kanker serviks tercatat 36.964 kasus baru, sedangkan kanker ovarium mencapai 15.130 kasus.

Kualitas hidup ikut menjadi perhatian

Inovasi penanganan kanker tidak hanya diarahkan pada peningkatan harapan hidup pasien. Kualitas hidup selama dan setelah pengobatan juga menjadi pertimbangan dalam pemilihan tindakan medis.

Pada kondisi tertentu, kemajuan teknik bedah dapat membantu perempuan berusia muda mempertahankan fungsi reproduksi. Kemungkinan memiliki keturunan tetap dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi klinis masing-masing pasien.

“Tingkat harapan hidup pasien kini makin tinggi,” ujar Dr. See. Namun, manfaat terapi tetap bergantung pada karakteristik kanker yang ditemukan pada setiap pasien.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terkait