Pelemahan rupiah ke level Rp 17.424 per dolar AS pada Selasa (5/5/2026) dipandang Airlangga Hartarto sebagai dampak dari tekanan yang datang bersamaan, baik dari luar negeri maupun dari kebutuhan dolar di dalam negeri. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu, kondisi pasar saat ini tidak bisa dibaca hanya dari pergerakan rupiah semata karena banyak mata uang lain juga sedang berada di bawah tekanan.
Airlangga menyebut penguatan dolar AS tengah memberi efek luas ke pasar valuta asing global. Dalam situasi seperti itu, rupiah ikut terseret melemah seiring mata uang lain yang juga mengalami tekanan terhadap dolar.
Di Jakarta, Selasa (5/5/2026), Airlangga mengatakan bahwa berbagai negara memang sedang mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa rupiah bergerak dalam lingkungan eksternal yang belum bersahabat bagi banyak mata uang.
Selain faktor global, permintaan dolar juga naik karena periode ibadah haji. Airlangga menjelaskan bahwa pada masa tersebut transaksi valuta asing biasanya meningkat, sehingga kebutuhan dolar ikut terdorong naik.
Tekanan lain datang dari kuartal II 2026, saat banyak perusahaan melakukan pembayaran dividen. Aktivitas korporasi itu menambah permintaan dolar dan ikut membebani pasar valas dalam jangka pendek.
Kombinasi dua tekanan itu membuat ruang penguatan rupiah menjadi lebih sempit. Selama permintaan dolar tetap tinggi, beban terhadap nilai tukar masih berpotensi bertahan.
Langkah antisipasi sudah disiapkan
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah menyebut terus memantau perkembangan global dan domestik. Airlangga mengatakan sejumlah langkah penjagaan sudah disiapkan untuk membantu menjaga stabilitas rupiah.
Salah satu instrumen yang disiapkan adalah kerja sama swap currency dengan negara mitra. Skema itu mencakup perjanjian dengan People’s Bank of China serta kerja sama dengan Jepang dan Korea Selatan.
Airlangga menyebut koordinasi dengan Bank Indonesia juga sudah dipersiapkan untuk mendukung langkah itu. Kerja sama swap currency diposisikan sebagai bantalan ketika kebutuhan valas meningkat dan pasar menghadapi tekanan.
Pemerintah juga menilai kebijakan fiskal dan moneter harus bergerak seiring. Koordinasi kedua kebijakan tersebut dianggap penting agar gejolak nilai tukar bisa diredam di tengah situasi global yang masih dinamis.
Dengan tekanan dolar AS yang kuat dan permintaan valas yang meningkat, perhatian pemerintah kini tertuju pada dua hal itu sebagai faktor paling berpengaruh terhadap arah rupiah dalam waktu dekat. Airlangga menegaskan bahwa pelemahan rupiah harus dibaca dalam konteks penguatan dolar yang juga menekan banyak mata uang lain di berbagai negara.
Source: www.beritasatu.com






