Aksi jual asing kembali menjadi sorotan di pasar saham domestik setelah investor luar negeri mencatat penjualan bersih Rp239 miliar. Tekanan itu muncul saat IHSG justru diperkirakan bergerak mendatar dengan kecenderungan sideways, sehingga pelaku pasar perlu membaca arah transaksi dengan lebih hati-hati.
Dalam kondisi seperti ini, ruang gerak indeks belum terlihat lebar. Secara teknikal, IHSG diproyeksikan berada di rentang 6.830 hingga 6.950, dengan area support di kisaran 6.780 sampai 6.830 dan resistance di rentang 6.950 hingga 7.000.
Pergerakan terbatas tersebut membuat pasar lebih sensitif terhadap aliran dana asing. Saham-saham berkapitalisasi besar juga kembali menjadi pusat perhatian karena transaksi pada emiten utama sering memengaruhi arah indeks secara keseluruhan.
Pada penutupan perdagangan Jumat sebelumnya, IHSG tercatat turun tipis 0,19 persen. Pelemahan itu sejalan dengan aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp239 miliar di pasar domestik.
Tekanan terbesar dari asing terlihat pada sejumlah saham unggulan. Daftarnya mencakup PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
Meski begitu, pasar masih mendapat dorongan dari luar negeri. Wall Street ditutup menguat pada perdagangan malam sebelumnya, dan kondisi itu memberi napas tambahan bagi bursa Asia, termasuk Indonesia.
Penguatan di Amerika Serikat datang cukup merata di tiga indeks utama. Dow Jones Industrial Average naik 0,77 persen, S&P 500 menguat 0,83 persen, dan Nasdaq Composite memimpin kenaikan dengan 1,02 persen.
Penguatannya didorong oleh data ketenagakerjaan yang lebih baik dari perkiraan. Data nonfarm payrolls Amerika Serikat bulan Juni mencatat tambahan 147 ribu lapangan kerja baru, lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang hanya 110 ribu.
Tingkat pengangguran juga turun ke 4,1 persen dari perkiraan 4,3 persen. Rangkaian data itu ikut memperkuat keyakinan pasar terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat dan memengaruhi arah sentimen global.
Di tengah situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung menunggu rilis data ekonomi makro Amerika Serikat berikutnya. Alasan utamanya sederhana, karena pergerakan dana global sangat dipengaruhi oleh data tersebut.
Dari sisi strategi perdagangan, kondisi sideways menuntut disiplin yang lebih tinggi. Investor yang memantau IHSG perlu mencermati area masuk dan keluar agar tidak terjebak pergerakan yang cepat berubah, sementara stop loss tetap menjadi alat penting untuk menjaga modal.
Riset harian juga menunjukkan bahwa minat pasar terhadap saham pilihan dapat berubah cepat dari satu hari ke hari berikutnya. Most.co.id mencatat pada Trading Idea per 5 Juni terdapat 51 emiten pilihan, turun dari 160 emiten pada hari sebelumnya.
Ajaib.co.id pun menyebut pembaruan rekomendasi saham dilakukan secara berkala setiap hari bursa berdasarkan data riil dari seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia. Dalam pasar yang belum menunjukkan arah kuat, pendekatan yang menggabungkan data historis, volume transaksi, dan area teknikal tetap menjadi pegangan utama bagi investor.







