Begitu smartphone bekas berpindah tangan, risiko tersembunyi belum otomatis hilang. Karena itu, pembeli perlu segera memastikan perangkat benar-benar aman dipakai, bukan hanya terlihat mulus dari luar.
Langkah paling awal yang patut dilakukan adalah mengecek seluruh bagian fisik perangkat satu per satu. Layar perlu diperiksa dengan teliti untuk mencari retak, titik mati, atau perubahan warna, sementara casing, tombol, port charger, lubang headset, speaker, dan kamera juga harus dipastikan berfungsi normal.
Setelah kondisi luar dipastikan, reset ulang sebaiknya dilakukan sendiri meski penjual mengaku sudah menghapus isi perangkat. Factory reset membantu menghapus data, aplikasi, dan pengaturan lama, sekaligus mengurangi potensi malware serta risiko keamanan lain yang masih tertinggal.
Di Android, reset bisa dilakukan melalui menu Settings > System > Reset > Factory Data Reset. Pada iPhone, jalurnya ada di Settings > General > Transfer or Reset iPhone > Erase All Content and Settings.
Sesudah reset, perhatian berikutnya tertuju pada akun lama yang mungkin masih tertaut. Ini penting karena smartphone modern memiliki sistem anti-pencurian seperti Activation Lock pada iPhone dan Google FRP pada Android.
Activation Lock perlu dilepas melalui iCloud, sedangkan akun Google lama tidak boleh masih menempel di Android. Jika setelah reset perangkat masih meminta akun pemilik sebelumnya, berarti ponsel belum sepenuhnya aman untuk digunakan.
Saat keamanan dasar sudah beres, sistem operasi juga perlu dicek apakah masih menerima pembaruan. Menu Settings > Software Update dapat dipakai untuk melihat apakah ada update yang tersedia pada perangkat tersebut.
Pembaruan sistem berguna untuk menutup celah keamanan, memperbaiki bug, dan menambah fitur baru. Setelah itu, kartu SIM bisa dipasang untuk menguji telepon, SMS, data seluler, Wi-Fi, Bluetooth, dan GPS agar fungsi dasarnya benar-benar berjalan normal.
Tes koneksi ini juga membantu mendeteksi ponsel yang terkunci jaringan. Jika konektivitas bermasalah, ada kemungkinan perangkat terikat operator tertentu atau tidak cocok dengan frekuensi jaringan di lokasi pengguna.
Kondisi seperti itu sering tidak langsung terlihat saat awal pemakaian. Karena itu, pengecekan jaringan perlu dilakukan sebelum smartphone bekas masuk ke penggunaan harian.
Begitu semua fungsi utama terasa aman, lapisan perlindungan tambahan sebaiknya langsung diaktifkan. PIN, sidik jari, atau face unlock bisa dipasang untuk memperkecil risiko akses tidak sah.
Aplikasi keamanan terpercaya seperti antivirus, pelacak perangkat, dan pembersih sistem juga dapat dipertimbangkan. Setelah itu, aplikasi penting seperti chat, perbankan, dan penyimpanan cloud bisa diunduh sesuai kebutuhan.
Langkah terakhir yang tak kalah penting adalah mengamankan data dan bukti pembelian. Kontak, foto, dan file penting sebaiknya segera dicadangkan dan disinkronkan agar tetap aman jika perangkat nanti bermasalah atau harus diatur ulang lagi.
Struk, nomor IMEI, dan riwayat percakapan dengan penjual juga perlu disimpan rapi. Nomor IMEI sebaiknya dicatat di tempat yang mudah diakses, seperti catatan ponsel atau email, karena data itu dapat berguna saat muncul persoalan terkait kepemilikan atau garansi.
Source: www.idntimes.com