Nama resmi Iran di panggung internasional baru digunakan setelah pemerintah negara itu meminta perubahan penyebutan diplomatik pada 4 Desember 1934. Permintaan yang berlaku mulai Maret 1935 itu menandai langkah politik untuk memakai nama yang telah lama dikenal oleh penduduk setempat.
Perubahan tersebut tidak menghapus Persia dari sejarah. Persia tetap digunakan untuk membicarakan warisan peradaban, seni, sastra, dan budaya, sedangkan Iran menjadi nama resmi negara modern.
Persia dan Iran Berasal dari Sudut Pandang Berbeda
Persia merupakan sebutan dari luar yang terutama dipopulerkan Yunani kuno. Nama itu berawal dari Parsa atau Pars, sebuah wilayah di bagian selatan dataran tinggi Iran, lalu meluas untuk menyebut kekaisaran besar yang dipimpin Cyrus the Great.
Selama berabad-abad, negara-negara Eropa memakai Persia dalam peta, dokumen diplomatik, dan karya sastra. Karena datang dari pihak luar, istilah tersebut dikenal sebagai exonym.
Iran memiliki asal yang berbeda karena tumbuh dari penyebutan masyarakat setempat. Kata ini berakar dari bahasa Avestan airyānąm, terkait istilah Arya, dan telah muncul dalam teks Zoroastrianisme serta sastra Persia kuno.
| Istilah | Asal Penyebutan | Penggunaan Utama |
|---|---|---|
| Persia | Bangsa luar, terutama Yunani kuno | Warisan wilayah, kekaisaran, dan kebudayaan |
| Iran | Masyarakat setempat | Nama resmi negara modern |
Bagian dari Program Modernisasi
Keputusan memakai Iran secara resmi berlangsung pada masa Reza Shah Pahlavi, yang naik takhta pada 1925. Kebijakan itu berkaitan dengan program modernisasi sekaligus keinginan menegaskan kedaulatan nasional di hadapan dunia.
Pemerintah ingin nama internasional negara tersebut selaras dengan identitas yang digunakan masyarakatnya sendiri. Sejumlah intelektual pada masa itu juga menganggap Persia terlalu sempit karena merujuk pada wilayah atau kelompok etnis tertentu.
Iran dipandang lebih mampu mencakup keragaman etnis dan budaya di dalam negara itu. Namun, perubahan nama ini sempat membingungkan sejumlah pihak di Barat, termasuk Inggris yang khawatir Iran mudah tertukar dengan Irak dalam komunikasi diplomatik.
Beritasatu mencatat sejumlah perusahaan, lembaga keuangan, dan institusi yang lama menggunakan nama Persia juga perlu menyesuaikan identitasnya. Sebagian besar negara kemudian mengikuti penggunaan Iran dalam dokumen resmi.
Nama Baru untuk Negara dengan Sejarah Sangat Tua
Nama Iran modern berdiri di atas wilayah yang menyimpan jejak permukiman sangat panjang. Situs Chogha Bonut menunjukkan jejak kehidupan kuno sekitar 7.200 SM, sementara dataran tinggi Iran telah dihuni sejak era Paleolitikum sekitar 100.000 tahun lalu.
Peradaban Persia menonjol ketika Cyrus II menyatukan suku-suku semi-nomaden dan mengalahkan bangsa Medes pada 550 SM. Kemenangan tersebut melahirkan Kekaisaran Achaemenid, salah satu kekuasaan terbesar pada dunia kuno.
Wilayah Achaemenid pernah membentang dari Lembah Sungai Nil di Mesir hingga Lembah Indus di India. Cyrus dikenal menerapkan pemerintahan yang relatif toleran, termasuk melalui Cyrus Cylinder pada 539 SM yang memberi kebebasan beragama, bahasa, dan tradisi bagi bangsa taklukkan.
Salah satu kebijakan yang paling dikenal ialah pembebasan bangsa Yahudi dari pembuangan di Babilonia. Pada masa Darius the Great, antara 522 hingga 486 SM, kerajaan mengembangkan mata uang standar, ukuran seragam, Royal Road, dan sistem pos.
Warisan Persia Tidak Berakhir pada Penaklukan
Setelah Alexander Agung menaklukkan Achaemenid pada 330 SM, identitas Persia tetap bertahan melalui Dinasti Parthia dan Sassanian. Parthia berkuasa dari 247 SM hingga 224 M dan dikenal lewat taktik Parthian shot, yakni memanah ke belakang saat berkuda menjauh.
Strategi tersebut digunakan melawan pasukan Romawi dalam Pertempuran Carrhae pada 53 SM. Dinasti Sassanian kemudian berkuasa dari 224 hingga 651 M dan sering dipandang sebagai masa keemasan terakhir Persia kuno.
Pada periode Sassanian, berkembang inovasi seperti yakhchal, sistem irigasi yang lebih maju, serta Academy of Gondishapur sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kedokteran. Zoroastrianisme menjadi agama utama negara sebelum penaklukan pasukan muslim Arab pada abad ke-7.
Bahasa, sastra, seni, dan tradisi Persia tetap hidup meski wilayah itu mengalami perubahan politik besar. Pada 1959, pemerintah menyatakan Persia dan Iran dapat dipakai bergantian dalam konteks internasional, dengan fungsi yang berbeda namun saling terhubung.
