Di sektor ganda Madrid Open 2026, Janice Tjen kembali dipasangkan dengan Aldila Sutjiadi untuk memburu hasil yang lebih baik di turnamen WTA 1000 tersebut. Langkah mereka langsung tidak mudah, karena di babak pertama La Caja Magica sudah menunggu duet Ukraina-Denmark, Marta Kostyuk dan Clara Tauson.
Pasangan Indonesia itu datang dengan modal yang tidak kecil. Janice dan Aldila pernah menjuarai WTA 250 Chennai Open 2025, sehingga kerja sama mereka bukan hal baru dan tetap menyimpan peluang untuk kembali memberi kejutan.
Tantangan langsung di laga pembuka
Lawatan ke Madrid menempatkan Janice dan Aldila dalam situasi yang menuntut kesiapan sejak awal. Menghadapi Kostyuk dan Tauson pada laga pertama berarti mereka harus cepat menemukan ritme permainan agar tidak kehilangan kendali di awal pertandingan.
Meski begitu, rekam jejak positif yang pernah mereka catat bersama tetap menjadi pegangan penting. Keberhasilan di Chennai menunjukkan bahwa duet ini punya chemistry yang bisa muncul saat dibutuhkan, terlebih ketika format ganda menuntut komunikasi dan penyesuaian cepat.
Janice juga dibebani sektor tunggal
Selain turun di ganda, Janice juga tampil di nomor tunggal di Madrid. Pada awalnya, ia dijadwalkan bertemu unggulan ke-33 Maria Sakkari, tetapi susunan lawan berubah setelah Ekaterina Alexandrova mundur.
Kini, Janice akan menghadapi petenis Rusia, Alina Charaeva. Secara peringkat, Charaeva ada di posisi 129 WTA, sehingga Janice punya peluang untuk tampil lebih percaya diri, meski lawan yang berubah tetap menuntut konsentrasi penuh sejak awal laga.
Perubahan lawan di menit-menit menjelang pertandingan juga membuat persiapan menjadi lebih dinamis. Dalam situasi seperti ini, pemain biasanya harus cepat menyesuaikan strategi dan membaca karakter lawan yang baru.
Madrid jadi ajang untuk mencari kembali ritme
Turnamen di Spanyol ini terasa penting bagi Janice karena datang di tengah tren hasil yang belum stabil. Dalam empat turnamen terakhir, ia belum meraih kemenangan, termasuk saat tampil di Indian Wells, Miami Open, dan Charleston Open.
Janice juga sempat batal bermain di Rouen Open pekan lalu karena cedera setelah membela Indonesia di ajang internasional. Kondisi itu membuat Madrid bukan sekadar turnamen biasa, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi kebugaran dan menemukan kembali rasa percaya diri di lapangan tanah liat.
Bagi petenis Indonesia peringkat 39 dunia itu, tampil di dua nomor sekaligus pada level WTA 1000 jelas menjadi ujian fisik dan mental yang berat. Konsistensi akan sangat menentukan karena jadwal padat menuntut kemampuan menjaga fokus dari satu pertandingan ke pertandingan lain.
Modal dari tim nasional masih terbawa
Di tengah hasil yang belum ideal di tur, Janice masih membawa bekal positif dari penampilannya bersama tim nasional. Pada awal April, ia tampil bagus saat membantu Indonesia melaju ke babak play-off qualifier Piala Billie Jean King di India.
Performa tersebut menjadi pengingat bahwa kapasitas Janice tetap ada ketika ia menemukan momentum yang tepat. Situasi itu bisa menjadi dorongan tambahan saat ia kembali menghadapi tekanan di level WTA, terutama saat harus membagi energi antara nomor tunggal dan ganda.
Kehadiran Aldila Sutjiadi juga memberi nilai tambah bagi sektor ganda Indonesia di Madrid. Kombinasi pengalaman, status mereka sebagai mantan juara di Chennai, dan kebutuhan untuk bangkit di tanah liat membuat laga di La Caja Magica menjadi ajang yang relevan untuk mengukur kembali kekompakan keduanya.
Source: www.viva.co.id