Gestur Ali al-Zaidi di Ruang Oval Gedung Putih menjadi pesan politik yang kuat. Saat Presiden Donald Trump berbicara keras tentang Iran, perdana menteri Irak itu duduk di sampingnya tanpa menyinggung Teheran dalam pernyataan publiknya.
Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut momen itu sebagai citra yang kuat karena menunjukkan kesediaan al-Zaidi menyelaraskan diri dengan Washington. Pertemuan pada Selasa, 14 Juli itu juga dipandang Gedung Putih sebagai kemenangan diplomatik setelah berminggu-minggu upaya mengamankan kunjungan tersebut.
Agenda Irak yang Ingin Dipertegas
Di hadapan Trump, al-Zaidi memilih menonjolkan agenda Iraq First. Fokus utamanya adalah penguatan hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat, penyelesaian penarikan pasukan AS dari Irak, pelucutan senjata milisi, dan memastikan seluruh senjata berada di bawah otoritas resmi negara.
Trump kemudian memuji al-Zaidi sebagai pemimpin hebat dan pejuang bagi Amerika. Seusai percakapan resmi, agenda makan siang yang semula tidak direncanakan pun ditambahkan ke dalam rangkaian kunjungan.
Tekanan dari Iran dan Langkah yang Dipilih Baghdad
Kunjungan ke Washington itu tidak datang tanpa tekanan. Pejabat AS mengatakan Iran sempat menekan al-Zaidi agar tidak menjadikan Washington sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertamanya.
Namun, al-Zaidi tetap memilih bertemu Trump. Langkah tersebut dibaca sebagai penegasan bahwa pemerintahannya ingin mengutamakan kepentingan nasional Irak tanpa sepenuhnya terikat pada pengaruh Teheran.
Milisi Syiah Menjadi Ujian Terbesar
Isu yang paling berat dalam pembicaraan di Washington adalah komitmen al-Zaidi untuk melucuti senjata milisi Syiah yang didukung Iran. Topik itu menjadi pembahasan utama dalam pertemuannya dengan Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Dari sisi Washington, dukungan politik al-Zaidi dianggap penting karena Irak selama ini berada di titik yang rumit antara dua kekuatan besar. Di satu sisi Baghdad membutuhkan hubungan strategis dengan Amerika Serikat, tetapi di sisi lain jalur politiknya masih sangat dipengaruhi Teheran.
| Agenda Utama Al-Zaidi | Fokus | Keterangan |
|---|---|---|
| Hubungan ekonomi | Penguatan kerja sama | Dengan Amerika Serikat |
| Pasukan AS | Penarikan bertahap | Jadwal penarikan pada September mendatang |
| Milisi | Pelucutan senjata | Menertibkan kelompok bersenjata |
| Otoritas negara | Kontrol senjata | Semua senjata di bawah negara Irak |
Dari Pemakaman Khamenei ke Ruang Oval
Kontras kunjungan ini membuat posisi al-Zaidi terlihat semakin rumit. Pekan lalu ia tampak berada di tengah pelayat dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, lalu pekan ini menjabat tangan Trump di Gedung Putih.
Al-Zaidi baru berusia 40 tahun dan berlatar belakang pengusaha. Ia menjabat pada Mei lalu setelah kebuntuan politik panjang di Irak dan muncul sebagai figur kompromi yang didukung faksi Syiah sekaligus pemerintahan Trump.
Washington memandangnya sebagai sosok yang tidak bergantung pada dukungan Teheran, berbeda dengan rivalnya, mantan perdana menteri Nouri al-Maliki. Karena itu, kunjungan ke Washington dibaca bukan sekadar agenda protokoler, melainkan penanda arah politik pemerintahan baru Irak.
Dunia internasional kini menunggu apakah langkah politik di Washington akan diikuti tindakan nyata di lapangan. Ujian berikutnya ada pada kemampuan al-Zaidi menertibkan kelompok bersenjata, sekaligus menepati janji kampanyenya untuk memberantas korupsi dan memperkuat kedaulatan negara.
Source: mediaindonesia.com






