Pemimpin Arab Desak Trump Menjauh dari Netanyahu, Perdamaian Regional Dipertaruhkan

Sejumlah pemimpin Arab dilaporkan mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meninjau ulang dukungannya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Mereka menilai keberlanjutan kepemimpinan Netanyahu dapat menghambat peluang terbentuknya pengaturan perdamaian yang lebih luas di Timur Tengah.

Desakan itu disampaikan secara tertutup ketika Israel bersiap menghadapi pemilihan umum pada akhir Oktober. Masa politik tersebut dipandang penting karena sikap Washington terhadap Netanyahu dapat memengaruhi arah diplomasi regional.

Netanyahu Dinilai Menghambat Agenda Kawasan

Menurut laporan KAN News pada Rabu (15/7) waktu setempat, para pemimpin Arab memandang Netanyahu sebagai penghalang perdamaian regional. Penilaian itu juga mencakup komposisi pemerintahan Israel yang saat ini dipimpinnya.

Pemerintah-pemerintah Arab yang terlibat disebut menginginkan pengaturan kawasan yang melibatkan lebih banyak negara. Namun, langkah menuju visi tersebut dinilai sulit bergerak apabila arah kepemimpinan Israel tidak berubah.

Keberatan mereka tidak hanya berkaitan dengan hubungan bilateral masing-masing negara dengan Israel. Para pemimpin Arab melihat posisi Netanyahu sebagai faktor yang dapat menentukan ruang bagi kesepakatan diplomatik yang lebih besar.

Haaretz, dengan mengutip diplomat Arab yang mengetahui pembicaraan itu, melaporkan bahwa Netanyahu semakin dipandang sebagai penghambat ambisi diplomatik Trump di Timur Tengah. Pandangan tersebut mendorong komunikasi langsung kepada Washington menjelang pemilu Israel.

Tekanan Ditujukan kepada Trump

Upaya para pemimpin Arab berfokus pada cara Trump menilai masa depan kepemimpinan Israel. Mereka disebut berharap penilaian Presiden AS itu tidak semata didasarkan pada kedekatan personalnya dengan Netanyahu.

Sejumlah sumber diplomatik, seperti dilaporkan mediaindonesia.com, bahkan menyampaikan rendahnya kepercayaan mereka terhadap kepemimpinan Netanyahu. Kekhawatiran itu juga diarahkan pada susunan pemerintahan yang mendukung perdana menteri tersebut.

Para pemimpin Arab diyakini melihat peluang bahwa Trump mulai menganggap Netanyahu sebagai hambatan bagi agenda regional yang lebih luas. Meski demikian, belum ada keputusan resmi dari Trump yang menunjukkan perubahan dukungan terhadap pemimpin Israel itu.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pemilu Israel tidak hanya menjadi urusan politik domestik. Kontestasi tersebut juga menjadi bagian dari persaingan pengaruh yang melibatkan Washington dan sejumlah pemerintah Arab.

Dukungan Trump Belum Sepenuhnya Pasti

Trump selama ini kerap menonjolkan hubungan jangka panjangnya dengan Netanyahu. Akan tetapi, ia juga beberapa kali melontarkan kritik terbuka terhadap cara pemimpin Israel itu menjalankan pemerintahan.

Bulan lalu, Trump menyatakan sangat mungkin kembali mendukung Netanyahu. Namun, ia mengatakan masih perlu melihat siapa saja kandidat yang akan maju dalam pemilihan umum Israel.

Trump juga memberi catatan terhadap kepemimpinan Netanyahu melalui pernyataan, “Saya memiliki hubungan yang baik dengan Bibi (Netanyahu), tetapi dia harus menjadi lebih rasional.” Pernyataan itu memperlihatkan bahwa dukungan Washington belum sepenuhnya lepas dari pertimbangan politik menjelang pemilu.

Bagi negara-negara Arab yang terlibat dalam pembicaraan, perubahan penilaian Trump terhadap Netanyahu dapat membuka atau justru menutup ruang diplomasi di Timur Tengah. Karena itu, desakan tertutup tersebut menjadi bagian penting dari dinamika menjelang pemilihan umum Israel.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait