Peralihan kabel dari tembaga ke aluminium kini makin terasa di industri otomotif global. Sejumlah pabrikan besar seperti Ferrari, BMW, Tesla, hingga produsen mobil listrik asal China mulai memakai material ini pada model-model terbaru mereka.
Perubahan tersebut didorong oleh dua hal utama, yaitu harga tembaga yang terus mahal dan tuntutan kendaraan yang lebih ringan. Di tengah dorongan efisiensi itu, aluminium mulai dipilih karena menawarkan bobot lebih rendah dan biaya produksi yang lebih murah.
Bobot kendaraan jadi pertimbangan utama
Di pasar mobil listrik, bobot kendaraan punya pengaruh langsung terhadap efisiensi. Mobil yang lebih ringan umumnya bisa menempuh jarak lebih jauh dalam sekali pengisian baterai.
Karena itu, penggunaan aluminium pada kabel kelistrikan dianggap relevan untuk mengejar efisiensi tanpa mengorbankan fungsi dasar kendaraan. Material ini juga menarik karena membantu menekan biaya produksi di saat harga tembaga melonjak tajam.
Harga aluminium saat ini berada di sekitar 3.100 dollar AS per ton, sedangkan harga tembaga sudah lebih dari empat kali lipatnya. Nexans menyebut banyak produsen mulai melirik aluminium ketika harga tembaga mencapai sekitar 3,5 kali lebih mahal, sementara saat ini selisihnya telah melampaui 4,2 kali lipat.
| Material | Harga per ton | Catatan |
|---|---|---|
| Aluminium | 3.100 dollar AS | Menjadi alternatif yang lebih murah |
| Tembaga | Lebih dari 4 kali lipat aluminium | Masih unggul dalam daya hantar listrik |
Ferrari dan BMW sudah lebih dulu bergerak
Ferrari menyebut sudah memakai kabel aluminium pada mobil sport hybrid 296 sejak tahun lalu. Material yang sama kemudian digunakan lagi pada Luce, mobil listrik pertama Ferrari yang meluncur bulan lalu.
Menurut Ferrari, penggunaan kabel aluminium dapat memangkas bobot keseluruhan sistem kelistrikan hingga 20 persen. Dario Esposito, eksekutif komunikasi Ferrari, mengatakan perusahaan memilih material yang memberi performa lebih baik, bukan semata karena lebih murah.
BMW juga bukan pemain baru dalam peralihan ini. Pabrikan Jerman tersebut telah memakai kabel aluminium sejak 2011 pada Seri 1 dan kemudian memperluas pemakaiannya ke mobil hybrid serta mobil listrik terbaru berbasis teknologi eDrive.
| Pabrikan | Model/Platform | Penggunaan Aluminium |
|---|---|---|
| Ferrari | 296 dan Luce | Kabel aluminium pada sistem kelistrikan |
| BMW | Seri 1 dan eDrive | Dipakai sejak 2011 dan diperluas ke model terbaru |
Tesla dan produsen China ikut mempercepat tren
Tesla mulai menggunakan kabel aluminium pada Model Y yang meluncur pada 2019, lalu menerapkannya lagi pada Cybertruck. Sejumlah produsen mobil listrik asal China juga lebih dulu mengadopsi material yang sama pada kendaraan mereka.
Di China, pergeseran ini bergerak lebih cepat karena pemerintah setempat mendorong industri mengurangi penggunaan tembaga melalui kebijakan yang diterbitkan pada 2025. Merek seperti Avatr, XPeng, dan Xiaomi kini telah memakai kabel aluminium.
Presiden Caresoft Global Terry Woychowski mengatakan banyak produsen otomotif China menjadikan Tesla sebagai acuan. Di sisi lain, Stellantis juga dilaporkan mulai mengganti sebagian kabel tembaganya dengan aluminium, meski belum memberi komentar resmi.
Dampaknya meluas ke rantai pasok
Perubahan di industri otomotif ikut terasa pada pemasok komponen. Perusahaan asal China, Jonver, mengatakan penjualan kabel aluminium naik dari sekitar 20 persen pada 2023 menjadi 30 persen dari total penjualannya tahun ini.
Produsen aluminium asal Norwegia, Hydro, juga menyebut permintaan aluminium pengganti tembaga terus meningkat di berbagai sektor industri. Kenaikan kebutuhan itu tidak hanya datang dari otomotif, tetapi juga dari sektor lain yang mencari bahan lebih ekonomis.
Pada saat yang sama, pasar tembaga mendapat tekanan tambahan dari luar industri mobil. Tembaga kini banyak dibutuhkan untuk pembangkit energi terbarukan dan pusat data, sehingga permintaan melonjak dan mendorong pencarian material pengganti.
Belum bisa menggantikan tembaga sepenuhnya
Meski penggunaannya makin luas, aluminium belum sepenuhnya mampu menggantikan tembaga. Daya hantar listrik aluminium masih berada di bawah tembaga, sehingga kabel aluminium harus dibuat lebih besar untuk menghantarkan arus yang sama.
Pada komponen tertentu yang membutuhkan konduktivitas tinggi, produsen tetap memilih tembaga. Selain itu, proses produksi aluminium membutuhkan energi lebih besar sehingga menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi.
Karena alasan itulah, peralihan dari tembaga ke aluminium tidak terjadi secara seragam di seluruh bagian kendaraan. Pabrikan cenderung memilih aplikasi yang paling tepat agar penghematan biaya dan pengurangan bobot tetap tercapai tanpa mengorbankan fungsi.
