AMOC Melemah, Gumpalan Dingin di Atlantik Bisa Memicu Dampak ke Indonesia

Author: Redaksi Android62

Gumpalan air dingin yang muncul di Samudra Atlantik utara kini dipandang sebagai tanda bahwa sistem arus laut raksasa pengatur iklim dunia sedang melemah. Pendinginan itu tidak hanya terlihat di permukaan, tetapi juga menjalar hingga kedalaman 1.000 meter di bawah laut.

Analisis data suhu dari 1995 hingga 2024 menunjukkan penurunan suhu di wilayah tenggara Greenland tersebut, sehingga para ilmuwan menilai penyebabnya kecil kemungkinan berasal dari angin atau pengaruh atmosfer lapisan atas. Temuan ini mengarah pada perubahan arus laut sebagai sumber utama gangguan.

AMOC jadi sorotan utama

Fenomena itu berkaitan dengan pelemahan AMOC atau Atlantic Meridional Overturning Circulation. Sistem ini bekerja layaknya “jantung peredaran panas” Bumi karena membawa air hangat dari wilayah tropis ke Atlantik Utara, lalu air yang mendingin tenggelam dan mengalir kembali ke selatan.

Stefan Rahmstorf dari Institut Dampak Iklim Potsdam, Jerman, menyebut kehilangan panas di permukaan hanya menjelaskan sebagian kecil dari pendinginan tersebut. Menurut dia, data terbaru menunjukkan sumber utamanya berada lebih dalam, bukan di udara.

Dampaknya tidak berhenti di Atlantik

Para ilmuwan menilai AMOC tidak hanya memindahkan panas, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan suhu dan pola hujan di berbagai wilayah dunia. Jika aliran ini melemah tajam, dampaknya bisa meluas ke banyak benua.

Keruntuhan penuh AMOC diperkirakan dapat memicu musim dingin yang jauh lebih dingin di Eropa, kenaikan permukaan air laut di pesisir timur Amerika Serikat, serta perubahan pola hujan di wilayah tropis yang dapat mengganggu musim tanam dan pasokan pangan.

Risiko yang bisa sampai ke Indonesia

Meski gangguan berawal ribuan kilometer dari Indonesia, pemodelan iklim terbaru menunjukkan efek berantainya dapat menjangkau Asia Tenggara. Jalurnya melalui perubahan sirkulasi atmosfer dan laut yang ikut bergeser akibat pelemahan AMOC.

Salah satu dampak yang diperkirakan adalah pergeseran Zona Konvergensi Antar Tropis atau IKCZ ke arah selatan. Jika jalur utama pembawa hujan di kawasan khatulistiwa itu bergeser, Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang.

Perubahan pola curah hujan juga meningkatkan risiko gagal panen dan kekeringan, terutama di wilayah pertanian utama. Pada saat yang sama, sirkulasi laut yang berubah dapat memengaruhi Arus Lintas Indonesia atau ITF, yang berperan penting dalam distribusi suhu dan nutrisi di ekosistem laut lokal.

Gangguan iklim global masih terus dipantau

Rahmstorf menegaskan bahwa perubahan iklim di Atlantik bukan persoalan lokal. Ia menilai gangguan itu dapat memicu gelombang atmosfer yang merambat ke Samudra Hindia dan Pasifik, lalu mengubah pola angin serta hujan di Indonesia.

Para ilmuwan menyebut AMOC saat ini belum runtuh total, tetapi trennya menunjukkan pelemahan yang konsisten sejak pertengahan abad ke-20. Jika emisi gas rumah kaca tetap tinggi, model memprediksi risiko keruntuhan bisa meningkat tajam mulai tahun 2055 hingga akhir abad ini.

David Thornalley dari University College London menyebut gumpalan dingin itu sebagai peringatan keras, bukan tanda akhir. Menurut dia, sistem pengatur iklim sedang tertekan berat, tetapi masih ada kesempatan untuk memperlambat kerusakan itu dengan menekan emisi sekarang.

Istilah Fungsi Dampak yang Disorot
AMOC Arus laut raksasa pengatur distribusi panas Jika melemah, pola suhu dan hujan dapat berubah luas
IKCZ Jalur utama pembawa hujan di kawasan khatulistiwa Pergeseran ke selatan berisiko membuat kemarau lebih kering dan panjang di Indonesia
ITF Arus Lintas Indonesia yang memengaruhi laut regional Perubahan sirkulasi dapat mengganggu distribusi suhu dan nutrisi
Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru