Anak yang lebih banyak berada di dalam rumah dan jarang mendapat paparan cahaya alami berisiko lebih tinggi mengalami miopia atau mata minus, bahkan sebelum usia 8 tahun. Risiko itu makin besar ketika waktu anak diisi aktivitas jarak dekat yang intensif, seperti bermain gawai, membaca, atau belajar terlalu lama.
Premiopia Perlu Dikenali Lebih Awal
Dalam Scientific and Clinical Forum 2026 yang digelar EssilorLuxottica di Jakarta, Ketua PERDAMI Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan bahwa premiopia adalah fase ketika mata anak belum minus, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke miopia. Tahap ini dinilai sebagai momen paling tepat untuk melakukan intervensi sebelum kondisi berkembang lebih jauh.
Dr. Julie menyebut anak di bawah usia 8 tahun dengan hiperopia yang hampir hilang, terutama dari etnis Asia, serta memiliki riwayat keluarga miopia, masuk kelompok yang perlu diawasi lebih ketat. Jika kondisi itu dibarengi aktivitas luar ruangan yang terbatas dan paparan matahari yang minim, peluang terjadinya miopia progresif menjadi lebih besar.
Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Secara normal, anak usia 6 hingga 7 tahun masih memiliki cadangan rabun dekat sekitar +1 hingga +1,5 dioptri. Jika angka itu lebih rendah atau menghilang terlalu cepat, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahaya bahwa anak berada di jalur menuju miopia progresif.
| Faktor Risiko | Keterangan |
|---|---|
| Usia | Di bawah 8 tahun |
| Riwayat mata | Hiperopia yang hampir hilang lebih cepat dari seharusnya |
| Lingkungan | Aktivitas luar ruangan terbatas dan paparan matahari minim |
| Perilaku | Aktivitas jarak dekat intensif seperti gawai, belajar, atau membaca lama |
Waktu di Luar Rumah Masih Jadi Kunci
Perubahan pola hidup ikut memperkuat risiko tersebut. Jadwal sekolah yang lebih padat membuat banyak anak pulang lebih sore, lalu langsung melanjutkan les atau kegiatan lain sehingga waktu bermain di luar rumah semakin berkurang.
Dr. Julie menilai pola harian seperti ini mendorong anak lebih sering berada dalam aktivitas sedentari. Temuan itu sejalan dengan perhatian World Health Organization pada 2021 terhadap tingginya waktu menatap layar dan gaya hidup tidak aktif yang berdampak pada kesehatan mata serta kesehatan umum.
International Myopia Institute juga memperbarui panduan klinisnya pada 2023. Lembaga itu menyebut peningkatan waktu bermain di luar ruangan sebagai salah satu intervensi paling konsisten untuk menurunkan risiko miopia pada anak.
IMI merekomendasikan anak menghabiskan setidaknya dua jam setiap hari di luar ruangan untuk membantu menekan risiko tersebut. Anjuran ini menegaskan bahwa pencegahan mata minus tidak hanya soal membatasi gawai, tetapi juga memberi ruang lebih besar bagi anak untuk bergerak dan menerima paparan cahaya alami.
Source: www.suara.com
Source: www.suara.com






