Anak Menolak Berpisah dari Orang Tua, Ini Tanda Daycare Tak Lagi Terasa Aman

Ketika anak tiba-tiba menolak berangkat ke daycare, perubahan itu sebaiknya tidak dianggap remeh. Respons seperti ini bisa menjadi tanda awal bahwa ada pengalaman tidak nyaman yang sedang dialami anak, termasuk kemungkinan kekerasan di tempat penitipan.

Kasus daycare di Yogyakarta kembali membuat perhatian publik tertuju pada risiko kekerasan terhadap anak di lingkungan yang seharusnya aman. Psikolog dari Kasandra & Associates, A Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa anak yang mengalami kekerasan sering memperlihatkan perubahan perilaku, emosi, dan fisik dalam waktu yang berdekatan, meski tidak selalu mampu menceritakan penyebabnya dengan jelas.

Perubahan yang paling mudah terlihat

Anak kecil kerap menunjukkan ketidaknyamanan lewat sikap harian, bukan lewat penjelasan panjang. Karena itu, orang tua perlu waspada saat anak yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi takut, menarik diri, atau menolak pergi ke daycare tanpa alasan yang jelas.

Tanda lain yang juga penting adalah munculnya penolakan berulang untuk berpisah dari orang tua. Di sejumlah kasus, anak menjadi sangat bergantung, lebih mudah menangis, atau justru tampak lebih agresif dari biasanya.

Sinyal emosi yang tidak boleh diabaikan

Kekerasan dapat mengganggu kestabilan emosi anak dan membuat reaksinya terlihat tidak sebanding dengan situasi. Kasandra menyebut trauma bisa memunculkan kecemasan yang lebih tinggi, suasana hati yang berubah cepat, hingga mimpi buruk yang berulang.

Hal seperti menangis berlebihan atau mendadak sangat sulit ditenangkan juga perlu dicermati. Jika perilaku tersebut muncul bersamaan dengan penolakan ke daycare, orang tua perlu melihatnya sebagai sinyal yang layak diperhatikan lebih jauh.

Tanda fisik yang dapat menyertai

Selain perubahan emosi dan perilaku, ada pula gejala fisik yang sebaiknya dicatat. Memar tanpa penjelasan yang jelas, gangguan tidur, dan perubahan pola makan termasuk tanda yang perlu dipantau dengan serius.

Menurut Kasandra, anak kecil sering menyalurkan trauma melalui perilaku, bukan lewat kata-kata. Karena itu, perubahan fisik yang berlangsung bersamaan dengan sikap yang berbeda dari biasanya bisa menjadi petunjuk penting adanya masalah yang lebih besar.

Cara merespons dengan tepat

Saat kecurigaan mulai muncul, pendekatan orang tua sangat menentukan. Anak tidak sebaiknya langsung dibombardir dengan pertanyaan yang terasa mengintimidasi, karena hal itu justru bisa membuatnya makin takut untuk terbuka.

Komunikasi yang tenang dan hangat lebih dibutuhkan agar anak merasa aman. Pertanyaan terbuka dengan nada yang tidak menghakimi dapat membantu anak berbicara ketika sudah siap, tanpa merasa dipaksa menjawab saat itu juga.

Di saat yang sama, pengamatan perlu dilakukan secara rapi. Catatan mengenai perubahan perilaku, kondisi emosi, dan tanda fisik dapat membantu saat orang tua meminta klarifikasi kepada pihak daycare atau pihak lain yang terkait.

Bila tanda makin kuat

Jika indikasi kekerasan terus menguat, orang tua dapat mempertimbangkan pelaporan ke lembaga berwenang seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Langkah yang cepat dinilai penting agar risiko trauma tidak semakin berat pada anak.

Perhatian juga perlu tetap diarahkan pada rasa aman di rumah. Dengan komunikasi yang suportif, pemantauan yang cermat, dan tindak lanjut yang tepat, anak mendapat ruang yang lebih baik untuk merasa terlindungi ketika menghadapi perubahan yang membuatnya takut pergi ke daycare.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait