Ancaman Rudal Houthi Mengarah ke Minyak Saudi, Riyadh Pertimbangkan Serangan Balik

Fasilitas minyak dan instalasi vital Arab Saudi berpotensi menjadi sasaran rudal serta drone Houthi apabila Riyadh kembali terlibat dalam serangan ke Yaman. Ancaman ini muncul ketika Arab Saudi dilaporkan tengah mempertimbangkan operasi militer ofensif terhadap kelompok tersebut.

Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi menyampaikan ancaman itu dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis (16/7). Ia mengatakan seluruh fasilitas minyak Saudi dan instalasi vital akan menjadi target jika Riyadh kembali menyerang Yaman.

Al-Houthi juga menyatakan, “Bandara untuk bandara, pelabuhan untuk pelabuhan, dan blokade untuk blokade.” Pernyataan tersebut memperlihatkan potensi serangan balasan terhadap titik-titik penting Saudi jika konflik kembali terbuka.

Risiko bagi jalur ekspor energi

Ancaman terhadap infrastruktur Saudi menjadi lebih penting karena Laut Merah merupakan jalur utama bagi ekspor minyak negara itu. Ketegangan berlangsung saat konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat, sehingga keamanan jalur energi regional kembali menjadi perhatian.

Sejak Iran berupaya menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, sekitar 4,5 juta barel minyak Saudi per hari dikirim melalui Pipa Timur-Barat. Pipa tersebut mengarah ke Laut Merah dan menjadi bagian penting dari pergerakan ekspor minyak Arab Saudi.

PeristiwaPihak TerkaitRincian
Serangan di AbhaHouthiRudal dan drone diluncurkan ke kota di barat daya Saudi.
Pengeboman Bandara SanaaPemerintah YamanLandasan pacu diserang untuk mencegah pesawat dari Iran mendarat.
Ancaman fasilitas vitalAbdul Malik al-HouthiFasilitas minyak, bandara, dan pelabuhan Saudi disebut dapat menjadi target.

Riyadh Belum Menetapkan Keputusan Akhir

Sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Timur Tengah mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman memberi isyarat Washington telah memberikan lampu hijau untuk operasi ofensif. Namun, para pemimpin Saudi disebut belum mengambil keputusan akhir mengenai rencana tersebut.

Seorang pejabat AS dan pejabat dari negara Barat juga menyebut pembahasan serangan memperlihatkan perbedaan pandangan di lingkungan kerajaan Saudi. Perdebatan itu berpusat pada pilihan membuka kembali perang atau tetap menjaga jalur diplomasi dengan Houthi.

Mohammed Al Basha, pakar Yaman yang berbasis di AS, menilai tidak ada jalan keluar yang mudah dalam konflik ini. Kepada Middle East Eye, ia mengatakan kesepakatan damai dengan Houthi dapat menuntut miliaran dolar sebagai ganti rugi, sedangkan kembalinya perang hanya memberi peluang kemenangan 50-50 bagi Arab Saudi.

Serangan Abha dan Perselisihan Penerbangan Sanaa

Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke Kota Abha pada pekan ini, tetapi Saudi menyatakan seluruh serangan telah dicegat. Kelompok tersebut menyebut aksi di Abha sebagai balasan atas pengeboman landasan pacu Bandara Sanaa pada 13 Juli.

Houthi menuduh serangan bandara dilakukan untuk mencegah pesawat dari Iran yang membawa pejabat mereka mendarat di ibu kota Yaman. Pemerintah resmi Yaman yang didukung Saudi mengaku bertanggung jawab atas serangan itu dan menyatakan penerbangan tersebut melanggar kedaulatan Yaman.

Pesawat tersebut disebut membawa pejabat Houthi yang menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Penerbangan menuju Sanaa umumnya hanya datang dari Amman di Yordania dan Kairo di Mesir, sehingga perselisihan ini menjadi pemicu baru di tengah hubungan yang kembali memanas.

Gencatan senjata antara Saudi dan Houthi telah berlangsung selama empat tahun, tetapi situasinya tetap rapuh. Eskalasi baru dikhawatirkan bukan hanya memperbesar ancaman terhadap fasilitas energi Saudi, melainkan juga memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terkait