Ancaman Selat Hormuz Memicu Lonjakan Minyak, Pasar Global Kian Waspada

Author: Redaksi Android62

Pasar energi global kembali terguncang setelah Iran menangguhkan dialog dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung. Reaksi paling cepat terlihat pada minyak mentah, yang sempat melesat tajam dan langsung mengubah sentimen investor di berbagai pasar.

Pada perdagangan Senin (1/6), West Texas Intermediate atau WTI sempat naik 8,5% hingga mendekati US$95 per barel. Brent juga bergerak 7,3% menjadi lebih dari US$97 per barel, menandakan kekhawatiran pelaku pasar atas potensi terganggunya pasokan energi dunia.

Kekhawatiran menumpuk di jalur pengiriman strategis

Fokus utama pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sangat penting bagi arus perdagangan energi global. Iran dilaporkan menangguhkan pertukaran pesan melalui mediator sebagai bentuk protes atas meluasnya serangan militer Israel di Libanon.

Teheran juga disebut mempertimbangkan penutupan total Selat Hormuz dan membuka front lain, termasuk Selat Bab el-Mandeb di lepas pantai Yaman. Kedua jalur itu memegang peran besar dalam distribusi energi internasional, sehingga setiap ancaman di kawasan tersebut cepat mendorong respons pasar.

Strategis HSBC menilai penutupan sebagian Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pengamat komoditas. Bank itu menyebut pasar masih mampu menyerap guncangan karena inventaris yang tinggi, tetapi penutupan yang berlangsung lama dapat menguras cadangan hingga titik kritis dan memicu lonjakan harga yang lebih tajam.

Kenaikan tidak hanya terjadi pada minyak mentah

Tekanan di pasar energi juga merembet ke komoditas lain. Harga minyak pemanas atau heating oil naik 7%, sementara harga gas grosir bertambah 4%.

Di sisi lain, harga bensin eceran sempat turun US$0,24 dari puncaknya tahun ini. Meski begitu, rata-ratanya masih 44% lebih tinggi dibandingkan periode sebelum perang pecah, sehingga beban biaya energi tetap terasa di banyak pasar.

Dampak merambat ke obligasi dan saham

Gejolak harga energi ikut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10-tahun naik dari 4,4% menjadi 4,51%, sedangkan tenor 30-tahun bergerak dari 4,97% ke 5,02%.

Di bursa saham AS, indeks utama bergerak lebih lemah, meski penurunannya masih relatif terbatas. Tekanan pada S&P 500 dan Nasdaq tertahan oleh penguatan saham-saham kecerdasan buatan setelah pengumuman produk baru dari Nvidia, sementara Russell 2000 yang berisi saham perusahaan kecil turun 1% pada perdagangan pagi.

Bursa Eropa ikut tertekan

Di luar Amerika Serikat, pasar saham Eropa justru mengalami tekanan yang lebih jelas. Indeks acuan di Prancis, Inggris, dan Italia masing-masing turun sekitar 1%, sedangkan indeks pan-Eropa Stoxx 600 melemah 1,1%.

Investor kini menunggu arah berikutnya dari konflik di Timur Tengah karena ketiadaan jalur diplomasi yang jelas berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi. Pasar masih sangat sensitif terhadap setiap sinyal baru dari Iran, Amerika Serikat, maupun dinamika militer di kawasan.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru