Ancaman Suku Bunga Tinggi dan Ketegangan Iran Menahan Emas, Support Kunci Mulai Diuji

Author: Redaksi Android62

Emas dunia menutup pekan dengan tekanan yang masih terasa kuat, meski sempat menguat tipis pada perdagangan terakhir. Pada penutupan tersebut, harga emas spot berada di US$ 4.709,27 per troy ons atau naik 0,24 persen dari hari sebelumnya, tetapi secara mingguan tetap terkoreksi 2,57 persen.

Pergerakan itu memperlihatkan bahwa emas belum mampu menemukan pijakan yang kokoh. Di saat pasar biasanya menempatkan logam mulia sebagai pelindung nilai, kali ini dua sentimen besar justru membuat arah harga sulit pulih, yakni ketegangan geopolitik dan ekspektasi suku bunga global yang masih tinggi.

Tekanan datang dari Timur Tengah

Faktor yang paling membebani pasar emas masih berkaitan dengan situasi Iran. Ketegangan yang belum mereda sejak akhir Februari ikut mendorong harga energi dunia, termasuk minyak jenis brent yang sempat menyentuh US$ 105,33 per barel.

Lonjakan harga minyak memunculkan kekhawatiran inflasi energi yang lebih luas. Bila tekanan inflasi tidak turun, bank sentral berpeluang mempertahankan suku bunga acuan lebih lama, dan kondisi seperti itu cenderung kurang bersahabat bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.

Jalur diplomasi belum memberi kepastian

Di tengah memanasnya situasi, pasar juga mencermati langkah diplomatik dari Amerika Serikat. Donald Trump disebut mengutus Steve Witkoff dan Kushner ke Pakistan untuk bertemu petinggi Iran, tetapi upaya itu belum menghasilkan sinyal positif dari Teheran.

Iran disebut masih enggan membuka ruang dialog perdamaian. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga dijadwalkan menuju Pakistan dalam waktu dekat, namun kantor berita Tasnim menyebut kunjungan itu bukan untuk berkomunikasi dengan delegasi dari Washington.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar sulit membaca apakah tensi kawasan akan mereda atau justru bertahan. Selama belum ada kepastian yang menenangkan pasar, emas tetap sensitif terhadap setiap perkembangan dari Timur Tengah.

Sinyal teknikal belum sepenuhnya rusak

Walaupun performa mingguan melemah, gambaran teknikal emas masih menyisakan ruang optimistis dalam jangka pendek. Relative Strength Index atau RSI 14 hari berada di level 55 dan masih masuk zona bullish.

Sementara itu, Stochastic RSI berada di level 15 yang mengindikasikan kondisi jenuh jual atau oversold. Bagi sebagian pelaku pasar, posisi ini kerap dibaca sebagai tanda bahwa tekanan jual sudah cukup dalam, meski arah berikutnya tetap bergantung pada sentimen fundamental yang berkembang.

Level yang jadi perhatian pasar

Dalam pekan berikutnya, pasar akan menyoroti area resisten terdekat di US$ 4.749 per troy ons pada Moving Average 20. Jika harga mampu melewati pivot US$ 4.788, emas berpeluang menguji US$ 4.852 dan membuka jalan menuju target optimistis di US$ 5.199 per troy ons.

Namun, ruang pelemahan juga masih terbuka jika tekanan jual kembali dominan. Support terdekat berada di US$ 4.694 per troy ons, disusul US$ 4.686 bila koreksi berlanjut, sebelum kemungkinan turun lebih dalam ke US$ 4.441 per troy ons.

Dengan kombinasi ketegangan Iran, kenaikan harga minyak, dan harapan suku bunga yang belum banyak berubah, emas memasuki pekan baru dalam posisi yang masih rapuh. Arah harga berikutnya akan sangat bergantung pada apakah pasar menerima tanda-tanda mereda dari konflik atau justru kembali menghadapi gelombang volatilitas dari aset safe haven ini.

Berita Terbaru