Perbedaan antara Andes virus dan Seoul virus menjadi penting karena keduanya sama-sama hantavirus, tetapi hanya Andes virus yang diketahui dapat menular antarmanusia. Pada wabah di kapal pesiar MV Hondius, perbedaan itu langsung menjadi sorotan karena kasusnya berujung pada kematian dan menyebar lintas negara.
Andes virus menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome atau HPS, yaitu gangguan pernapasan berat yang bisa berkembang cepat. Gejalanya dapat diawali demam, nyeri otot terutama di paha, pinggul, dan punggung, lemas, serta gangguan pencernaan, lalu memburuk menjadi sesak napas berat, gagal napas, hingga syok.
Penularan Andes virus biasanya terjadi lewat kontak dekat dan berkepanjangan. CDC menyebut penularannya dapat terjadi melalui berciuman, berbagi peralatan makan, atau terkena cairan tubuh penderita.
WHO menerima laporan klaster penyakit pernapasan akut berat di antara penumpang MV Hondius pada Sabtu (2/5/2026). Kapal berbendera Belanda itu membawa 147 penumpang dan awak, sementara 34 orang lain sudah turun di berbagai pelabuhan sebelum wabah terdeteksi.
WHO kemudian mengonfirmasi pada Rabu (6/5/2026) bahwa wabah tersebut disebabkan oleh Andes virus. Hingga Sabtu (9/5/2026), WHO melaporkan delapan kasus yang dicurigai, enam di antaranya terkonfirmasi, dengan tiga kematian.
Dua korban meninggal itu telah dipastikan terinfeksi Andes virus. Pasien tersebar di enam negara, termasuk Afrika Selatan, Swiss, Jerman, dan Belanda.
CDC menetapkan wabah itu sebagai respons darurat tingkat tiga, yang menjadi level kesiagaan tertinggi dalam sistem mereka. Penetapan ini menunjukkan betapa seriusnya perhatian lembaga kesehatan terhadap penyebaran kasus tersebut.
Berbeda dengan Andes virus, Seoul virus lebih banyak ditemukan di Indonesia dan sejumlah negara Asia. Virus ini dibawa oleh tikus cokelat atau tikus Norway (Rattus norvegicus) serta tikus hitam (Rattus rattus), dua hewan yang hidup dekat dengan permukiman manusia.
Paparan terhadap Seoul virus biasanya terjadi lewat urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Risiko juga muncul saat debu yang tercemar terhirup, terutama ketika seseorang membersihkan area yang terdapat kotoran tikus.
Penyakit yang ditimbulkan Seoul virus juga berbeda. Virus ini menyebabkan hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS, yaitu demam berdarah dengan sindrom ginjal.
Gejala infeksi Seoul virus dapat berupa demam, sakit kepala, bintik-bintik pada kulit, dan gangguan ginjal. Gangguan itu bisa berkembang menjadi pembengkakan ginjal, meningkatnya protein dalam urine, darah dalam urine, hingga berkurangnya produksi urine.
Pada kasus berat, infeksi Seoul virus dapat menyebabkan gagal ginjal. Namun, tingkat kematiannya jauh lebih rendah dibandingkan Andes virus, dengan fatalitas diperkirakan sekitar 1% hingga 2%.
Di Indonesia, hantavirus juga sudah dilaporkan sejak 2024 dengan total 23 kasus dan tiga kematian. Karena itu, penting untuk tidak menyamakan wabah di MV Hondius dengan kasus yang tercatat di dalam negeri.
Hingga kini, baik Andes virus maupun Seoul virus belum memiliki vaksin atau obat antivirus yang disetujui secara luas. Penanganannya masih bergantung pada terapi suportif, termasuk istirahat, menjaga asupan cairan, dan meredakan gejala sedini mungkin.
Untuk HPS berat akibat Andes virus, prosedur extra-corporeal membrane oxygenation atau ECMO disebut dapat meningkatkan peluang bertahan hidup hingga sekitar 80% jika dilakukan lebih awal. Sementara itu, pada infeksi Seoul virus, obat antivirus Ribavirin disebut dapat membantu menurunkan tingkat keparahan penyakit dan risiko kematian bila diberikan sejak awal infeksi.
Source: www.beritasatu.com






