Pasokan BBM subsidi di Jawa Timur kini berada dalam kondisi aman setelah antrean kendaraan di sejumlah SPBU mulai berkurang. Pertamina Patra Niaga bersama BPH Migas menyebut distribusi Biosolar sudah kembali normal dan tidak lagi mengganggu aktivitas masyarakat.
Stabilnya suplai itu terjadi setelah pemantauan terpadu dilakukan di seluruh rantai distribusi, mulai dari Terminal BBM hingga SPBU. Pengawasan tersebut berlangsung pada 1–2 Juli 2026 dan melibatkan Kepala BPH Migas, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian ESDM, Wakil Ketua Ombudsman RI, serta jajaran manajemen Pertamina Patra Niaga.
Antrean di titik prioritas mulai terurai
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menyebut kondisi distribusi BBM subsidi di Jawa Timur sudah berangsur stabil. Ia mengatakan antrean kendaraan di SPBU yang sebelumnya menjadi perhatian kini turun signifikan.
Menurut Wahyudi, antrean yang tersisa tinggal sekitar lima hingga enam truk sasis panjang dan tidak lagi mengganggu rutinitas masyarakat. Beberapa titik yang sempat terdampak berada di kawasan Tol Surabaya–Gempol KM 26, Tambak Osowilangun, Tambak Langon, dan Kebomas, Gresik.
| Lokasi yang Sempat Terdampak | Kondisi Terkini | Keterangan |
|---|---|---|
| Tol Surabaya–Gempol KM 26 | Antrean menurun | Termasuk titik prioritas pengawasan |
| Tambak Osowilangun | Antrean menurun | Distribusi berangsur normal |
| Tambak Langon | Antrean menurun | Dipantau bersama SPBU lain di wilayah padat logistik |
| Kebomas, Gresik | Antrean menurun | Masih dalam pengawasan distribusi |
Lonjakan permintaan dipicu logistik dan libur sekolah
Kenaikan konsumsi Biosolar sebelumnya muncul seiring tingginya aktivitas distribusi barang di Surabaya dan Gresik. Kedua wilayah itu menjadi jalur utama menuju Pelabuhan Tanjung Perak sehingga kebutuhan BBM subsidi ikut terdorong naik.
Pada 22–26 Juni 2026, arus kendaraan logistik tercatat meningkat tajam dan memperbesar tekanan pada sejumlah SPBU. Di saat yang sama, mobilitas masyarakat selama libur sekolah juga ikut menambah permintaan energi di berbagai wilayah Jawa Timur.
Situasi itu membuat Pertamina Patra Niaga mempercepat langkah distribusi di lapangan. Perusahaan mengoperasikan mobil tangki selama 24 jam, mempercepat pengiriman, dan memperbesar skema alih suplai dari terminal BBM terdekat.
Pasokan dipantau ketat hingga SPBU
Executive General Manager Regional Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, Iwan Yudha Wibawa, mengatakan volume distribusi bahkan dinaikkan hingga dua kali lipat pada sejumlah wilayah prioritas. Langkah itu ditempuh agar kebutuhan masyarakat dapat segera terpenuhi.
Pertamina Patra Niaga juga menggunakan early warning system untuk memantau stok BBM di seluruh SPBU dan mendeteksi lonjakan permintaan lebih dini. Di sisi lain, perusahaan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Satlantas untuk menjaga kelancaran arus kendaraan di sekitar SPBU.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi, menegaskan pasokan energi di Jawa Timur berada dalam kondisi aman. Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan menggunakan BBM secara bijak sesuai kebutuhan.
Pertamina dan BPH Migas memastikan pengawasan distribusi BBM subsidi akan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan. Pengawasan ini dinilai penting terutama ketika aktivitas logistik dan mobilitas masyarakat meningkat selama musim liburan.
